Prof. Dr. M. Faisol: Saat AI Kian Cerdas, Karakter Ulul Albab UIN  Maliki Malang Jadi Benteng Kemanusiaan

PROF FAISOL.jpeg2_11zon

Malang I Serulingmedia.com – Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kian mampu mengambil alih pekerjaan manusia, mengolah pengetahuan, bahkan menghasilkan gagasan dalam hitungan detik. Namun, ketika mesin semakin cerdas, muncul pertanyaan mendasar: siapa yang menjaga nurani, moralitas, dan nilai-nilai kemanusiaan di tengah derasnya arus teknologi?

Tantangan inilah yang membuat karakter Ulul Albab semakin relevan bagi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang menjelang Dies Maulidiyah ke-65 pada 28 Oktober 2026.

Prof. Dr. M. Faisol, M.Ag., Dekan Fakultas Humaniora UIN Maliki Malang, menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak cukup hanya melahirkan lulusan yang unggul dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di tengah era disrupsi, kampus juga harus membentuk manusia yang memiliki kedalaman spiritual, keagungan akhlak, keluasan ilmu, dan kematangan profesional agar mampu memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan jati diri kemanusiaannya.

Menurut Faisol, Revolusi Industri 4.0 membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Otomatisasi dan kecerdasan buatan membuka peluang untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Namun, perkembangan tersebut sekaligus memunculkan tantangan baru, mulai dari pergeseran kebutuhan tenaga kerja hingga risiko melemahnya kemampuan berpikir kritis, interaksi sosial, dan kesehatan mental.

Persoalannya bukan semata-mata seberapa jauh teknologi dapat berkembang, melainkan bagaimana manusia memastikan kemajuan itu tetap berada dalam kendali nilai-nilai kemanusiaan.

AI Tidak Memiliki Nurani Manusia

Secanggih apa pun teknologi, AI tetap bukan manusia. Sistem kecerdasan buatan bekerja melalui algoritma, pemrosesan data, dan pola yang dibangun dalam sistem komputasi. Kemampuannya menghasilkan jawaban atau menganalisis persoalan tidak serta-merta berarti memiliki pengalaman batin, empati, tanggung jawab moral, ataupun kedalaman spiritual sebagaimana manusia.

Perbedaan mendasar inilah yang, menurut Faisol, harus menjadi perhatian dunia pendidikan tinggi.

Ketika AI mampu menyelesaikan berbagai tugas intelektual secara cepat, manusia justru dituntut memperkuat kemampuan yang tidak berhenti pada penguasaan informasi. Kemampuan menilai secara kritis, mempertimbangkan dampak keputusan, memahami penderitaan orang lain, serta membedakan tindakan yang bermanfaat dan merugikan menjadi semakin penting.

Pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan lulusan yang mahir menggunakan teknologi, tetapi juga pribadi yang memahami batas, risiko, dan tanggung jawab dalam pemanfaatannya.

Dalam konteks tersebut, UIN Maliki Malang memiliki landasan filosofis yang relevan melalui konsep Ulul Albab. Nilai ini menempatkan kecerdasan intelektual dalam satu kesatuan dengan akhlak, spiritualitas, dan tanggung jawab manusia kepada Allah SWT. serta masyarakat.

Dengan demikian, teknologi bukan sesuatu yang harus ditolak. Sebaliknya, teknologi perlu dikuasai dan dimanfaatkan secara kritis, etis, serta bertanggung jawab.

Ulul Albab sebagai Fondasi Pendidikan

Faisol menegaskan, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tidak dibangun di atas cita-cita akademik yang semata-mata berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan. Kampus ini memiliki fondasi filosofis yang bersumber dari ajaran Al-Qur’an, yakni konsep Ulul Albab sebagaimana tergambar dalam QS. Ali Imran ayat 190–191.

Konsep tersebut dijabarkan dalam empat pilar utama, yaitu kedalaman spiritual, keagungan akhlak, keluasan ilmu, dan kematangan profesional.

Keempat pilar itu menjadi pandangan hidup (weltanschauung) yang mendasari visi dan misi UIN Maliki Malang. Orientasinya bukan sekadar mencetak sarjana yang cakap secara intelektual dan profesional, melainkan juga membentuk pribadi yang kokoh secara moral, adaptif menghadapi perubahan, dan tidak kehilangan kesadaran akan tanggung jawabnya sebagai hamba Allah SWT.

Dalam kerangka tersebut, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur melalui capaian akademik, penguasaan keterampilan, atau kemampuan mengoperasikan perangkat digital. Pendidikan juga harus memastikan bahwa ilmu yang dimiliki digunakan secara bertanggung jawab dan memberikan manfaat nyata bagi kehidupan.

Penguasaan sains dan teknologi harus berjalan beriringan dengan pembentukan karakter. Sebab, pengetahuan yang luas tanpa landasan moral berisiko melahirkan kemajuan yang kehilangan arah.

Sebaliknya, perpaduan ilmu, akhlak, dan spiritualitas dapat menjadi dasar bagi lahirnya inovasi yang beradab dan berpihak pada kemaslahatan manusia.

