Naik Bandros, Alumni MMTC Yogyakarta Menyusuri Sejarah dan Merawat Kenangan di Bandung
Bandung | Serulingmedia.com – Tawa dan cerita mengiringi perjalanan peserta Reuni ke-4 Alumni MMTC Yogyakarta saat menjelajahi Kota Bandung menggunakan Bandung Tour on Bus (Bandros), Rabu (7/10/2026).
Selama sekitar satu jam, para alumni menikmati wisata kota sekaligus mengenal sejarah, budaya, dan perkembangan Bandung dari masa ke masa.

Berangkat dari Hotel Corsica, Jalan Supratman Nomor 43, Bandung, rombongan menaiki bus wisata berwarna ungu dan merah.
Perjalanan tersebut menjadi salah satu agenda reuni yang tidak hanya menghadirkan suasana rekreatif, tetapi juga mempererat silaturahmi ant alumni yang datang dari berbagai daerah.
Ketua Panitia Reuni, Popon, yang merupakan warga asli Bandung, turut membantu mengenalkan kota kelahirannya.

Sementara itu, Daniel selaku pemandu wisata menyampaikan cerita tentang bangunan bersejarah, kawasan legendaris, hingga tempat-tempat yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bandung saat ini.
Suasana perjalanan terasa cair. Daniel menyampaikan informasi sejarah dengan gaya humoris, sesekali menyelipkan lelucon yang mengundang tawa peserta.
Sejarah kota pun terasa lebih dekat karena disampaikan melalui cerita yang ringan dan mudah dipahami.
Salah satu bangunan yang menjadi perhatian adalah Gedung Sate.

Daniel menjelaskan makna enam ornamen berbentuk tusuk sate pada bagian puncak gedung yang dikaitkan dengan biaya pembangunan sebesar enam juta gulden.
Gedung tersebut rampung dibangun pada 1924.
Sepanjang perjalanan, peserta juga diperkenalkan dengan sejumlah kawasan yang menyimpan cerita sejarah dan perubahan sosial.
Mulai dari Taman Maluku, kawasan Braga, hingga Jalan ABC, juga Tahanan Banceu serta Gedung Merdeka tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika.
setiap lokasi menghadirkan sudut pandang berbeda tentang perjalanan Kota Bandung.
Di kawasan Braga, peserta mengenal salah satu kawasan ikonik yang hingga kini menjadi tujuan wisata dan tempat berkumpul masyarakat.

Deretan bangunan bergaya kolonial berpadu dengan kafe, pertokoan, serta aktivitas wisata yang membuat kawasan tersebut tetap hidup.
Perjalanan berlanjut ke Jalan ABC. Di kawasan ini, Daniel menjelaskan sejarah penamaan yang dikaitkan dengan kelompok Arab, Bumiputera, dan Cina.
Peserta juga diperkenalkan dengan Masjid Al-Imtizaj, yang mengusung arsitektur bernuansa Tionghoa.

Nama Al-Imtizaj sendiri bermakna pembauran, mencerminkan semangat perjumpaan budaya dalam kehidupan masyarakat.
Bagi sebagian peserta, cerita tersebut menjadi pengetahuan baru. Bandung yang selama ini dikenal sebagai kota pendidikan, musik, dan wisata alam ternyata juga menyimpan jejak panjang keberagaman masyarakat.
Daniel tidak hanya mengajak peserta menengok masa lalu. Ia juga menunjukkan sisi Bandung masa kini, termasuk perkembangan komunitas musik dan tempat-tempat yang menjadi tujuan anak muda.
Ketika melewati kawasan sekitar Bandung Indah Plaza (BIP), misalnya, peserta mendapat cerita mengenai perkembangan komunitas musik metal.

GOR Saparua turut disebut sebagai salah satu ruang penting dalam perjalanan musik independen Bandung, termasuk melalui gelaran Bandung Berisik.
Nama Burgerkill, Jamrud, dan Pas Band menjadi bagian dari cerita tentang geliat musik yang ikut membentuk identitas Bandung sebagai kota kreatif.
Pemandu wisata juga memberikan informasi mengenai lokasi kuliner, tempat nongkrong, hingga pusat belanja pakaian thrifting yang diminati generasi muda.
Perpaduan cerita sejarah dan informasi kekinian membuat perjalanan terasa seperti membuka lembar demi lembar kisah Kota Bandung.
Bandros sendiri merupakan singkatan dari Bandung Tour on Bus. Layanan wisata ini diresmikan pada 2014, ketika Ridwan Kamil menjabat sebagai Wali Kota Bandung.
Nama Bandros dipilih melalui sayembara di media sosial Twitter, yang kini dikenal sebagai X. Nama tersebut juga identik dengan kudapan tradisional khas Jawa Barat.
Setelah sekitar satu jam menyusuri jalan-jalan kota dan mendengarkan beragam cerita, rombongan kembali ke Hotel Corsica, tempat perjalanan bermula.
Meski berlangsung singkat, wisata Bandros memberikan pengalaman lebih dari sekadar menikmati pemandangan dari atas bus.
Para alumni memperoleh pengetahuan baru tentang Bandung sekaligus berbagi kebersamaan di tengah rangkaian reuni.
Bagi mereka, perjalanan itu menjadi pengingat bahwa reuni bukan semata-mata bertemu kembali dengan kawan lama.
Ada kesempatan untuk menciptakan pengalaman baru, memperkaya wawasan, dan merawat persahabatan yang telah terjalin sejak masa pendidikan di MMTC Yogyakarta.
Bandung dengan segala perubahan dan sejarahnya pun menjadi bagian dari kenangan reuni kali ini.
Sebuah perjalanan singkat yang mempertemukan masa lalu, kehidupan masa kini, dan kehangatan persahabatan dalam satu lintasan wisata. ( Eno).
