Dosen FEB UMI Perkuat Kompetensi SDM Komunitas PRISM di Bangkok, Tekankan Adaptasi Digital
Bangkok | Serulingmedia.com – Perubahan teknologi digital menuntut sumber daya manusia (SDM) tidak sekadar mampu menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga adaptif, terus belajar, mampu bekerja sama, dan memanfaatkan teknologi secara efektif.
Tantangan tersebut menjadi fokus pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar di Bangkok, Thailand, Selasa (13/10/2026).
Melalui program bertajuk Penguatan Kompetensi SDM di Era Digital melalui Pelatihan Human Resource Development bagi Komunitas PRISM di Bangkok, Thailand, tim pengabdian mendorong peningkatan kapasitas anggota komunitas agar mampu menghadapi perubahan teknologi dan tuntutan organisasi yang semakin dinamis.
Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui kerja sama dosen FEB UMI dengan Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPkM) UMI. Tim dipimpin Rezky Ratna Sari Taufan, S.E., M.M., didampingi anggota Nurina Saffanah, S.E., M.Sc., dan Rasya Islami Dwi Julitha, S.M.
Ketua tim, Rezky Ratna Sari Taufan, mengatakan era digital ditandai perubahan cepat dalam teknologi, pola komunikasi, kebutuhan kompetensi, hingga lingkungan kerja. Kondisi ini mengharuskan organisasi membangun sistem pengembangan SDM yang terencana dan berkelanjutan.
Menurutnya, lingkungan kerja digital ditandai penggunaan teknologi dalam aktivitas organisasi serta pola kerja yang semakin fleksibel.
Karena itu, peningkatan kualitas SDM tidak cukup dilakukan melalui pelatihan sesaat, tetapi harus menjadi bagian dari proses pembelajaran yang terus-menerus.
“Pengembangan SDM perlu dilakukan secara terencana dan sistematis agar individu mampu mengikuti perubahan teknologi sekaligus meningkatkan kontribusinya terhadap organisasi,” menjadi penekanan dalam materi pelatihan tersebut.
Rezky menjelaskan, tantangan pengembangan SDM di tingkat komunitas masih mencakup perbedaan tingkat kompetensi antaranggota, cepatnya perubahan teknologi, belum optimalnya budaya belajar berkelanjutan, serta persoalan komunikasi dan koordinasi.
Jika tidak diantisipasi, kondisi tersebut berpotensi menghambat pelaksanaan program dan pencapaian tujuan organisasi. Oleh sebab itu, penguatan kapasitas individu harus berjalan seiring dengan pembenahan pola kerja dan kolaborasi.
HRD Bukan Sekadar Pelatihan
Dalam materi Human Resource Development (HRD), Rezky menjelaskan bahwa pengembangan sumber daya manusia merupakan pendekatan sistematis untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, kemampuan, dan kapasitas individu agar dapat memberikan kontribusi lebih baik bagi organisasi.
HRD, lanjutnya, merupakan proses jangka panjang yang menghubungkan perkembangan individu dengan kebutuhan organisasi.
Dengan demikian, keberhasilan pengembangan SDM tidak hanya diukur dari keikutsertaan seseorang dalam pelatihan, tetapi juga dari kemampuan menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam aktivitas nyata.
Tujuan utama HRD adalah meningkatkan kemampuan individu sekaligus mendukung pencapaian organisasi. Untuk mewujudkannya, kompetensi SDM dibangun melalui empat unsur utama, yakni knowledge (pengetahuan), skill (keterampilan), attitude (sikap), dan behavior (perilaku).
Keempat unsur tersebut saling melengkapi dalam membentuk kualitas SDM yang mampu bekerja secara profesional, bertanggung jawab, dan produktif di tengah perubahan lingkungan kerja.
Lima Kompetensi Penting di Era Digital
Rezky juga menekankan sejumlah kompetensi yang semakin dibutuhkan pada era digital. Pertama, kemampuan memahami dan menggunakan teknologi untuk menunjang pekerjaan. Kedua, keterampilan menyampaikan informasi secara efektif agar komunikasi berjalan jelas dan tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Ketiga, kemampuan bekerja sama melalui berbagai platform digital. Keempat, kecakapan menganalisis informasi dan mengambil keputusan secara tepat.
Kelima, kemampuan beradaptasi serta menemukan solusi ketika menghadapi persoalan.
Kompetensi tersebut dinilai penting bagi komunitas karena pelaksanaan program membutuhkan koordinasi, pembagian tugas, komunikasi yang efektif, dan kemampuan menyelesaikan masalah secara kolektif.
Pengembangan kompetensi juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi masing-masing anggota. Pendekatan yang seragam tanpa mempertimbangkan kesenjangan kemampuan berisiko membuat proses pembelajaran kurang efektif.
Karena itu, pelatihan menekankan pentingnya menggabungkan pembelajaran formal dan informal. Pembelajaran formal dapat dilakukan melalui pelatihan, seminar, dan e-learning. Sementara itu, pembelajaran informal dapat berlangsung melalui diskusi, pertukaran pengalaman, serta praktik langsung dalam aktivitas organisasi.
Kombinasi kedua pendekatan tersebut diharapkan mampu membangun budaya belajar yang lebih fleksibel dan berkelanjutan.
Melalui pengabdian kepada masyarakat ini, dosen FEB UMI Makassar mendorong komunitas PRISM di Bangkok untuk menempatkan pengembangan SDM sebagai bagian penting dari penguatan organisasi.
Di tengah perubahan digital yang terus berlangsung, kemampuan beradaptasi, berkolaborasi, dan belajar secara berkelanjutan menjadi modal penting untuk menjaga efektivitas program dan meningkatkan kualitas kinerja komunitas.( Yahya Patta/ Buang Supeno)
