Dr. Zainal Habib: AI Mengancam Kampus yang Berhenti Berpikir, PTKI Harus Memimpin dengan Akhlak, Bukan Sekadar Algoritma

1781595_11zon

Malang | Serulingmedia.com – Ledakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) bukan lagi sekadar fenomena teknologi.

 

Bagi Dr. Zainal Habib, Wakil Rektor II UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang juga Ketua PP ISNU, AI telah menjadi titik balik yang menguji masa depan perguruan tinggi, terutama Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI).

 

Menurutnya, kampus kini berada di persimpangan jalan: menjadi pusat lahirnya manusia yang berpikir kritis atau justru berubah menjadi ruang yang hanya memproduksi lulusan bergantung pada mesin.

“AI mampu mempercepat proses berpikir, tetapi tidak otomatis menghadirkan kebijaksanaan,” tegas Zainal Habib.

Pernyataan itu bukan sekadar kritik terhadap teknologi. Yang dipersoalkan adalah cara perguruan tinggi merespons revolusi digital.

 

Ketika mahasiswa dapat menyusun esai, menerjemahkan jurnal, hingga merancang proposal penelitian hanya dalam hitungan menit melalui AI, muncul ancaman yang jauh lebih serius daripada sekadar plagiarisme: hilangnya tradisi berpikir mendalam.

 

Bagi Zainal Habib, kampus tidak boleh terlena oleh efisiensi teknologi. Pendidikan sejatinya bukan sekadar menghasilkan jawaban tercepat, melainkan membentuk karakter, nalar kritis, dan tanggung jawab moral.

Ia mengingatkan, AI hanyalah instrumen. Mesin dapat mengolah miliaran data, tetapi tidak memiliki hati nurani, empati, maupun kesadaran etis.

 

Karena itu, perguruan tinggi Islam tidak boleh terjebak dalam perlombaan mengejar kecanggihan teknologi semata.

“Kampus akan kehilangan jati dirinya jika hanya sibuk mengajarkan cara menggunakan AI, tetapi gagal mendidik mahasiswa tentang mengapa dan untuk siapa teknologi itu digunakan,” ujarnya.

Krisis Bukan Teknologi, Melainkan Adab Akademik

Dalam analisisnya, Zainal Habib menilai tantangan terbesar PTKI bukanlah hadirnya AI, melainkan potensi memudarnya budaya akademik.

Tradisi membaca kitab, berdiskusi, menguji argumen, hingga menulis dengan proses intelektual yang panjang terancam tergantikan oleh jawaban instan dari mesin. Jika kecenderungan itu dibiarkan, kampus akan menghasilkan lulusan yang cepat memperoleh informasi, tetapi miskin refleksi.

Ia mengutip pandangan pemikir Muslim Syed Muhammad Naquib al-Attas tentang loss of adab.

Menurutnya, krisis pendidikan modern bukan kekurangan pengetahuan, melainkan hilangnya adab dalam menggunakan ilmu.

Karena itu, keberhasilan perguruan tinggi Islam tidak boleh diukur hanya dari kemampuan menghasilkan lulusan yang menguasai teknologi digital, tetapi juga dari integritas, kejujuran akademik, dan kedalaman spiritual.

Digitalisasi Tanpa Etika Hanya Melahirkan Kampus Mekanis

Zainal Habib juga mengkritik kecenderungan sebagian perguruan tinggi yang memaknai transformasi digital sebatas pembangunan laboratorium AI atau digitalisasi administrasi.

Menurutnya, transformasi sejati justru dimulai dari perubahan tata kelola akademik. Kurikulum harus diperbarui dengan literasi AI, pedoman etika penggunaan kecerdasan buatan harus disusun, kompetensi dosen ditingkatkan, dan riset lintas disiplin diperkuat.

Tanpa itu, digitalisasi hanya menjadi proyek teknologi yang kehilangan arah pendidikan.

“Perguruan tinggi Islam tidak boleh bersaing dengan AI dalam menghasilkan jawaban. Kampus harus unggul dalam melahirkan hikmah, etika, dan kepemimpinan moral,” katanya.

PTKI Harus Memimpin, Bukan Mengekor

Dengan lebih dari 800 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam di Indonesia, Zainal Habib melihat potensi besar bagi PTKI untuk menjadi pelopor transformasi pendidikan berbasis teknologi yang tetap berpijak pada nilai-nilai Islam.

AI, menurutnya, semestinya dimanfaatkan untuk memperkuat tridarma perguruan tinggi: meningkatkan kualitas pembelajaran, mempercepat riset, serta menghadirkan solusi berbasis data bagi persoalan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi syariah.

Namun semua itu hanya akan bermakna apabila teknologi tetap dikendalikan oleh nilai-nilai kemanusiaan.

Analisis

Pandangan Zainal Habib menyentuh persoalan yang lebih dalam daripada sekadar penggunaan AI di ruang kuliah. Ia mengingatkan bahwa revolusi teknologi sesungguhnya adalah ujian terhadap arah pendidikan nasional.

Ketika banyak kampus berlomba membangun ekosistem digital, pertanyaan mendasar justru belum terjawab: apakah teknologi sedang memperkuat kualitas manusia, atau justru mengikis kemampuan berpikir, membaca, dan merenung?

Di titik inilah PTKI menghadapi tantangan historis. Jika hanya menjadi pengikut arus digitalisasi, perguruan tinggi Islam akan kehilangan identitasnya.

 

Sebaliknya, jika mampu menyatukan kecanggihan teknologi dengan akhlak, hikmah, dan integritas, PTKI berpeluang menjadi model pendidikan masa depan yang tidak hanya mencetak lulusan cerdas, tetapi juga manusia yang bermartabat.

 

Di era ketika mesin mampu menghasilkan informasi dalam hitungan detik, keunggulan manusia tidak lagi terletak pada seberapa cepat memperoleh jawaban.

 

Keunggulan itu terletak pada kemampuan menimbang kebenaran, menjaga etika, dan memastikan bahwa ilmu pengetahuan benar-benar diabdikan untuk kemaslahatan.

 

Itulah pesan paling tajam yang disampaikan Dr. Zainal Habib: AI boleh menjadi mesin pengetahuan, tetapi hanya manusia beradab yang mampu mengubah pengetahuan menjadi kebijaksanaan.( Eno).

:::