Ketua PWI Jatim: Retret Mengasyikkan, Wartawan Ditempa Jadi Pilar Ketahanan Bangsa

957139_11zon

Kabupaten Bogor | Serulingmedia.com — Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Jawa Timur menunjukkan komitmennya dalam memperkuat kualitas dan integritas insan pers dengan mengirim tujuh wartawan mengikuti Retret PWI yang diselenggarakan PWI Pusat bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Kemenhan RI).

Kegiatan yang berlangsung di Pusat Kompetensi Bela Negara (PKBN) Kemenhan RI, Cibodas, Kabupaten Bogor, pada 29 Januari hingga 1 Februari 2026 itu diikuti 160 wartawan dari PWI Pusat dan PWI Daerah seluruh Indonesia.

Retret ini mengusung tema “Memperkuat Pers yang Profesional, Berintegritas, dan Berwawasan Kebangsaan untuk Ketahanan Informasi, Demokrasi, dan Keamanan Nasional.”

Tujuh wartawan PWI Jatim yang mengikuti kegiatan tersebut adalah Lutfil Hakim (Ketua), Syaiful Anam (Sekretaris), Andy Setyawan (Bendahara), Fery Iz Mirza (Sekretaris Dewan Kehormatan), serta Cahyono dan Sunavip Ra Indranata dari PWI Malang Raya, dan Sasmito dari PWI Bojonegoro.

Ketua PWI Jatim Lutfil Hakim menyebut retret ini sebagai pengalaman yang sangat berharga dan menyenangkan.

“Kegiatannya lengkap, padat, dan mengasyikkan.Tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga membentuk integritas, disiplin, dan semangat kebangsaan,” ujarnya.

Retret dibuka oleh Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Pertahanan Kemenhan RI, didampingi Ketua Umum PWI Pusat Achmad Munir dan Sekretaris Jenderal PWI Pusat Zulmansyah Sekedang.

Dalam sambutan Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin yang dibacakan Kepala BPSDM, ditegaskan bahwa pers memiliki peran strategis dalam pengelolaan informasi dan pembentukan persepsi publik sebagai bagian penting dari ketahanan nasional.

Ketua Umum PWI Pusat Achmad Munir menambahkan, retret ini merupakan ikhtiar organisasi untuk melahirkan wartawan yang tidak hanya andal secara profesional, tetapi juga memiliki integritas serta kesadaran kebangsaan yang kuat di tengah tantangan disinformasi dan polarisasi publik.

Selama retret, para peserta menjalani jadwal yang ketat dan disiplin. Aktivitas dimulai sejak pukul 04.00 WIB dengan olahraga pagi sebelum salat subuh, dilanjutkan apel pagi tepat pukul 07.00 WIB, kemudian sesi kelas pemaparan materi hingga dialog interaktif bersama sejumlah menteri Kabinet Presiden Prabowo.

Peserta juga mengikuti latihan gerak badan dan ketangkasan yang dipandu perwira Akademi Militer.

Menurut Lutfil Hakim yang akrab disapa Cak Item, selain memperkuat wawasan kebangsaan, retret juga menjadi sarana mempererat persaudaraan antarsesama wartawan dari berbagai daerah.

“Yang paling berharga, kami bisa saling mengenal dan membangun koordinasi untuk satu tujuan besar, yakni menjaga persatuan Indonesia melalui pers yang bertanggung jawab,” tegasnya.

Sekretaris PWI Jatim Syaiful Anam menjelaskan, istilah retret berasal dari bahasa Prancis la retraite yang berarti menyepi atau menjauhkan diri.

“Dalam makna keagamaan, retret adalah momen perenungan, meditasi, dan doa. Di sini, wartawan diajak menenangkan diri, merefleksikan peran, dan meneguhkan kembali nilai-nilai pengabdian,” ujarnya.

Melalui retret ini, PWI berharap lahir wartawan-wartawan yang tidak hanya cakap menyajikan informasi, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam menjaga persatuan, demokrasi, dan ketahanan bangsa. Sebuah ikhtiar nyata bahwa pers yang kuat berawal dari wartawan yang berkarakter dan berwawasan kebangsaan.( Har/Eno).