Mahasiswa sebagai Khalifah, Bukan Objek Mesin

Karakter Ulul Albab juga berkaitan erat dengan kedudukan manusia sebagai khalifah fil ardh, yakni pemegang amanah untuk mengelola dan memakmurkan bumi.

Dalam QS. Al-Baqarah ayat 31, Allah SWT. mengajarkan nama-nama kepada Nabi Adam. Ayat ini menunjukkan pentingnya pengetahuan sebagai salah satu bekal manusia dalam menjalankan tanggung jawab kehidupannya.

Dalam perspektif tersebut, mahasiswa bukan sekadar objek yang mengikuti perubahan teknologi. Mereka merupakan subjek peradaban yang memiliki kemampuan berpikir, mengambil keputusan, dan menentukan arah pemanfaatan ilmu pengetahuan untuk kepentingan bersama.

Mahasiswa UIN  Maliki Malang karena itu tidak cukup hanya dibekali kompetensi akademik dan profesional. Mereka juga perlu memiliki integritas, kepekaan sosial, akhlak, serta kesadaran spiritual agar mampu menggunakan teknologi secara tepat.

AI dapat membantu mahasiswa mencari informasi, mengembangkan gagasan, menganalisis data, dan meningkatkan produktivitas. Namun, penggunaan teknologi tersebut tetap membutuhkan penilaian kritis, kejujuran akademik, dan tanggung jawab terhadap hasil pekerjaan.

Mahasiswa harus mampu memanfaatkan teknologi untuk memperluas pengetahuan, bukan sekadar menyerahkan proses berpikir kepada mesin. Mereka juga harus memahami bahwa keputusan yang menyangkut manusia membutuhkan pertimbangan etis dan kepedulian terhadap dampaknya.

Dengan bekal tersebut, mahasiswa dapat menjalankan peran sebagai agen perubahan yang mengarahkan perkembangan teknologi menuju kesejahteraan masyarakat. Inilah makna pendidikan yang tidak hanya menyiapkan tenaga profesional, tetapi juga membentuk manusia yang mampu memikul tanggung jawab peradaban.

Menjaga Kemanusiaan di Tengah Disrupsi

Bagi Faisol, daya saing lulusan UIN Maliki Malang tidak semestinya hanya ditentukan oleh seberapa tinggi penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan profesional mereka.

Kemampuan menjaga integritas, menunjukkan kepedulian sosial, mengambil keputusan secara etis, dan mempertahankan kedalaman spiritual juga menjadi bagian penting dari kualitas seorang sarjana.

Di tengah perkembangan AI yang semakin luas, pendidikan tinggi justru perlu memperkuat dimensi yang menjadikan manusia tetap manusia: akal budi, akhlak, tanggung jawab, empati, dan kesadaran spiritual.

Nilai-nilai tersebut sekaligus menjadi pembeda penting dalam membangun lulusan yang mampu beradaptasi dengan perubahan tanpa kehilangan orientasi moral.

Sains dan teknologi dapat menghadirkan kemajuan yang luar biasa. Namun, kemajuan itu harus diarahkan untuk meningkatkan kualitas kehidupan, memperkuat keadilan, dan menghormati martabat manusia. Orientasi ini sejalan dengan cita-cita Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin).

Karena itu, karakter Ulul Albab tidak cukup berhenti sebagai identitas akademik atau slogan kelembagaan. Nilai-nilainya perlu dihidupkan dalam proses pembelajaran, budaya akademik, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.

Dies ke-65, Momentum Meneguhkan Ulul Albab

Menjelang usia ke-65, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menghadapi tantangan untuk memastikan bahwa nilai Ulul Albab benar-benar menjadi jiwa dalam setiap gerak akademik. Peringatan Dies Maulidiyah bukan hanya perayaan perjalanan institusi, tetapi juga momentum untuk mengevaluasi arah pendidikan dalam menghadapi perubahan zaman.

Tantangan AI menuntut perguruan tinggi menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas dan terampil, tetapi juga mampu menentukan batas penggunaan teknologi, menjaga integritas, serta mempertanggungjawabkan setiap keputusan yang diambil.

UIN Maliki Malang diharapkan terus melahirkan insan yang unggul dalam ilmu pengetahuan, matang dalam profesionalitas, luhur dalam akhlak, dan kokoh dalam spiritualitas.

Sebab, teknologi dapat membantu manusia bekerja lebih cepat dan mengolah informasi lebih luas. Namun, kemajuan peradaban tetap membutuhkan manusia yang mampu menentukan untuk apa ilmu digunakan, siapa yang memperoleh manfaat, dan nilai-nilai apa yang harus dijaga.

Di sinilah relevansi Ulul Albab semakin nyata. Ketika AI berkembang semakin cerdas, tugas pendidikan bukan sekadar mengejar kecanggihan mesin, melainkan memastikan manusia tetap memiliki kebijaksanaan untuk mengarahkan kecerdasan itu bagi kemaslahatan umat dan kemanusiaan.

Pada usia ke-65, UIN Maliki Malang ditantang untuk membuktikan bahwa keunggulan pendidikan bukan hanya melahirkan manusia yang mampu menguasai teknologi, tetapi juga manusia yang memiliki nurani untuk menentukan arah penggunaannya.( Eno)