Prof. Dr. H. M. Abdul Hamid: Bukan Sekadar Mendunia, UIN Maliki Harus Mengubah Dunia

2242560_11zon

Malang | Serulingmedia.com — Memasuki usia ke-65, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menghadapi tantangan untuk melampaui capaian pemeringkatan internasional.

Setelah bertumbuh dari kampus sederhana menjadi perguruan tinggi yang diperhitungkan di tingkat dunia, universitas ini dituntut memperkuat budaya riset, meningkatkan mutu akademik, dan menghadirkan ilmu pengetahuan yang berdampak nyata bagi kemanusiaan.

Pesan tersebut disampaikan Prof. Dr. H. M. Abdul Hamid, M.A., Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dalam refleksi Dies Maulidiyah ke-65 dan Lustrum XIII bertajuk “Dari Kampus Sederhana ke Panggung Dunia: Ujian Sesungguhnya UIN Maliki Malang di Usia 65 Tahun.”

Menurut Abdul Hamid, keberhasilan membangun institusi dan meraih pengakuan internasional patut disyukuri.

Namun, pencapaian tersebut tidak boleh membuat sivitas akademika berpuas diri. Tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan kelembagaan berjalan seiring dengan kedalaman ilmu, kualitas penelitian, dan kontribusi universitas bagi masyarakat.

“Ukuran penting sebuah universitas bukan hanya seberapa jauh ia telah berubah dari masa lalunya, melainkan seberapa besar ia mampu menghadirkan perubahan melalui ilmu pengetahuan, integritas, dan kontribusi nyata bagi kemanusiaan,” demikian pesan reflektif Abdul Hamid.

Dari Kampus Sederhana Menuju Panggung Dunia

Abdul Hamid bukan sekadar menyaksikan perjalanan UIN Maliki Malang dari kejauhan. Ia mengenal kampus tersebut sejak 1992, ketika menempuh studi Pendidikan Bahasa Arab di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang. Setelah menyelesaikan studi pada September 1996, ia kembali mengabdi sebagai dosen luar biasa pada Maret 1997.

Sejak itu, ia menyaksikan transformasi institusi yang bermula dari Fakultas Tarbiyah Malang pada 28 Oktober 1961 sebagai cabang IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Perjalanan kelembagaan berlanjut menjadi STAIN Malang pada 1997, Universitas Islam Indonesia-Sudan pada 2002, kemudian menjadi Universitas Islam Negeri Malang melalui Keputusan Presiden Nomor 50 Tahun 2004. Sejak 2009, institusi ini menggunakan nama UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Transformasi tersebut bukan semata-mata pergantian nama dan status. Penguatan bahasa Arab dan Inggris serta tradisi ma’had pada masa kepemimpinan Prof. Dr. Imam Suprayogo menjadi fondasi pendidikan yang memadukan penguasaan ilmu, pembentukan karakter, dan kehidupan pesantren.

Fondasi itu kemudian dilanjutkan melalui pengembangan pendidikan kedokteran, penguatan sumber daya akademik, pembangunan infrastruktur, dan perluasan kerja sama internasional pada masa kepemimpinan berikutnya.

Di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., pengembangan kelembagaan terus berlanjut, termasuk pembentukan Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam serta Fakultas Teknik pada 2026.

Capaian dalam Times Higher Education World University Rankings (THE WUR) 2027, yang menempatkan UIN Malang dalam kelompok 10 besar perguruan tinggi Indonesia dan peringkat dunia 1201–1400, menjadi salah satu penanda perjalanan internasionalisasi kampus tersebut.

Abdul Hamid menilai, capaian itu merupakan hasil kerja kolektif lintas generasi. Setiap kepemimpinan telah meletakkan fondasi dan membuka jalan bagi perkembangan berikutnya.

Karena itu, menghormati sejarah tidak cukup dilakukan dengan mengenang keberhasilan para pendahulu. Warisan tersebut harus diteruskan melalui peningkatan standar akademik dan keberanian menghadapi tantangan baru.

Peringkat Dunia Bukan Garis Akhir

Bagi Abdul Hamid, universitas kelas dunia tidak cukup diukur dari kemegahan gedung, kelengkapan program studi, atau posisi dalam pemeringkatan internasional.

Pengalaman akademiknya di King Saud University, pendidikan doktoral di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, program pascadoktoral di Université Mohammed V, Rabat, Maroko, serta kunjungan akademik ke berbagai negara memperluas perspektifnya mengenai pengembangan universitas.

Ia melihat bahwa keunggulan perguruan tinggi bertumpu pada budaya akademik yang hidup, penelitian bermutu, produktivitas ilmiah, integritas, dan kolaborasi yang menghasilkan manfaat nyata.

Karena itu, capaian pemeringkatan global seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat kualitas substantif, bukan sekadar kebanggaan institusional.

Sejumlah pertanyaan perlu terus diajukan: seberapa besar kontribusi penelitian dosen terhadap perkembangan ilmu pengetahuan?

Sejauh mana publikasi ilmiah menjadi rujukan dan memberikan pengaruh? Apakah mahasiswa telah tumbuh menjadi pemikir mandiri yang kritis, kreatif, dan berintegritas?

