Prof. Dr. Hj. Siti Mahmudah: Kampus Unggul Tak Cukup, Mahasiswa Harus Sejahtera secara Psikologis
Malang I Serulingmedia.com – Di tengah tekanan akademik, ketidakpastian masa depan, persaingan di media sosial, dan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), perguruan tinggi menghadapi tantangan yang tak kalah penting dari mengejar prestasi akademik: memastikan mahasiswa merasa aman dan sejahtera secara psikologis.
Dekan Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Siti Mahmudah, M.Si., menilai kesejahteraan psikologis mahasiswa harus menjadi bagian dari misi utama kampus. Refleksi 65 tahun perjalanan UIN Malang, menurut dia, tidak cukup hanya mengukur capaian akademik dan reputasi institusi, tetapi juga perlu melihat sejauh mana kampus menjadi ruang yang aman bagi mahasiswa untuk bertumbuh.
Dalam refleksinya bertajuk Kampus sebagai Ruang Bertumbuh yang Aman dan Sejahtera secara Psikologis, Siti Mahmudah mengajak sivitas akademika meninjau kembali cara kampus mendidik generasi muda di tengah perubahan zaman.
Ia mengibaratkan usia 65 tahun sebagai fase integrity versus despair dalam teori perkembangan psikososial Erik Erikson. Pada fase ini, seseorang menengok perjalanan hidupnya untuk menemukan makna, kebijaksanaan, dan integritas. Sebaliknya, refleksi yang dipenuhi penyesalan dapat berujung pada keputusasaan.
Meski universitas bukanlah manusia, kehidupan di dalamnya dibentuk oleh manusia. Karena itu, refleksi institusi perlu diarahkan pada pembentukan kampus yang semakin bijaksana dalam menjalankan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
UIN Malang telah melewati perjalanan panjang, dari sebuah fakultas kecil pada era 1960-an hingga berkembang menjadi perguruan tinggi yang diperhitungkan secara nasional. Cita-cita melahirkan generasi ulul albab—insan yang mendalam zikirnya dan luas pikirnya—menjadi salah satu identitas penting kampus tersebut.
Namun, capaian itu tidak boleh membuat perguruan tinggi berhenti mengevaluasi diri. Generasi mahasiswa terus berubah, begitu pula tantangan yang mereka hadapi.
Mahasiswa hari ini hidup di tengah arus informasi dan media sosial yang kerap mendorong perbandingan sosial. Mereka juga berhadapan dengan ketidakpastian ekonomi, perubahan pasar kerja, perkembangan AI, serta tuntutan akademik yang semakin kompleks.
Di sisi lain, mahasiswa tidak selalu memasuki perguruan tinggi dengan kondisi psikologis yang baik-baik saja. Sebagian membawa persoalan pribadi yang belum terselesaikan. Kecemasan, ketakutan, hingga depresi menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tinggi tidak cukup hanya membekali mahasiswa dengan pengetahuan dan keterampilan profesional. Kampus juga perlu menyediakan lingkungan yang memungkinkan mereka menghadapi kesulitan tanpa kehilangan rasa aman, harapan, dan kesempatan untuk berkembang.
Empat agenda pembenahan
Siti Mahmudah menawarkan empat langkah yang dapat menjadi bahan evaluasi UIN Malang dalam memasuki fase perjalanan berikutnya.
Pertama, membangun layanan kesehatan mental yang utuh dan berjenjang.
Layanan konseling yang selama ini tersedia perlu diperkuat agar tidak hanya berorientasi pada penanganan ketika masalah telah muncul. Pendekatan kesehatan mental harus mencakup promosi, pencegahan, dan penanganan.
Pada tahap promotif, kampus membangun budaya serta keterampilan hidup yang membantu mahasiswa menghadapi persoalan sehari-hari. Tahap preventif dilakukan melalui deteksi dini dan dukungan kelompok bagi mahasiswa yang berisiko mengalami masalah psikologis.
Fakultas Psikologi telah menjalankan sejumlah upaya tersebut, meski masih memerlukan penguatan. Deteksi dini juga dapat dilengkapi dengan skrining kesiapan mahasiswa memasuki kehidupan ma’had, yang menjadi salah satu kekhasan pendidikan UIN Malang.
