Jelang Hari Santri Nasional, UIN Malang Latih Pendamping Pesantren Tangani Tekanan Psikologis Santri
Malang | Serulingmedia.com – Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang melatih pengurus dan pendamping santri Pondok Pesantren Darun Najah, Karangploso, Kabupaten Malang, dalam keterampilan Psychological First Aid (PFA) atau pertolongan pertama psikologis, Rabu (21/10/2026).
Pelatihan ini membekali peserta dengan kemampuan mengenali tanda-tanda tekanan emosional santri, memberikan dukungan awal melalui prinsip Look, Listen, Link (3L), serta menentukan kapan santri perlu dirujuk kepada tenaga profesional.
Kegiatan yang menghadirkan Retno Mangestuti, M.Si., sebagai narasumber dan Dr. Nur Ila Ifawati, S.S., M.Pd., sebagai moderator tersebut merupakan bagian dari program Center for Pesantren Psychological Development.
Program ini sekaligus menjadi wujud pengabdian kepada masyarakat dan tindak lanjut kerja sama antara UIN Maliki Malang dan Pondok Pesantren Darun Najah.
Dalam pemaparannya, Retno menjelaskan bahwa PFA merupakan bantuan awal yang manusiawi, suportif, dan praktis bagi seseorang yang sedang menghadapi situasi menekan.
Dukungan ini bertujuan membantu individu merasa lebih aman, tenang, dan memperoleh bantuan sesuai kebutuhannya.
Keterampilan tersebut dapat dipelajari siapa saja, termasuk pengurus dan pendamping pesantren, tanpa harus memiliki latar belakang pendidikan psikologi.
PFA tidak bertujuan menggali pengalaman traumatis secara mendalam atau menganalisis persoalan masa lalu. Fokus utamanya membantu individu menghadapi situasi yang sedang dialami, memenuhi kebutuhan mendesak, dan menghubungkannya dengan sumber dukungan yang tepat.
Kenali Tanda-Tanda Tekanan Psikologis Santri
Dalam kehidupan pesantren, santri usia remaja dapat menghadapi berbagai tekanan emosional.
Kerinduan terhadap keluarga, tuntutan hafalan dan ujian,konflik antarsantri, perundungan, perubahan fisik selama masa pubertas, kabar duka dari keluarga, hingga kelelahan akibat padatnya jadwal kegiatan dapat memengaruhi kondisi psikologis mereka.
Karena itu, peserta dilatih mengenali perubahan perilaku yang dapat menjadi tanda santri membutuhkan perhatian.
Gejalanya antara lain perubahan pola tidur dan makan, kecenderungan menarik diri dari pergaulan, mudah marah, penurunan motivasi, serta keluhan fisik yang berulang.
Kemampuan mengenali perubahan tersebut menjadi langkah awal agar pendamping dapat memberikan respons yang tepat tanpa terburu-buru menghakimi atau menyimpulkan kondisi santri.
Melalui pelatihan ini, pendamping juga diperkenalkan pada prinsip 3L, yaitu Look, Listen, dan Link, sebagai panduan memberikan pertolongan pertama psikologis.
Pada tahap Look, pendamping belajar mengamati kondisi santri dan memastikan lingkungan di sekitarnya aman.
Tahap ini membantu pendamping mengenali kebutuhan mendesak serta situasi yang berpotensi membahayakan santri.
Selanjutnya, Listen menekankan pentingnya mendekati santri dengan tenang, mendengarkan tanpa menyela, serta memberikan ruang bagi mereka untuk mengungkapkan perasaan tanpa paksaan.
Sementara itu,
Link mengajarkan pendamping membantu santri memperoleh dukungan yang diperlukan, mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar, dukungan keluarga atau sahabat, hingga akses terhadap layanan profesional apabila dibutuhkan.
Peserta juga diingatkan agar tidak memaksa santri menceritakan masalahnya, mengajukan pertanyaan secara bertubi-tubi, membandingkan persoalan mereka dengan pengalaman orang lain, atau memberikan nasihat panjang ketika mereka sebenarnya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan.
Pendamping juga perlu menghindari janji yang tidak dapat dipenuhi. Peran utamanya bukan menyelesaikan seluruh persoalan santri, melainkan hadir memberikan ketenangan dan membantu mereka mendapatkan pertolongan yang sesuai.
Teknik Sederhana dan Nilai Pesantren
Selain memahami prinsip dasar PFA, peserta mempelajari sejumlah teknik sederhana untuk membantu menenangkan diri dan mengelola tekanan emosional.
