Prof Dr. Muhammad Syamsul Ulum: Pendidikan Bahasa Arab Harus Berdampak bagi Masyarakat

PROF MUHAMMAD SYAMSUL.jpeg2_11zon

Malang I Serulingmedia.com – Pengembangan Pendidikan Bahasa Arab di perguruan tinggi tidak cukup diukur dari banyaknya lulusan doktor, publikasi ilmiah, maupun penelitian yang dihasilkan. Lebih dari itu, capaian akademik harus mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas pembelajaran dan kompetensi berbahasa Arab di masyarakat.

Pandangan tersebut menjadi refleksi Prof. Dr. Mohammad Samsul Ulum, M.A., Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, dalam momentum Dies Natalis ke-65 atau Lustrum XIII kampus tersebut.

Dalam refleksinya bertajuk Menata Pendidikan Bahasa Arab Indonesia melalui UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, ia menekankan pentingnya menghubungkan produktivitas akademik dengan kebutuhan nyata peserta didik, guru, lembaga pendidikan, dan masyarakat.

Menurutnya, capaian akademik yang telah diraih perguruan tinggi patut diapresiasi. Namun, keberhasilan tersebut perlu diikuti evaluasi mengenai sejauh mana penelitian dan pengembangan keilmuan berkontribusi terhadap perbaikan praktik pembelajaran.

“Keberhasilan perguruan tinggi tidak cukup diukur dari jumlah lulusan dan publikasi ilmiah yang dihasilkan, tetapi juga dari kemampuannya menerjemahkan pengetahuan akademik menjadi solusi atas persoalan nyata serta menjawab kebutuhan masyarakat.”

Penelitian Harus Menjawab Persoalan Pembelajaran

Syamsul Ulum menilai, keberadaan pendidikan doktoral memiliki peran strategis dalam memperdalam kajian Pendidikan Bahasa Arab secara kritis dan sistematis.

Penelitian doktoral idealnya tidak berhenti pada pengembangan teori atau model pembelajaran. Hasilnya perlu menawarkan solusi yang dapat diuji, diterapkan, dan dievaluasi dalam situasi pembelajaran yang sesungguhnya.

Karena itu, kontribusi pendidikan doktoral perlu dilihat melalui dua dimensi yang saling melengkapi, yakni pengembangan keilmuan dan manfaat praktis.

Dimensi keilmuan mencakup pengembangan teori, metodologi penelitian, kurikulum, bahan ajar, serta sistem evaluasi. Sementara itu, dimensi praktis berkaitan dengan kemampuan hasil penelitian membantu guru, dosen, lembaga pendidikan, dan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran secara lebih efektif.

Ia mengingatkan bahwa hubungan antara produktivitas akademik dan peningkatan kualitas pembelajaran tidak boleh hanya diasumsikan. Dampaknya harus ditelusuri melalui bukti, implementasi, dan evaluasi yang terukur.

Kompetensi Bahasa Arab Tidak Bisa Diukur dengan Satu Cara

Tantangan lain yang perlu mendapat perhatian adalah keragaman kebutuhan masyarakat Indonesia dalam mempelajari bahasa Arab.

Bagi sebagian masyarakat, bahasa Arab diperlukan untuk membaca dan memahami Al-Qur’an serta doa-doa. Bagi santri dan pengkaji keislaman, bahasa Arab menjadi sarana memahami kitab turats. Sementara bagi mahasiswa, peneliti, dan kalangan profesional, bahasa Arab juga dibutuhkan untuk mengakses literatur akademik, berkomunikasi, melanjutkan studi, maupun berinteraksi lintas negara.

Keragaman tujuan tersebut menuntut pendekatan pembelajaran dan penilaian yang berbeda. Kemampuan membaca teks klasik, misalnya, tidak otomatis menunjukkan kemampuan berkomunikasi secara lisan dalam bahasa Arab kontemporer. Demikian pula, kemampuan memahami teks keagamaan tidak serta-merta menunjukkan kemampuan menulis akademik.

Karena itu, analisis kebutuhan peserta didik harus menjadi dasar dalam menentukan capaian pembelajaran, memilih materi, merancang metode pengajaran, dan menyusun instrumen penilaian.

Kerangka Common European Framework of Reference for Languages (CEFR), menurutnya, dapat menjadi salah satu rujukan untuk merumuskan kompetensi bahasa secara lebih terukur. Namun, penerapannya perlu disesuaikan dengan tujuan program, karakteristik peserta didik, dan lingkungan penggunaan bahasa Arab di Indonesia.

Menghubungkan Teori dengan Praktik

Syamsul Ulum juga menekankan pentingnya membangun hubungan yang erat antara teori, desain pembelajaran, praktik pengajaran, dan evaluasi hasil belajar.

