Besti Berkata: Dari Aba-Aba Menjadi Cerita Reuni
Lembang | Serulingmedia.com – Ada kalimat yang tidak pernah direncanakan untuk menjadi kenangan.
Ia muncul begitu saja. Diucapkan begitu saja. Bahkan mungkin pada awalnya tidak ada yang menganggapnya penting.
Namun, ketika sebuah kebersamaan berlangsung dalam suasana yang penuh tawa, kalimat sederhana itu bisa berubah menjadi sesuatu yang istimewa.
Itulah “Besti berkata”.

Saya kira tidak banyak yang menyangka dua kata itu akhirnya menjadi semacam ikon Reuni ke-4 Mumet Yogyakarta di Bandung, 2026.
Awalnya hanya sebuah aba-aba.
Di Astro Highland Ciater, Subang, Dina Gitawati berdiri mengendalikan permainan outbound. Para alumni mengikuti setiap instruksi yang diberikan.
“Besti berkata…”
Maka bergeraklah peserta.
“Besti berkata…”
Kembali mereka mengikuti.
Tetapi ketika perintah tidak diawali “Besti berkata”, peserta harus diam.
Di situlah kelucuan dimulai.
Ada yang terlalu bersemangat bergerak. Ada yang terlambat menyadari bahwa aba-abanya tidak sah. Ada pula yang sekadar ikut-ikutan karena mungkin sudah lupa aturan permainan.
Usia yang sudah tidak muda lagi ternyata tidak menjadi penghalang untuk kembali bersikap seperti mahasiswa.
Tawa pecah.
Saling menggoda.
Saling menyalahkan dengan cara yang justru membuat suasana semakin akrab.
Saya melihat, pada saat seperti itu, batas antara masa lalu dan masa kini seolah menghilang.
Mereka yang dahulu pernah duduk bersama di bangku MMTC Yogyakarta, setelah puluhan tahun menjalani kehidupan masing-masing, kembali menjadi satu keluarga besar.
Tidak ada jabatan.
Tidak ada pangkat.
Tidak ada status.
Yang ada hanya teman lama.
Dan “Besti berkata” menjadi saksi kecil dari perjumpaan itu.
Mungkin begitulah cara kenangan bekerja.
Kita tidak pernah tahu bagian mana dari sebuah perjalanan yang kelak paling kita ingat.
Bisa saja bukan acara pembukaan.
Bukan pula sambutan para pejabat.
Bukan juga makan malam atau foto bersama.
Kadang justru sesuatu yang sederhana—seperti satu kalimat dalam permainan—yang menetap paling lama dalam ingatan.
“Besti berkata.”

Kalimat itu kemudian dibawa pulang dari Ciater.
Masuk ke percakapan para alumni.
Menjadi bahan candaan.
Menjadi penanda suasana.
Dan perlahan-lahan berubah menjadi identitas kecil dari Reuni ke-4 MMTC Yogyakarta di Bandung.
Barangkali beberapa tahun mendatang, ketika reuni kembali berlangsung di kota lain, seseorang akan tiba-tiba mengucapkannya.
“Besti berkata…”
Yang lain mungkin langsung tertawa.
Sebab mereka tidak sedang mendengar dua kata biasa.
Mereka sedang mendengar kembali suara masa lalu.
Mengingat Ciater.
Mengingat Bandung.
Mengingat teman-teman.
Mengingat bagaimana pada suatu hari, orang-orang yang rambutnya sudah mulai memutih itu rela bermain outbound, bergerak mengikuti aba-aba, dan tertawa tanpa memikirkan usia.
Reuni memang aneh.
Ia mempertemukan orang-orang yang sebenarnya sudah lama berpisah dengan kehidupannya masing-masing.
Ada yang telah menjadi pimpinan.
Ada yang telah memasuki masa pensiun.
Ada yang tinggal jauh dari Yogyakarta.
Ada yang mungkin setiap hari sibuk dengan keluarga dan pekerjaannya.
Tetapi ketika bertemu dalam sebuah reuni, semua kembali sederhana.
Saling memanggil nama lama.
Saling mengingat cerita lama.
Saling menertawakan masa lalu.
Dan kemudian menemukan bahwa ternyata persahabatan itu tidak pernah benar-benar pergi.
Ia hanya menunggu untuk dihidupkan kembali.
“Besti berkata” adalah salah satu cara kenangan itu hidup kembali.
Sebuah aba-aba yang akhirnya menjadi cerita.
Sebuah permainan yang akhirnya menjadi memori.
Sebuah kalimat yang akhirnya menjadi ikon.
Mungkin suatu saat nanti kita akan lupa siapa yang menang dalam permainan outbound di Astro Highland Ciater.
Kita juga mungkin lupa siapa yang paling cepat atau paling lambat mengikuti aba-aba.
Tetapi saya yakin, sebagian besar akan mengingat satu kalimat:
“Besti berkata…”
Sebab pada akhirnya, yang paling penting dari sebuah reuni bukanlah siapa yang menang.
Bukan pula seberapa meriah acaranya.
Melainkan apakah setelah semuanya selesai, ada sesuatu yang membuat kita tersenyum ketika mengingatnya.
Dan Reuni ke-4 MMTC Yogyakarta di Bandung telah menemukan sesuatu itu.
Namanya sederhana.
Besti berkata.
Dua kata
Tetapi di dalamnya ada tawa, persahabatan, masa muda, perjalanan panjang, dan kenangan yang mungkin akan terus dibawa pulang.
Karena waktu boleh memutihkan rambut.
Tetapi persahabatan, jika terus dirawat, tidak pernah benar-benar menjadi tua.( Eno)