Teknik tersebut meliputi latihan pernapasan, grounding 5-4-3-2-1 untuk membantu individu kembali memperhatikan keadaan saat ini melalui pancaindra, serta berjalan perlahan dan berdzikir singkat sesuai kesediaan santri.
Materi juga mengintegrasikan nilai-nilai yang relevan dengan kehidupan pesantren, seperti rifq atau kelembutan, kesabaran, husnuzan, dan amanah dalam menjaga kepercayaan.
Pendekatan ini diharapkan membantu pendamping memberikan dukungan psikologis yang menghormati nilai-nilai pesantren sekaligus memperhatikan kebutuhan emosional santri.
Untuk memperkuat pemahaman praktis, peserta mengikuti simulasi bermain peran (role play) menggunakan kasus yang dekat dengan kehidupan sehari-hari di pesantren.
Kasus yang disimulasikan meliputi santri baru yang mengalami kerinduan terhadap keluarga, tekanan target hafalan, perundungan antarsantri, hingga kabar duka dari keluarga.
Dalam simulasi tersebut, peserta bergantian memerankan santri, pendamping, dan pengamat. Pengamat menggunakan lembar observasi untuk menilai penerapan prinsip 3L selama proses pendampingan.
Melalui praktik tersebut, peserta diharapkan tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya ketika menghadapi santri yang membutuhkan dukungan emosional dalam situasi nyata.
Pendamping Harus Memahami Batas Kemampuan
Pelatihan ini juga menekankan pentingnya memahami batas kewenangan pendamping. Pengurus dan pendamping pesantren bukan pengganti psikolog, konselor, atau psikiater sehingga perlu mengetahui kapan persoalan santri membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Rujukan kepada tenaga profesional dan koordinasi dengan pimpinan pesantren diperlukan ketika santri menunjukkan tanda-tanda menyakiti diri sendiri, mengalami tekanan psikologis berkepanjangan hingga mengganggu aktivitas, menghadapi indikasi kekerasan, atau membutuhkan penanganan di luar kapasitas pendamping.
Dalam kondisi yang menunjukkan risiko keselamatan, pendamping perlu segera memastikan santri berada dalam situasi aman dan mengupayakan bantuan yang sesuai.
Perhatian terhadap kondisi emosional pendamping sendiri turut menjadi bagian dari materi.
Mendampingi individu yang sedang mengalami tekanan membutuhkan kesiapan emosional. Karena itu, pendamping perlu menjaga kesehatan dirinya agar dapat memberikan dukungan secara konsisten dan bertanggung jawab.
Untuk mengukur perubahan pemahaman peserta, pelatihan dilengkapi pretest sebelum penyampaian materi dan posttest setelah materi selesai.
Evaluasi tersebut menjadi bagian dari upaya menilai pemahaman peserta mengenai prinsip dan penerapan pertolongan pertama psikologis dalam konteks pesantren.
Momentum Penguatan Pesantren Ramah Anak
Menjelang peringatan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2026, pelatihan ini menjadi momentum untuk memperkuat perhatian terhadap kesehatan mental dan perlindungan santri.
Pendidikan pesantren tidak hanya berkaitan dengan penguatan ilmu agama dan pembentukan karakter, tetapi juga membutuhkan lingkungan yang aman dan mendukung perkembangan emosional santri.
Tekanan psikologis yang tidak tertangani dapat memengaruhi kenyamanan santri dalam belajar, berinteraksi, dan menjalani aktivitas sehari-hari.
Karena itu, kemampuan pengurus dan pendamping dalam mengenali masalah sejak dini menjadi salah satu unsur penting dalam membangun lingkungan pesantren yang suportif.
Melalui program Center for Pesantren Psychological Development, Fakultas Psikologi UIN Maliki Malang berharap pengurus dan pendamping santri mampu menjadi penolong pertama yang tenang, hangat, dan dapat diandalkan.
Keterampilan tersebut diharapkan memperkuat kepedulian terhadap kondisi psikologis santri sekaligus mendorong terciptanya lingkungan pesantren yang aman, suportif, dan ramah bagi tumbuh kembang mereka.
Momentum Hari Santri Nasional menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap santri perlu diwujudkan melalui tindakan nyata. Ketika menghadapi tekanan atau kesulitan, santri membutuhkan pendamping yang bersedia mendengarkan, memberikan dukungan awal secara tepat, dan membantu mereka memperoleh pertolongan sesuai kebutuhan. ( Eno).