Tidak ada satu metode yang otomatis paling tepat untuk seluruh konteks Pendidikan Bahasa Arab. Pembelajaran kaidah, pembacaan teks klasik, keterampilan menyimak dan berbicara, hingga penulisan akademik dapat memerlukan strategi berbeda.

Pengembangan kurikulum, bahan ajar, aktivitas pembelajaran, dan penilaian karena itu perlu dirancang sebagai satu kesatuan.

Pada aspek tenaga pendidik, penguatan kompetensi tidak cukup melalui pelatihan yang bersifat seremonial. Pengembangan profesional guru perlu disertai pendampingan, praktik pembelajaran, observasi, dan evaluasi hasil.

Sementara itu, penelitian di perguruan tinggi perlu diarahkan pada persoalan yang dapat dikaji secara sistematis, seperti kebutuhan pembelajar, efektivitas bahan ajar, kompetensi guru, asesmen keterampilan bahasa, serta pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran.

Dengan pendekatan tersebut, penelitian tidak hanya menghasilkan publikasi, tetapi juga berpotensi melahirkan perangkat pembelajaran dan rekomendasi yang dapat dimanfaatkan oleh lembaga pendidikan.

UIN Malang Perlu Memperkuat Kontribusi Nyata

Sebagai perguruan tinggi yang mengembangkan Pendidikan Bahasa Arab, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memiliki peluang untuk memperkuat kontribusinya melalui integrasi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Syamsul Ulum menawarkan sejumlah agenda strategis. Pertama, memperkuat pemetaan kebutuhan bahasa Arab pada berbagai kelompok pembelajar, mulai dari siswa madrasah, santri, mahasiswa, guru, hingga masyarakat umum.

Kedua, mendorong hasil penelitian dosen dan mahasiswa doktoral agar lebih mudah dimanfaatkan oleh lembaga pendidikan melalui pengembangan bahan ajar, perangkat asesmen, panduan pembelajaran, pelatihan guru, dan pendampingan.

Ketiga, memperluas kerja sama dengan madrasah, pesantren, sekolah, perguruan tinggi, serta lembaga pengguna bahasa Arab sebagai ruang kolaborasi penelitian dan praktik.

Keempat, membangun budaya penelitian berkelanjutan agar disertasi tidak berhenti sebagai dokumen akademik setelah ujian selesai. Temuan penelitian yang relevan perlu ditindaklanjuti melalui publikasi, pengembangan produk, penerapan di lingkungan pendidikan, dan evaluasi jangka panjang.

Menurutnya, posisi strategis UIN Maliki Malang tidak perlu dibangun melalui klaim sebagai satu-satunya pusat pengembangan Pendidikan Bahasa Arab di Indonesia. Kontribusi yang lebih kuat justru dapat diwujudkan melalui mutu keilmuan, ketepatan merespons kebutuhan masyarakat, kolaborasi, dan keterbukaan terhadap evaluasi dampak.

Mengukur Keberhasilan dari Dampaknya

Dalam pandangan Syamsul Ulum, masa depan Pendidikan Bahasa Arab membutuhkan ukuran keberhasilan yang lebih lengkap.

Jumlah lulusan, publikasi, penelitian, dan kegiatan pengabdian tetap penting sebagai indikator aktivitas akademik. Namun, indikator tersebut perlu dilengkapi dengan bukti pemanfaatan hasil penelitian, perubahan praktik pembelajaran, peningkatan kompetensi peserta didik, serta keberlanjutan kerja sama dengan lembaga pengguna.

Perguruan tinggi juga perlu membangun mekanisme tindak lanjut yang mendokumentasikan hasil penelitian, produk yang dihasilkan, lembaga pengguna, proses implementasi, dan hasil evaluasinya.

Dengan demikian, keberhasilan akademik dapat dinilai bukan hanya dari apa yang telah dihasilkan, melainkan juga dari apa yang benar-benar dimanfaatkan dan diperbaiki berdasarkan pengalaman di lapangan.

Momentum Dies Natalis ke-65 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, menurut refleksi tersebut, menjadi kesempatan untuk memperkuat tanggung jawab akademik terhadap mutu pembelajaran dan kebutuhan masyarakat.

Kebanggaan atas capaian akademik akan semakin bermakna apabila melahirkan keberanian untuk mengevaluasi, memperbaiki, dan berkolaborasi. Melalui langkah tersebut, UIN Maliki Malang bersama berbagai lembaga pendidikan dapat terus berkontribusi membangun Pendidikan Bahasa Arab Indonesia yang bermutu, relevan, dan bermanfaat bagi masyarakat. ( Eno)