ITS Bangun Instalasi Air Bersih di Pidie Jaya, Solusi Inovatif bagi Warga Terdampak Banjir dan Longsor
Surabaya | Serulingmedia.com – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menunjukkan komitmennya dalam aksi kemanusiaan dengan membangun instalasi air bersih inovatif di wilayah terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Aceh.
Fasilitas tersebut dipasang di Pesantren Raudhatul Mukarramah Al Aziziyah, Kabupaten Pidie Jaya, sebagai solusi bagi masyarakat yang kesulitan mendapatkan air bersih pascabencana.
Wakil Kepala Pusat Studi Infrastruktur dan Lingkungan Berkelanjutan (PILB) ITS, Dr Catur Arif Prastyanto ST MEng, menjelaskan bahwa pemilihan lokasi instalasi dilakukan melalui diskusi dan kajian bersama antara Tim Tanggap Bencana ITS dan Universitas Syiah Kuala (USK).
“Penentuan lokasi di Kabupaten Pidie Jaya tersebut mempertimbangkan kedekatan dengan sumber air baku serta kemudahan operasional dan perawatan,” terang dosen Departemen Teknik Sipil ITS tersebut, Jumat (7/3/2026).
Menurut Catur, teknologi pengolahan air bersih tersebut merupakan hasil inovasi dua pakar Departemen Teknik Lingkungan ITS, yakni Prof Arseto Yekti Bagastyo ST MT MPhil PhD dan Ervin Nurhayati ST MT PhD. Sistem ini mampu mengubah air sungai yang keruh menjadi air bersih dengan kapasitas hingga 2.000 liter per jam.
Instalasi tersebut dirancang untuk dapat beroperasi secara kontinyu. Namun dalam kondisi ideal, alat bekerja sekitar 8 hingga 10 jam per hari, tergantung ketersediaan air baku serta kebutuhan distribusi kepada masyarakat sekitar.
Catur menjelaskan, efisiensi alat ini terletak pada metode pemurnian yang menggunakan prinsip elektrokoagulasi. Teknologi ini mampu menurunkan tingkat kekeruhan air tanpa menggunakan bahan kimia.
“Karena tidak menggunakan bahan kimia untuk menurunkan kekeruhan yang tinggi, biaya operasionalnya bisa menjadi sangat murah,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kehadiran instalasi ini diharapkan dapat membantu masyarakat dan para santri mendapatkan akses air bersih yang layak, terutama setelah bencana yang merusak banyak sumber air.
“Melalui instalasi ini kami ingin memastikan masyarakat tetap memiliki akses air bersih yang aman, sekaligus memberikan solusi teknologi yang mudah dioperasikan oleh masyarakat setempat,” ujar Catur.
Dalam pelaksanaannya, tim ITS juga menggandeng berbagai pihak, antara lain Alumni Teknik Sipil ITS (ALSITS), Ikatan Alumni (IKA) Teknik Lingkungan ITS, serta mitra industri seperti PT Adhi Karya (Persero) Tbk, PT PP (Persero) Tbk, PT Wijaya Karya (Wika) (Persero) Tbk, dan PT Selaras Alam Varia Energi.
Keberhasilan proyek ini juga mendapat dukungan dari sejumlah tokoh, di antaranya Kepala PILB ITS Prof IDAA Warmadewanthi ST MT PhD serta Sekretaris Umum ALSITS Lucia Karina.
Agar manfaat instalasi ini dapat dirasakan secara berkelanjutan, para santri di pesantren tersebut juga diberikan pelatihan langsung mengenai cara pengoperasian dan perawatan alat.
Proses perawatannya pun cukup sederhana, yakni hanya dengan membersihkan lumpur dan mengganti elektroda secara berkala, sehingga tidak memerlukan keahlian khusus.
Ke depan, ITS berharap teknologi ini dapat terus dikembangkan, terutama pada sistem konversi energi kelistrikan agar semakin efektif dan efisien.
“Harapan kami, alat ini dapat diproduksi sepenuhnya di dalam negeri dan dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh masyarakat,” tandas Catur.
Aksi kemanusiaan ini sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-6 tentang air bersih dan sanitasi layak serta poin ke-3 mengenai kehidupan sehat dan sejahtera. (Dini/Eno)






