Selamatan Sisir ke-192, Wali Kota Batu Soroti Ancaman Penyusutan Debit Mata Air

2256114_11zon

Batu | Serulingmedia.com – Penyusutan debit mata air di Kota Batu menjadi perhatian serius dalam Selamatan Kelurahan Sisir ke-192 Tahun 2026.

Wali Kota Batu Nurochman mengajak masyarakat memperkuat gotong royong dan menjaga kelestarian sumber air sebagai bagian dari upaya merawat lingkungan dan warisan budaya.

Ajakan tersebut disampaikan Nurochman dalam kegiatan Jagong Gayeng bertema “Nyawiji Angrumat Beninge Pertirtan” yang berlangsung di Graha Wangsa, Kelurahan Sisir, Kamis malam (29/10/2026).

Kegiatan itu dihadiri Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto dan Ketua DPRD Kota Batu Didik Subianto.

Nurochman mengapresiasi konsistensi masyarakat Sisir yang terus melestarikan tradisi selamatan sebagai ruang kebersamaan, rasa syukur, sekaligus sarana memperkuat jati diri masyarakat di tengah perkembangan Kota Batu.

Menurut dia, perubahan wilayah menjadi kota membawa konsekuensi berupa pertumbuhan penduduk, pembangunan, dan perubahan fungsi lahan.

Namun, perkembangan tersebut tidak boleh menghilangkan karakter masyarakat yang menjunjung kerukunan dan gotong royong.

“Walaupun sudah tumbuh dan berkembang menjadi sebuah kota, keguyuban warga masih terasa sangat kuat. Kebiasaan berkumpul, ngobrol, minum kopi bersama, dan saling mengevaluasi harus tetap kita lestarikan sebagai tradisi yang baik,” ujar Nurochman.

Ia menegaskan, kekuatan tradisi tidak semata-mata diukur dari usia penyelenggaraannya, tetapi juga dari nilai-nilai yang terus hidup di tengah masyarakat.

Semangat kebersamaan itu, kata dia, harus diwujudkan dalam kepedulian terhadap lingkungan, termasuk menjaga sumber mata air.

Debit mata air menyusut

Nurochman mengakui sejumlah sumber mata air di Kota Batu mengalami penurunan debit akibat kemarau panjang.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bersama, baik bagi pemerintah, pengelola air, maupun masyarakat yang bergantung pada sumber air untuk kebutuhan sehari-hari.

Ia meminta seluruh pihak memperkuat upaya perlindungan sumber mata air sekaligus memastikan pemanfaatannya dilakukan secara bijak.

“Bagaimana kita terus merawat sumber mata air dan memanfaatkannya untuk kepentingan masyarakat. Ini menjadi tantangan kita saat ini,” ujarnya.

Persoalan air juga mendapat perhatian dalam sesi dialog warga. Ketua RT 5, Muhajir, menyampaikan bahwa penurunan debit air di Kota Batu perlu ditangani melalui koordinasi antara pemerintah, pengelola air, dan masyarakat.

Sementara itu, perwakilan Lembaga Adat Kelurahan Sisir, Roni, menyinggung peluang pemanfaatan program tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) untuk mendukung kegiatan masyarakat dalam merawat lingkungan.

PDAM usulkan 25 sumur resapan per RT
Direktur PDAM Kota Batu Ahmad Yusuf menyampaikan, upaya menghadapi ancaman kekeringan perlu dilakukan melalui langkah nyata yang melibatkan pemerintah dan masyarakat.

Ia menjelaskan, Kota Batu memiliki lebih dari 14 sumber air yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sumber daya tersebut juga menopang kebutuhan air di 11 desa dan empat wilayah kabupaten/kota di Jawa Timur.

Karena itu, menurut Yusuf, pengelolaan sumber air perlu dilakukan secara terencana agar kebutuhan masyarakat Kota Batu tetap menjadi perhatian, tanpa mengabaikan pemanfaatan air untuk wilayah lain.

Salah satu solusi jangka pendek yang diusulkannya ialah pembangunan sumur resapan sederhana di lingkungan permukiman.

Langkah ini diharapkan dapat mengurangi aliran air hujan yang langsung terbuang ke selokan dan sungai, sekaligus meningkatkan resapan air ke dalam tanah.

“Kalau satu RT bisa membuat sekitar 25 titik sumur resapan, air hujan bisa langsung masuk dan meresap ke dalam tanah. Ini menjadi langkah sederhana yang bisa kita mulai bersama,” kata Yusuf.

Menurut dia, pembangunan sumur resapan dapat menjadi langkah cepat untuk membantu menjaga cadangan air tanah.

Sementara itu, upaya jangka panjang perlu dilakukan melalui penanaman pohon, reboisasi, perlindungan kawasan sumber air, serta kolaborasi lintas sektor.

Yusuf menilai, dampak penanaman pohon terhadap ketersediaan air membutuhkan waktu sekitar lima hingga sepuluh tahun. Karena itu, masyarakat perlu menjalankan langkah jangka pendek dan jangka panjang secara bersamaan.

Ia juga mendorong pengkajian potensi sumber air, termasuk Sumber Torong, untuk memperkuat cadangan air dan memenuhi kebutuhan masyarakat pada masa mendatang.

Selamatan menjadi ruang dialog warga
Selain membahas pelestarian sumber air, Jagong Gayeng menjadi ruang bagi warga untuk menyampaikan aspirasi mengenai kebutuhan lingkungan.

Partiningsih, warga RT 02, menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan untuk pembangunan pos keamanan lingkungan (pos kamling) di wilayahnya.

Dukungan tersebut, menurut dia, membantu meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga keamanan lingkungan.

Melalui Selamatan Kelurahan Sisir ke-192, pemerintah dan masyarakat diharapkan tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga menjadikannya momentum untuk membangun kesadaran bersama dalam menghadapi persoalan lingkungan.

Semangat nyawiji atau bersatu perlu diwujudkan melalui tindakan nyata: menjaga sumber mata air, memperbanyak resapan air hujan, melestarikan lingkungan, dan memperkuat gotong royong.

Dengan demikian, tradisi yang telah berlangsung hampir dua abad itu tidak sekadar menjadi perayaan tahunan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa keberlanjutan Kota Batu bergantung pada kemampuan masyarakat merawat alam dan menjaga warisan budaya.(Eno).