Adapun tahap kuratif diarahkan pada penanganan mahasiswa yang telah mengalami persoalan kesehatan mental. Seluruh tahapan itu membutuhkan dukungan pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa.
Kedua, memperkuat dukungan sebaya.
Lingkungan mahasiswa perlu dibangun agar tidak semata-mata menjadi ruang persaingan dalam meraih prestasi. Kegiatan kemahasiswaan dapat menjadi sarana menumbuhkan kepedulian, solidaritas, dan kemampuan saling menguatkan.
Mahasiswa tidak hanya didorong menyelesaikan tugas akademik, tetapi juga belajar menjadi teman yang suportif bagi sesamanya. Dukungan sebaya dapat membantu membangun daya lenting atau resiliensi ketika mahasiswa menghadapi tekanan perkuliahan maupun persoalan pribadi.
Ketiga, memberikan pelatihan pertolongan pertama psikologis.
Dosen wali, pengelola ma’had, pengurus organisasi mahasiswa, dan tenaga kependidikan perlu memiliki keterampilan dasar psychological first aid atau pertolongan pertama psikologis.
Pelatihan ini mencakup kemampuan mendengarkan tanpa menghakimi, mengenali tanda-tanda bahaya, serta menghubungkan mahasiswa dengan layanan profesional yang tepat.
Dengan keterampilan tersebut, lingkungan kampus diharapkan lebih peka terhadap perubahan kondisi mahasiswa. Pertolongan awal bukan berarti menggantikan peran psikolog atau tenaga profesional, melainkan memastikan mahasiswa tidak menghadapi kesulitannya seorang diri.
Keempat, menjadikan kesejahteraan psikologis sebagai indikator mutu kampus.
Kebijakan perguruan tinggi perlu memberikan ruang yang jelas bagi mahasiswa yang mengalami krisis, berada dalam kondisi rentan, atau tertinggal dalam proses akademik.
Praktik dukungan mungkin telah dilakukan oleh sejumlah pihak. Namun, kebijakan tertulis tetap penting untuk memberikan legitimasi, kepastian prosedur, serta perlindungan agar penanganan berlangsung secara profesional dan proporsional.
Kesejahteraan psikologis juga perlu dievaluasi secara berkala, baik pada mahasiswa maupun dosen. Survei kondisi psikologis, pemantauan akses terhadap layanan, dan evaluasi kebijakan berbasis data dapat menjadi bagian dari upaya peningkatan mutu institusi.
Menjaga ruh ulul albab
Bagi Siti Mahmudah, gagasan kesejahteraan psikologis memiliki hubungan erat dengan cita-cita pendidikan UIN Malang dalam membentuk insan ulul albab.
Sosok yang mendalam zikirnya dan luas pikirnya tidak hanya dituntut memiliki kecerdasan intelektual dan spiritual, tetapi juga perlu memperoleh lingkungan yang mendukung pertumbuhan dirinya secara utuh.
Ketenangan jiwa dan kejernihan akal menjadi bagian penting dalam proses belajar, pembentukan akhlak, dan pematangan profesionalitas. Karena itu, penguatan kesehatan mental tidak semestinya dipandang sebagai agenda tambahan yang terpisah dari pendidikan.
Sebaliknya, perhatian terhadap kondisi psikologis mahasiswa merupakan bagian dari upaya memastikan ilmu dapat dipelajari, dipahami, dan diamalkan secara lebih bermakna.
Memasuki usia ke-65, UIN Malang dihadapkan pada pekerjaan rumah untuk menyelaraskan keunggulan institusi dengan pengalaman nyata mahasiswa selama menempuh pendidikan.
Kampus yang bermartabat bukan hanya tempat mahasiswa ditempa pikirannya, tetapi juga lingkungan yang membantu mereka tumbuh secara emosional, sosial, dan spiritual.
Harapannya, UIN Malang terus berkembang menjadi perguruan tinggi yang unggul dan berdampak, sekaligus menjadi rumah bagi mahasiswa untuk berjuang menghadapi berbagai dinamika kehidupan.
Sebab, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi capaian akademik yang diraih, tetapi juga oleh kemampuan kampus menjaga harapan agar mahasiswa dapat tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak, dan optimistis menatap masa depan. ( Eno)
