Prof. Dr. Hj. Sutiah: 65 Tahun UIN Maliki, Berkarya dengan Hati dan Menginspirasi Peradaban
Malang | Serulingmedia.com – Dies Maulidiyah ke-65 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menjadi momentum untuk merefleksikan kembali hakikat pendidikan tinggi Islam.
Bagi Prof. Dr. Hj. Sutiah, M.Pd., akademisi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, keberhasilan universitas tidak cukup diukur dari reputasi internasional, kemajuan infrastruktur, maupun prestasi akademik, tetapi juga dari keluhuran nilai, ketulusan pengabdian, dan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dalam refleksinya bertajuk “65 Tahun UIN Maliki Malang: Berkarya dengan Hati, Berinovasi untuk Negeri, Menginspirasi Menuju Ridha Ilahi”, Sutiah menegaskan bahwa perjalanan 65 tahun bukan sekadar pertambahan usia institusi, melainkan jejak panjang perjuangan, pengabdian, harapan, dan doa dari berbagai generasi.
Menurutnya, Dies Maulidiyah ke-65 dan Lustrum XIII harus menjadi kesempatan untuk memperbarui komitmen seluruh sivitas akademika dalam menjadikan kampus sebagai rumah ilmu, rumah nilai, rumah pengabdian, sekaligus rumah kemanusiaan.
“Kebesaran sebuah universitas tidak hanya diukur dari tingginya peringkat atau megahnya bangunan, melainkan juga dari keluhuran nilai, kedalaman ilmu, dan luasnya kebermanfaatan yang dihadirkannya bagi kehidupan,” demikian esensi refleksi Sutiah.
Merawat Sejarah, Memperkuat Ruh Pendidikan
Sutiah mengingatkan, perjalanan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sejak 28 Oktober 1961, melalui berbagai tahapan transformasi kelembagaan hingga menjadi universitas Islam negeri, merupakan bukti bahwa cita-cita besar tumbuh melalui konsistensi dan pengabdian lintas generasi.
Di balik perkembangan tersebut, terdapat nilai fundamental yang harus terus dijaga, yakni keikhlasan dalam mengabdi, ketulusan dalam mendidik, serta kesadaran bahwa ilmu merupakan amanah dari Allah SWT.
Sejarah universitas, menurutnya, bukan hasil kerja satu orang atau satu generasi. Kemajuan tersebut merupakan buah kolaborasi para pemimpin, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, dan masyarakat yang meyakini pendidikan sebagai jalan menuju kemuliaan.
Karena itu, mengenang perjalanan 65 tahun tidak semestinya berhenti pada nostalgia dan kebanggaan atas capaian masa lalu. Refleksi sejarah harus melahirkan tanggung jawab untuk meningkatkan mutu pendidikan, memperbaiki pelayanan, dan memperluas pengabdian kepada masyarakat.
Rasa syukur atas perjalanan panjang institusi, lanjutnya, harus diwujudkan melalui karya yang semakin bermutu dan pelayanan yang semakin manusiawi.
Berkarya dengan Hati di Tengah Transformasi Digital
Bagi Sutiah, pendidikan pada hakikatnya bukan sekadar proses mentransfer pengetahuan, melainkan membangun manusia seutuhnya.
Pendidikan harus mampu mengembangkan kecerdasan intelektual, kematangan emosional, kedalaman spiritual, dan kepekaan sosial.
Prinsip berkarya dengan hati menjadi penting dalam menjalankan seluruh aktivitas akademik. Dosen tidak cukup hanya memenuhi kewajiban mengajar, tetapi harus mampu menumbuhkan semangat belajar dan membentuk karakter mahasiswa.
Peneliti juga tidak semestinya hanya mengejar publikasi ilmiah, tetapi perlu menghadirkan jawaban atas persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Sementara itu, tenaga kependidikan harus memaknai pelayanan bukan sekadar urusan administratif, melainkan tanggung jawab yang membutuhkan empati dan kepedulian.
Tantangan tersebut semakin relevan di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI).
Teknologi dapat mempercepat akses terhadap pengetahuan, tetapi tidak sepenuhnya menggantikan keteladanan pendidik.
Kecerdasan buatan dapat membantu menjawab pertanyaan, tetapi kebijaksanaan, kejujuran, kasih sayang, dan tanggung jawab moral tetap harus dibangun melalui proses pendidikan.
Dalam konteks ini, UIN Maliki Malang memiliki modal penting melalui paradigma integrasi ilmu dan agama serta pengembangan karakter Ulul Albab.
Nilai tersebut perlu dihidupkan dalam pembelajaran, penelitian, budaya akademik, dan pelayanan kelembagaan agar kemajuan teknologi tetap berjalan seiring dengan penguatan kemanusiaan.
