Prof. Abdul Hamid: Jabatan Bukan Puncak Pengabdian, Santri Harus Menguatkan Negeri
Malang | Serulingmedia.com – Prof. Dr. H. M. Abdul Hamid, M.A., Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, menegaskan bahwa keberhasilan seorang santri tidak semestinya diukur dari tingginya jabatan atau gelar akademik, melainkan dari seberapa besar manfaat ilmu dan pencapaiannya bagi masyarakat serta bangsa.
Pesan itu menjadi inti refleksi Abdul Hamid menjelang Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2026, melalui tulisan Dari Kamar Santri Menuju Pengabdian kepada Negeri.
Ia mengisahkan perjalanan hidupnya selama sepuluh tahun menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Daruttauhid, Malang, pada 1989–1999, sebelum melanjutkan perjalanan akademik hingga mengemban amanah sebagai pimpinan perguruan tinggi.
Bagi Abdul Hamid, pesantren bukan sekadar tempat mempelajari ilmu agama. Lebih dari itu, pesantren merupakan ruang pembentukan karakter yang mengajarkan kedisiplinan, kesabaran, ketangguhan, dan kesediaan berkorban untuk mencapai tujuan.
Namun, refleksi tersebut mengandung pesan yang lebih mendasar: keberhasilan seorang santri baru memperoleh makna ketika ilmu, kedudukan, dan kewenangan yang dimilikinya digunakan untuk kepentingan yang lebih luas daripada dirinya sendiri.
Dari Santri Menjadi Pimpinan Perguruan Tinggi
Perjalanan Abdul Hamid menunjukkan bahwa keterbatasan masa lalu tidak harus menjadi penghalang bagi seseorang untuk meraih pendidikan tinggi dan tanggung jawab yang lebih besar.
Ia mengingatkan bahwa kesulitan merupakan bagian dari proses pembentukan diri. Ketangguhan, menurut refleksinya, bukan berarti seseorang tidak pernah mengalami kegagalan, melainkan kesediaan untuk bangkit, memperbaiki langkah, dan terus belajar.
Meski demikian, pesan perjuangan itu tidak boleh berhenti sebagai motivasi individual. Pengalaman seorang santri yang berhasil mencapai posisi strategis semestinya menjadi dorongan untuk memperluas kesempatan pendidikan bagi generasi berikutnya.
Dalam konteks ini, keberhasilan Abdul Hamid bukan hanya menarik sebagai kisah perjalanan pribadi, tetapi juga relevan untuk mengingatkan bahwa pendidikan harus membuka jalan bagi mobilitas sosial dan melahirkan manusia yang mampu berkontribusi bagi masyarakat.
Amanah Jabatan Menjadi Ukuran Integritas
Sebagai Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga UIN Maliki Malang, Abdul Hamid berada pada posisi yang menuntut penerjemahan nilai-nilai pendidikan ke dalam kerja kelembagaan.
Dalam refleksinya, ia menekankan bahwa seseorang boleh mencapai kedudukan tinggi, tetapi jabatan harus dijalankan sebagai amanah. Ilmu yang luas juga harus disertai kerendahan hati dan keterbukaan untuk terus belajar.
Pesan ini penting karena pengabdian di lingkungan perguruan tinggi tidak cukup dibuktikan melalui gelar, jabatan, atau banyaknya kerja sama kelembagaan.
Yang lebih mendasar ialah hasil nyata yang dirasakan mahasiswa, dosen, masyarakat, dan dunia pendidikan. Kerja sama harus menghasilkan manfaat akademik.
Pengembangan lembaga harus memperkuat kualitas pendidikan. Sementara itu, kewenangan perlu dijalankan dengan integritas, transparansi, dan tanggung jawab.
Di sinilah nilai-nilai kesantrian menemukan ujian sesungguhnya. Nilai tersebut bukan hanya tentang menjaga identitas sebagai alumni pesantren, melainkan tentang konsistensi antara ajaran moral dan tindakan ketika seseorang memegang amanah.
