Dr. Muh. Anwar Fu’ady: Mendengar Suara Kesehatan Mental Tak Cukup, Negara Harus Bertindak
Malang | Serulingmedia.com — Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia pada 10 Oktober 2026 seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, kampanye media sosial, atau slogan yang terdengar menenangkan.
Tema “Live Experiences Heard: Real Voices, Real Change” justru mengandung kritik mendasar: selama pengalaman orang yang mengalami persoalan kesehatan mental hanya didengar tanpa diikuti perubahan nyata, kepedulian masih sebatas retorika.
Dr. Muh. Anwar Fu’ady, S.Psi., M.A., dosen Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, melalui refleksi Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026, mengingatkan pentingnya mendengar pengalaman hidup manusia sebagai bagian utama dalam memahami kesehatan mental.
Mereka yang mengalami kecemasan, depresi, tekanan psikologis, maupun kelelahan emosional bukan sekadar objek diagnosis.
Mereka adalah individu dengan cerita, luka, lingkungan sosial, dan perjuangan yang tidak selalu dapat dijelaskan melalui angka statistik.
Persoalannya, apakah masyarakat benar-benar bersedia mendengar? Ataukah kita hanya menerima cerita tentang kesehatan mental selama tidak mengganggu kenyamanan, produktivitas, dan standar keberhasilan yang telanjur diagungkan?
Pertanyaan ini penting karena stigma terhadap persoalan psikologis sering kali bekerja secara halus.
Orang yang mengalami tekanan mental dituntut tetap kuat, pekerja yang kelelahan diminta meningkatkan kinerja, sedangkan mahasiswa yang cemas menghadapi masa depan kerap dinasihati agar lebih bersyukur atau tidak terlalu banyak berpikir.
Nasihat semacam itu mungkin lahir dari niat baik. Namun, tanpa memahami akar persoalan, nasihat justru dapat mempersempit ruang bagi seseorang untuk mengungkapkan penderitaannya.
Mendengar tanpa menghakimi
Tema Live Experiences Heard menempatkan pengalaman nyata sebagai sumber pemahaman yang tidak boleh diabaikan.
Suara orang yang sedang berjuang perlu memperoleh ruang yang setara, bukan tenggelam di bawah dominasi istilah klinis, penilaian moral, atau anggapan masyarakat tentang bagaimana seseorang seharusnya menjalani hidup.
Seseorang yang tampak baik-baik saja belum tentu terbebas dari tekanan. Senyum tidak selalu menandakan kebahagiaan.
Prestasi tidak otomatis menunjukkan kesehatan psikologis. Bahkan, orang yang terlihat paling mampu mengatasi masalah belum tentu memiliki ruang untuk mengakui bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.
Di sinilah empati diuji. Mendengar bukan sekadar membiarkan orang berbicara, melainkan kesediaan menangguhkan penghakiman dan menerima bahwa pengalaman seseorang tidak selalu dapat dipahami hanya dari sudut pandang orang lain.
Kita terlalu mudah memberikan label kepada mereka yang dianggap berbeda. Ada yang disebut lemah, kurang bersyukur, kurang beriman, atau tidak mampu menghadapi tekanan.
Padahal, persoalan kesehatan mental tidak dapat disederhanakan menjadi kelemahan karakter ataupun kegagalan seseorang mengendalikan dirinya.
Pendekatan semacam itu bukan hanya keliru secara sosial, tetapi juga berpotensi membuat orang menunda mencari pertolongan karena takut dipermalukan.
Ruang aman, karena itu, tidak cukup dibangun melalui ajakan untuk berbagi cerita. Ruang aman harus menjamin bahwa cerita tersebut tidak digunakan untuk merendahkan, mendiskriminasi, menyebarkan rahasia, atau membatasi kesempatan seseorang dalam pendidikan dan pekerjaan.
Ketika kepedulian berhenti pada slogan
Namun, mendengar saja tidak cukup. Di sinilah bagian paling kritis dari tema Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026: Real Change.
Masyarakat dapat menggelar seminar, memasang poster, membuat kampanye digital, dan mengunggah pesan tentang pentingnya mencintai diri sendiri.
Akan tetapi, semua itu kehilangan makna jika orang yang membutuhkan bantuan tetap kesulitan memperoleh layanan, menghadapi biaya yang tidak terjangkau, atau tidak mengetahui ke mana harus mencari pertolongan.
Kepedulian harus diuji melalui perubahan yang dapat dirasakan.
Di lingkungan pendidikan, misalnya, kesehatan mental tidak boleh dipisahkan dari kebijakan akademik, sistem penilaian, beban tugas, relasi dosen dan mahasiswa, serta mekanisme penanganan perundungan.
Kampus tidak cukup mengimbau mahasiswa menjaga keseimbangan hidup apabila pada saat bersamaan mengabaikan tekanan yang muncul dari lingkungan akademiknya sendiri.
Hal serupa berlaku di tempat kerja. Seruan agar pegawai menjaga kesehatan mental akan terdengar kontradiktif apabila budaya kerja terus menormalisasi lembur berlebihan, target yang tidak realistis, intimidasi, dan ketidakpastian tanpa dukungan memadai.
Dalam keluarga, perubahan berarti mengakhiri kebiasaan menganggap persoalan psikologis sebagai aib. Orang tua perlu membangun komunikasi yang memungkinkan anak mengungkapkan ketakutan tanpa langsung disalahkan.
Pasangan dan anggota keluarga juga perlu memahami bahwa mendukung seseorang bukan berarti selalu memiliki jawaban, melainkan bersedia menemani dan membantu mencari pertolongan yang tepat.