Pendidikan yang berhasil, menurut Sutiah, bukan hanya menghasilkan manusia yang menguasai banyak pengetahuan, melainkan juga manusia yang memahami tujuan dan tanggung jawab dalam menggunakan ilmunya.
Inovasi Kampus Harus Menjawab Persoalan Masyarakat
Memasuki usia ke-65, UIN Maliki Malang juga dihadapkan pada tuntutan untuk terus berinovasi.
Perubahan dunia kerja, perkembangan teknologi, persoalan lingkungan, kesenjangan sosial, dan dinamika global membutuhkan pendekatan pendidikan tinggi yang adaptif dan relevan.
Namun, Sutiah mengingatkan bahwa inovasi tidak boleh dimaknai sebatas penggunaan teknologi baru atau modernisasi sistem.
Inovasi sejati menuntut keberanian memperbarui pola pikir, mengembangkan metode pembelajaran, dan menemukan solusi yang memberikan manfaat bagi kehidupan.
Mahasiswa perlu didorong menjadi pembelajar mandiri, pemikir kritis, pemecah masalah, dan pencipta gagasan baru.
Pada saat yang sama, penelitian perguruan tinggi harus semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat, mulai dari pendidikan, kesehatan, lingkungan, ekonomi umat, hingga literasi digital.
Tema Dies Maulidiyah ke-65, “Dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang untuk Dunia: Peran Strategis Kampus dalam Membangun Peradaban Kesehatan”, juga menegaskan pentingnya kontribusi kampus dalam membangun kesejahteraan manusia secara menyeluruh.
Kesehatan, dalam perspektif tersebut, tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga kesejahteraan psikologis, spiritual, sosial, dan lingkungan.
Perguruan tinggi Islam memiliki peluang untuk mengembangkan pendekatan keilmuan yang holistik dengan mempertemukan hasil penelitian ilmiah, nilai keagamaan, etika, dan kepedulian kemanusiaan.
“Inovasi yang lahir dari perguruan tinggi seyogianya tidak berhenti di ruang laboratorium, seminar, maupun jurnal ilmiah. Inovasi harus bergerak menuju masyarakat, menyentuh persoalan kehidupan, dan menghadirkan perubahan yang dapat dirasakan,” menjadi pesan penting dalam refleksi tersebut.
Dengan demikian, kemuliaan ilmu tidak hanya terletak pada pengetahuan yang dihasilkan, tetapi juga pada kemaslahatan yang mampu diwujudkan.
Membangun Generasi Ulul Albab melalui Keteladanan
Sutiah juga menyoroti pentingnya keteladanan dalam membentuk generasi Ulul Albab, yakni generasi yang memadukan kedalaman spiritual, keluasan ilmu, keluhuran akhlak, dan kematangan profesional.
Menurutnya, nilai-nilai kebaikan tidak cukup disampaikan melalui ceramah atau dicantumkan dalam dokumen kurikulum.
Nilai tersebut harus hadir dalam perilaku sehari-hari seluruh warga kampus.
Mahasiswa belajar tentang kejujuran bukan hanya melalui teori etika, tetapi juga dari integritas dosen dalam mengajar, meneliti, dan melakukan penilaian.
Kedisiplinan tidak cukup diajarkan melalui peraturan, tetapi harus dicontohkan melalui konsistensi menjalankan tanggung jawab.
Begitu pula kepedulian sosial harus dibangun melalui pengalaman nyata, bukan sekadar menjadi konsep dalam ruang kelas.
Karena itu, kampus perlu menghadirkan ekosistem pendidikan yang memberikan ruang tumbuh bagi seluruh sivitas akademika.
Mahasiswa perlu memperoleh pendampingan untuk mengembangkan potensinya, dosen didukung untuk memperluas kreativitas dan keilmuan, sedangkan tenaga kependidikan dihargai sebagai bagian penting dari kemajuan institusi.
Budaya akademik yang sehat juga harus dibangun melalui kolaborasi, penghargaan terhadap prestasi, keterbukaan terhadap gagasan, dan semangat saling menguatkan.
Generasi Ulul Albab, dalam pemaknaan Sutiah, bukan hanya mereka yang cerdas secara intelektual, melainkan juga pribadi yang mampu menjaga hati, menghadirkan manfaat, dan bertanggung jawab atas ilmu yang dimiliki.
Ketika karakter tersebut tumbuh kuat, universitas tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga melahirkan agen perubahan yang mampu memberikan inspirasi bagi masyarakat.
Mendunia tanpa Kehilangan Identitas
Cita-cita UIN Maliki Malang menjadi universitas bereputasi internasional merupakan bagian penting dari perjalanan institusi.