Santri Harus Menguasai Masa Depan
Abdul Hamid juga mengingatkan bahwa santri tidak boleh hanya bangga terhadap masa lalu, tetapi gagap menghadapi masa depan.
Menurutnya, kedalaman ilmu agama perlu berjalan bersama penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, keluasan wawasan, serta kemampuan menjawab persoalan nyata masyarakat.
Pandangan ini menempatkan santri sebagai bagian penting dalam pembangunan bangsa. Santri tidak cukup dipersiapkan untuk menjadi penjaga tradisi keagamaan, tetapi juga harus memiliki kompetensi untuk berkiprah dalam sains, ekonomi, pendidikan, teknologi, dan berbagai sektor strategis lainnya.
Namun, daya saing harus tetap berjalan bersama tanggung jawab moral. Kemampuan profesional tanpa integritas berisiko kehilangan arah, sedangkan kesalehan tanpa kompetensi akan sulit menjawab kompleksitas persoalan zaman.
Karena itu, pendidikan pesantren dan perguruan tinggi Islam dituntut membangun keseimbangan antara ilmu, akhlak, keterampilan, dan kepedulian sosial.
Pengabdian Tidak Harus Menjadi Pejabat
Salah satu penekanan penting Abdul Hamid adalah bahwa mengabdi kepada negeri tidak selalu berarti menduduki jabatan tinggi.
Guru yang mendidik dengan tanggung jawab, petani yang bekerja dengan jujur, pengusaha yang berlaku adil, tenaga kesehatan yang amanah, ilmuwan yang tekun, dan masyarakat yang peduli terhadap sesama memiliki kontribusi yang sama pentingnya dalam memperkuat bangsa.
Pesan tersebut sekaligus menjadi kritik terhadap cara pandang yang terlalu mengagungkan jabatan sebagai ukuran keberhasilan.
Kedudukan tinggi tidak otomatis menjadikan seseorang bermanfaat, sebagaimana pekerjaan sederhana tidak berarti kecil kontribusinya bagi masyarakat.
Dalam refleksi Abdul Hamid, kemuliaan seorang santri terletak pada kebaikan yang tumbuh dari tempat ia berpijak.
Dengan demikian, Hari Santri Nasional semestinya tidak berhenti pada seremoni dan kebanggaan identitas. Peringatan ini harus menjadi momentum untuk menilai sejauh mana ilmu, akhlak, dan semangat pengabdian benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan Abdul Hamid untuk Indonesia Emas
Menjelang Indonesia Emas, Abdul Hamid mengajak para santri untuk terus belajar, memperkuat karakter, membangun kemampuan, dan mempersiapkan diri memikul tanggung jawab yang lebih besar.
Ia menegaskan bahwa menjadi santri tidak berakhir ketika seseorang meninggalkan gerbang pesantren.
Kesantrian harus tetap hidup dalam kesediaan menghormati ilmu, menjaga adab, merawat kerendahan hati, dan menempatkan pengabdian di atas kesombongan pribadi.
Pesan tersebut menjadi relevan bagi siapa pun yang telah mencapai keberhasilan, termasuk mereka yang kini menduduki jabatan akademik dan kepemimpinan.
Sebab, tantangan sesungguhnya bukan sekadar mencapai posisi tinggi, melainkan menjaga agar posisi tersebut tidak menjauhkan seseorang dari nilai-nilai yang dahulu membentuk dirinya.
Bagi Prof. Abdul Hamid, ukuran kemuliaan seorang santri bukan seberapa tinggi ia berdiri, melainkan seberapa banyak kebaikan yang tumbuh dari tempat ia berpijak.
Itulah makna pengabdian yang ia tawarkan menjelang Hari Santri Nasional 2026: menjadikan ilmu sebagai jalan kemanfaatan, jabatan sebagai amanah, dan keberhasilan pribadi sebagai kesempatan untuk menguatkan negeri.
Selamat Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2026. Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas. ( Eno).