Dengan kata lain, kesehatan mental bukan semata-mata tanggung jawab individu. Lingkungan sosial, institusi pendidikan, dunia kerja, keluarga, dan pemerintah turut menentukan apakah seseorang memiliki kesempatan untuk hidup secara sehat dan bermartabat.
Jangan membebankan seluruh tanggung jawab kepada individu
Salah satu persoalan dalam wacana kesehatan mental adalah kecenderungan mengembalikan seluruh tanggung jawab kepada individu.
Ketika seseorang mengalami kelelahan, ia diminta beristirahat. Ketika cemas, ia diminta berpikir positif. Ketika tertekan, ia diminta mengelola emosi.
Semua itu dapat membantu dalam situasi tertentu. Namun, pendekatan tersebut menjadi tidak memadai apabila sumber tekanan justru berasal dari kondisi yang tidak dapat diselesaikan seorang diri.
Bagaimana seseorang dapat diminta menjaga keseimbangan hidup ketika menghadapi ketidakpastian ekonomi, beban pengasuhan, diskriminasi, kekerasan, atau lingkungan kerja yang tidak sehat? Bagaimana mahasiswa diminta mengelola kecemasan jika persoalan biaya pendidikan dan prospek pekerjaan tidak pernah dibicarakan secara serius?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mental juga memiliki dimensi sosial dan struktural. Tidak setiap penderitaan dapat diselesaikan melalui motivasi pribadi.
Karena itu, pemerintah dan pemangku kepentingan perlu memastikan layanan kesehatan mental mudah diakses, terjangkau, menjaga kerahasiaan, serta terhubung dengan layanan kesehatan primer dan dukungan profesional yang sesuai.
Upaya pencegahan juga perlu diperkuat melalui pendidikan literasi kesehatan mental, perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, serta kebijakan yang memperhatikan kesejahteraan psikologis.
Ukuran keberhasilan tidak cukup berupa banyaknya kegiatan sosialisasi. Yang lebih penting adalah apakah masyarakat mengetahui tempat mencari bantuan, apakah layanan tersedia ketika dibutuhkan, apakah hambatan akses berkurang, dan apakah orang yang mengalami masalah merasa aman untuk meminta pertolongan.
Mengakui luka bukan tanda kekalahan
Perubahan juga perlu dimulai dari cara seseorang memperlakukan dirinya sendiri. Dalam budaya yang mengagungkan ketangguhan, mengakui kelelahan sering dianggap sebagai kegagalan.
Padahal, mengetahui batas kemampuan merupakan bagian dari upaya menjaga diri.
Kalimat sederhana seperti, “Terima kasih sudah bertahan. Terima kasih sudah berjuang sampai titik ini,” dapat menjadi bentuk pengakuan terhadap perjuangan yang selama ini tidak terlihat.
Namun, kalimat penguatan tidak boleh berhenti menjadi penghiburan sesaat. Ia perlu diikuti kesediaan untuk mencari bantuan, memperbaiki lingkungan, dan mengubah kebiasaan yang memperburuk tekanan psikologis.
Meminta pertolongan profesional bukan tanda kelemahan. Sebaliknya, langkah tersebut menunjukkan keberanian untuk mengenali persoalan dan mencari penanganan yang sesuai.
Dukungan orang terdekat dapat membantu, tetapi tidak selalu menggantikan kebutuhan terhadap bantuan psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan yang kompeten.
Mendengarkan juga tidak berarti setiap orang harus bertindak sebagai terapis. Ada batas yang perlu dihormati. Terkadang, bentuk dukungan terbaik adalah menemani seseorang mengakses layanan profesional, menjaga kerahasiaannya, dan tidak memaksakan solusi berdasarkan pengalaman pribadi.
Dari suara menjadi perubahan
Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026 semestinya menjadi momentum untuk menguji keseriusan kita.
Apakah masyarakat telah memberi ruang kepada orang yang sedang berjuang? Apakah kampus dan tempat kerja bersedia mengevaluasi kebijakan yang berpotensi menambah tekanan? Apakah layanan kesehatan mental benar-benar mudah dijangkau? Dan apakah pemerintah menjadikan kesehatan mental sebagai bagian penting dari pembangunan manusia?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak dapat dijawab hanya dengan slogan.
Gagasan yang ditekankan dalam refleksi Dr. Muh. Anwar Fu’ady, S.Psi., M.A., membawa kita pada tiga langkah yang saling berkaitan: mendengar pengalaman nyata, mengakui penderitaan tanpa stigma, dan mengubah kepedulian menjadi tindakan.
Mendengar tanpa menghakimi membangun kepercayaan. Pengakuan terhadap pengalaman seseorang membuka jalan bagi empati. Namun, perubahan kebijakan, budaya, dan akses layananlah yang membuat empati memiliki dampak nyata.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia bukanlah seberapa meriah kampanye yang diselenggarakan, melainkan seberapa besar perubahan yang dirasakan oleh mereka yang membutuhkan dukungan.
Sebab, suara yang didengar tetapi tidak ditindaklanjuti hanya akan menjadi gema. Sementara suara yang diterima dengan empati dan dijawab melalui tindakan dapat membuka jalan menuju kehidupan yang lebih sehat, adil, dan manusiawi.
Selamat Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026. Terima kasih kepada setiap orang yang terus bertahan dan berjuang. Setiap manusia berharga, dan setiap suara layak didengar. Kini, tantangannya bukan sekadar mendengar, melainkan membuktikan bahwa kepedulian benar-benar mampu mengubah keadaan. ( Eno).