Berbagai capaian akademik dan penguatan jejaring global patut disyukuri sebagai hasil kerja kolektif.
Namun, Sutiah mengingatkan bahwa semakin tinggi reputasi yang diraih, semakin besar pula tanggung jawab moral yang harus dijaga.
Internasionalisasi tidak semestinya hanya dimaknai sebagai pengakuan dari dunia luar. Lebih dari itu, reputasi global harus menjadi jalan untuk memperluas kontribusi keilmuan, mempertemukan peradaban, dan menghadirkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin dalam kehidupan global.
Universitas yang mendunia tidak harus kehilangan akar spiritual dan identitas budayanya. Justru kekuatan nilai tersebut dapat menjadi keunggulan dalam menghadapi persaingan pendidikan tinggi.
UIN Maliki Malang perlu terus menjaga keseimbangan antara pencapaian akademik dan pembentukan karakter, kecanggihan teknologi dan kedalaman spiritual, serta ambisi kelembagaan dan kepedulian kemanusiaan.
Pertanyaan mendasar yang perlu terus diajukan bukan hanya seberapa jauh universitas dikenal dunia, melainkan seberapa besar dunia memperoleh manfaat dari keberadaan universitas.
Reputasi merupakan pencapaian, tetapi kebermanfaatan adalah warisan yang jauh lebih bermakna.
Menggapai Ridha Ilahi melalui Pengabdian
Pada akhirnya, Sutiah menempatkan ridha Ilahi sebagai orientasi tertinggi dalam seluruh aktivitas pendidikan, penelitian, kepemimpinan, dan pengabdian.
Dalam perspektif Islam, kualitas amal tidak hanya ditentukan oleh besarnya pekerjaan yang dilakukan, tetapi juga oleh niat, keikhlasan, integritas, dan manfaat yang dihasilkan.
Bekerja dengan hati berarti menjalankan amanah dengan kesungguhan dan keikhlasan. Berinovasi berarti menggunakan anugerah akal untuk menghadirkan kebaikan. Sementara menginspirasi berarti menebarkan nilai dan keteladanan agar manfaat ilmu terus berkembang melampaui batas ruang dan waktu.
Ridha Ilahi, menurut refleksi tersebut, tidak boleh berhenti sebagai slogan seremonial. Nilai itu harus tercermin dalam cara berpikir, mengambil keputusan, memperlakukan sesama, serta menjalankan tanggung jawab kelembagaan.
Ketika pendidik mengajar dengan tulus, pemimpin mengambil keputusan secara adil, peneliti menjaga kejujuran ilmiah, dan mahasiswa belajar dengan sungguh-sungguh, aktivitas akademik dapat menjadi bagian dari ibadah.
Pesan ini sejalan dengan kandungan Surah Al-Mujadilah ayat 11 yang menegaskan bahwa Allah SWT mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu.
Karena itu, kebesaran UIN Maliki Malang tidak cukup dibangun melalui kecerdasan intelektual. Kampus juga membutuhkan kejernihan hati, keikhlasan niat, integritas yang kuat, dan kesinambungan pengabdian.
Usia 65 Tahun, Saatnya Menambah Makna
Memasuki usia ke-65, UIN Maliki Malang memiliki kesempatan untuk memperbarui komitmen bersama dalam menghadirkan pendidikan tinggi Islam yang unggul sekaligus bermakna bagi kehidupan.
Kebanggaan atas perjalanan panjang universitas harus menjadi energi untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan memperluas kontribusi. Sebab, keberhasilan bukanlah keadaan ketika seluruh cita-cita telah tercapai, melainkan ketika semangat untuk terus berbuat baik tidak pernah berhenti.
Refleksi Sutiah mengajak seluruh keluarga besar UIN Maliki Malang untuk terus berkarya dengan hati, berinovasi untuk negeri, dan menginspirasi masyarakat dengan ilmu serta keteladanan.
Karya membutuhkan ketulusan agar tidak kehilangan jiwa. Inovasi membutuhkan kepedulian agar mampu menjawab kebutuhan zaman.
Sementara inspirasi membutuhkan keteladanan agar pendidikan benar-benar menggerakkan manusia untuk menghadirkan kebaikan.
Pada akhirnya, universitas yang besar bukan hanya universitas yang mampu membawa namanya ke panggung dunia, tetapi juga yang mampu menyentuh hati manusia, menerangi kehidupan dengan ilmu, dan meninggalkan jejak kebaikan bagi peradaban.
Selamat Dies Maulidiyah ke-65 dan Lustrum XIII UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Berkarya dengan hati, berinovasi untuk negeri, menginspirasi dunia, dan menggapai ridha Ilahi. ( Eno).
