Dies Maulidiyah ke-65, Rektor UIN Malang Tegaskan Tiga Pilar Peradaban Kesehatan

2246563_11zon

Malang | Serulingmedia.com – Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Ilfi Nur Diana, M.Si., menegaskan bahwa pembangunan peradaban kesehatan harus bertumpu pada tiga pilar utama, yakni kesehatan raga, kesehatan jiwa, dan kelestarian lingkungan.

Penegasan itu disampaikan dalam peringatan Dies Maulidiyah ke-65 dan Lustrum XIII UIN Malang, Rabu (28/10/2026), dengan mengusung tema “Dari UIN Malang untuk Dunia: Peran Strategis Kampus dalam Membangun Peradaban Kesehatan.”

Menurut Ilfi, tema tersebut dipilih secara sengaja untuk menegaskan bahwa kesehatan bukan semata-mata urusan rumah sakit atau layanan medis, melainkan fondasi penting dalam membangun peradaban yang berkelanjutan.

“Sebuah peradaban hanya sekuat manusia yang menopangnya. Bagi kami, ada tiga hal yang tidak bisa ditawar: kesehatan raga, kejernihan jiwa, dan kelestarian lingkungan,” tegasnya.

Ia menjelaskan, kesehatan memiliki keterkaitan erat dengan berbagai aspek kehidupan. Tanpa raga yang sehat, ilmu tidak dapat diamalkan secara optimal. Tanpa jiwa yang sehat, hukum sulit ditegakkan dengan baik. Sementara tanpa lingkungan yang sehat, pertumbuhan ekonomi juga akan menghadapi hambatan.

Karena itu, UIN Malang menempatkan kesehatan sebagai perspektif bersama yang menaungi seluruh disiplin ilmu di lingkungan kampus.

“Sehat raga, sehat jiwa, dan sehat bumi harus menjadi cara pandang kita dalam membangun peradaban,” ujarnya.

Tiga Pilar Pembangunan Peradaban

Ilfi memaparkan, pilar pertama adalah sehat raga, yang diwujudkan melalui pengembangan ilmu kedokteran, kesehatan masyarakat, dan inovasi pengobatan yang berpihak kepada masyarakat, terutama kelompok yang membutuhkan.

Dalam beberapa tahun terakhir, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) menjadi bagian penting dari pengembangan UIN Malang.

Gedung Ar-Rahim di Kampus 3, Batu, kini menjadi ruang pembelajaran bagi calon dokter dan tenaga kesehatan yang diharapkan memiliki kompetensi, kesantunan, dan integritas.

Salah satu bentuk pengabdian nyata ialah kegiatan khitan massal yang diselenggarakan mahasiswa kedokteran bersama dokter spesialis mitra sejak 2018.

Pada 2026, kegiatan tersebut memasuki penyelenggaraan kesembilan secara berturut-turut dalam rangkaian Dies Maulidiyah.

Menurut Ilfi, kegiatan itu menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti di ruang kuliah, tetapi harus hadir melalui pelayanan langsung kepada masyarakat.

UIN Malang juga mendorong pengembangan inovasi herbal Nusantara dengan mempertemukan kearifan lokal dan sains modern melalui penelitian yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.

Upaya tersebut diperkuat melalui pengembangan Maliki International Hospital sebagai rumah sakit pendidikan, sekaligus penguatan penelitian dan pengabdian masyarakat di bidang kesehatan.
Pilar kedua adalah sehat jiwa.

Ilfi menilai kesehatan mental perlu memperoleh perhatian yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik, termasuk dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan mendukung perkembangan mahasiswa.

Melalui Fakultas Psikologi, UIN Malang menjalankan program Psikologi Goes to Pesantren. Puluhan dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa terlibat dalam pendampingan santri di sepuluh pesantren, enam di antaranya berada di Malang Raya dan empat lainnya di luar daerah.

Program tersebut menjadi wujud kolaborasi kampus dan pesantren dalam memperluas akses pendampingan psikologis.

“Kampus datang untuk mendengar dan menemani, tidak untuk menggurui,” ungkap Ilfi, menggambarkan pendekatan yang ingin dibangun dalam pelayanan kesehatan mental.

Ia juga menekankan pentingnya menciptakan kampus yang bebas dari perundungan, kekerasan verbal, kekerasan seksual, dan kekerasan mental.

Kampus harus menjadi ruang aman bagi mahasiswa untuk belajar, bertumbuh, dan mengembangkan potensi diri.

Adapun pilar ketiga adalah sehat bumi, yang diwujudkan melalui gerakan kampus hijau, pengurangan polusi, penanaman pohon, serta penguatan kesadaran lingkungan berbasis nilai-nilai Islam.

Ilfi menegaskan bahwa merawat lingkungan merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas satu fakultas atau unit kerja.

Seluruh fakultas di UIN Malang telah menyusun buku seri ekoteologi sesuai bidang keilmuan masing-masing.

Melalui pendekatan tersebut, nilai-nilai keislaman dan kepedulian lingkungan diintegrasikan ke dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Pascasarjana turut memperkuat kajian ekoteologi melalui tesis dan disertasi berbasis integrasi sains dan Islam, sedangkan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) menjalankan berbagai program pengabdian melalui UIN Mengabdi Qaryah Thayyibah, Pesantren Sehat dan Mandiri, serta Semesta Mengabdi.

LP2M juga mendampingi pesantren mitra dalam pengembangan lingkungan ramah melalui program Pesantren Metric.

Sementara itu, Lembaga Penjaminan Mutu menyiapkan data dan dokumen pendukung penilaian UI GreenMetric.

Di sisi tata kelola, Satuan Pengawasan Internal dan unit pelaksana teknis turut mengawal pengadaan panel surya, pengembangan bangunan hijau, serta penyiapan Edupark sebagai laboratorium hidup bagi sivitas akademika.

Kampus Hijau dan Transformasi Digital

Lebih lanjut, Ilfi menyebut pembangunan kampus hijau berjalan beriringan dengan transformasi digital.

Peluncuran layanan Single Sign On pada Dies Maulidiyah tahun sebelumnya menjadi salah satu langkah awal digitalisasi tata kelola UIN Malang.

Layanan digital yang terintegrasi diharapkan mampu menghemat penggunaan kertas, waktu, dan tenaga, sekaligus meningkatkan efisiensi pelayanan akademik dan administrasi.

Dengan demikian, upaya menjaga lingkungan dapat berjalan seiring dengan perbaikan tata kelola perguruan tinggi.

Bagi Ilfi, ketiga pilar tersebut bukan agenda yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari satu kesatuan pembangunan peradaban yang berlandaskan nilai-nilai keislaman dan kemanfaatan sosial.

“Ketiganya tumbuh dari pohon yang sama: akarnya iman, batangnya ilmu, buahnya manfaat bagi sesama,” tuturnya.

Melalui momentum Dies Maulidiyah ke-65 dan Lustrum XIII, UIN Malang meneguhkan komitmen untuk mengembangkan perguruan tinggi yang tidak hanya unggul dalam pendidikan dan penelitian, tetapi juga berkontribusi nyata terhadap kesehatan masyarakat, kesejahteraan psikologis, dan kelestarian lingkungan.

Tema “Dari UIN Malang untuk Dunia” sekaligus menjadi penegasan bahwa peran perguruan tinggi tidak berhenti pada pengembangan ilmu di lingkungan kampus, tetapi harus memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat dan peradaban.( Eno)