Begitu pula kerja sama internasional. Apakah jejaring yang dibangun telah menghasilkan penelitian bersama, publikasi berkualitas, inovasi, dan pertukaran akademik yang memberikan manfaat timbal balik?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut, menurut Abdul Hamid, bukan bentuk pesimisme, melainkan tanggung jawab akademik.
Universitas tidak cukup hanya hadir dalam peta pendidikan tinggi dunia. Lebih dari itu, universitas harus mampu menghasilkan pengetahuan, gagasan, dan solusi yang dibutuhkan masyarakat.

Lima Agenda Mengubah Capaian Menjadi Kontribusi

Untuk menjawab tantangan tersebut, Abdul Hamid menekankan lima agenda strategis yang perlu terus diperjuangkan UIN Maliki Malang.

Pertama, membangun budaya riset yang kuat. Penelitian harus berorientasi pada kebaruan, ketelitian metodologis, integritas data, dan kontribusi nyata terhadap pengembangan ilmu pengetahuan.

Kedua, meningkatkan mutu pembelajaran. Mahasiswa tidak cukup hanya memperoleh nilai dan ijazah. Mereka perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, kompetensi profesional, kreativitas, dan tanggung jawab sosial.

Ketiga, memperkuat integrasi Islam dan sains. Integrasi tersebut harus berkembang menjadi tradisi intelektual yang produktif, bukan sekadar identitas simbolis. Nilai-nilai Islam perlu memperdalam orientasi etis dan kemanusiaan ilmu, sementara disiplin akademik menjamin pengetahuan dapat diuji dan dipertanggungjawabkan.

Keempat, mengubah kerja sama internasional menjadi produktivitas akademik. Nota kesepahaman harus ditindaklanjuti dengan penelitian bersama, publikasi bermutu, pengembangan kurikulum, dan mobilitas akademik yang menghasilkan manfaat konkret.

Kelima, memperkuat tata kelola yang transparan dan meritokratis. Keunggulan akademik membutuhkan integritas kelembagaan, penghargaan terhadap kompetensi, akuntabilitas, serta konsistensi dalam menjaga standar mutu.

Sebagai Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga, Abdul Hamid menempatkan internasionalisasi sebagai salah satu instrumen strategis untuk memperkuat kualitas universitas.

Baginya, keberhasilan internasionalisasi tidak cukup dihitung dari jumlah dokumen kerja sama atau kunjungan kelembagaan.

Ukuran yang lebih penting adalah terbukanya ruang pertukaran pengetahuan, meningkatnya kolaborasi penelitian, serta bertambahnya kontribusi universitas dalam menjawab persoalan global.

Dengan pendekatan tersebut, kerja sama internasional diharapkan tidak berhenti pada hubungan formal antarlembaga, tetapi berkembang menjadi kekuatan yang mendorong kemajuan akademik.

Identitas Islam sebagai Kekuatan Peradaban

Di tengah tuntutan global, UIN Maliki Malang memiliki kekhasan yang perlu terus dirawat, yakni penguatan bahasa Arab dan Inggris, tradisi ma’had, pendidikan keislaman, serta pengembangan ilmu pengetahuan modern.

Bahasa Arab dan Inggris harus menjadi pintu untuk mengakses khazanah intelektual Islam sekaligus membangun dialog dengan dunia internasional.

Tradisi ma’had diharapkan membentuk kedisiplinan, kedalaman spiritual, kematangan sosial, dan etika akademik.

Sementara itu, integrasi Islam dan sains perlu diwujudkan melalui penelitian, pemikiran, dan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Abdul Hamid mengingatkan bahwa identitas Islam bukan alasan untuk merasa cukup dengan pencapaian yang telah diraih.

Sebaliknya, identitas tersebut harus menjadi landasan moral dan intelektual untuk menghasilkan ilmu yang berintegritas, menghadirkan kemaslahatan, serta menjawab persoalan kemanusiaan.

Dalam perspektif itu, universitas Islam memiliki tanggung jawab ganda: mengembangkan ilmu pengetahuan secara akademis sekaligus memastikan ilmu tersebut memberikan arah etis bagi kehidupan.

Usia 65 Tahun, Momentum Melangkah Lebih Jauh

Enam puluh lima tahun perjalanan UIN Maliki Malang merupakan kisah tentang ketekunan membangun, keberanian bertransformasi, dan kerja kolektif lintas generasi. Dari institusi yang sederhana, kampus ini terus berkembang menjadi universitas dengan jaringan dan pengakuan internasional.

Namun, bagi Abdul Hamid, rasa syukur atas perjalanan tersebut harus berjalan beriringan dengan evaluasi diri.

Jika pada masa lalu perjuangan utama adalah membangun status, fasilitas, struktur, dan identitas universitas, tantangan masa kini adalah memperdalam ilmu, memperkuat tradisi akademik, dan memperbesar manfaat bagi masyarakat.

Peringkat dunia menjadi pintu untuk membuka peluang yang lebih luas, tetapi kualitas penelitian, integritas akademik, dan kontribusi terhadap kemanusiaanlah yang harus menjadi orientasi jangka panjang.

Pada Dies Maulidiyah ke-65 dan Lustrum XIII, refleksi Abdul Hamid menegaskan bahwa universitas tidak boleh berhenti pada kebanggaan atas pencapaian masa lalu.

Sejarah harus menjadi pijakan untuk membangun masa depan yang lebih bermakna.

UIN Maliki Malang tidak cukup hanya dikenal dunia. Kampus ini harus mampu menghadirkan ilmu, inovasi, dan nilai-nilai kemanusiaan yang membawa perubahan bagi dunia.(Eno).