UIN Malang Bedah Dampak Media Sosial, Riset Psikologi Didorong Jadi Solusi Nyata

GLOBAL OUT_11zon

Malang | Serulingmedia.com – Media sosial tidak hanya mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi juga memengaruhi emosi, pembentukan identitas, hingga kesehatan mental. Tantangan tersebut menjadi perhatian Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang melalui Global Outreach Psychology 2026, Rabu (14/10/2026).

Melalui kuliah praktisi bertema “Psikologi, Riset dan Media Sosial: Dari Data Menjadi Solusi Berdampak”, mahasiswa diajak memahami perilaku manusia di ruang digital sekaligus mengubah temuan penelitian menjadi solusi yang dapat diterapkan di masyarakat.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Rumah Singgah, Kampus 2 UIN Malang itu melibatkan mahasiswa Fakultas Psikologi, khususnya semester 5 dan 7, serta mahasiswa Magister Psikologi.

Dua narasumber dihadirkan, yakni Drs. H. Yahya, MA, dosen Fakultas Psikologi UIN Malang, dan Albert Muhammad Isrun Naini, Ph.D., peneliti Pusat Penelitian Studi Wilayah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sekaligus Visiting Lecturer di Far Eastern Federal University, Rusia.

Yahya mengulas bagaimana kebutuhan psikologis memengaruhi perilaku pengguna media sosial. Menurut perspektif psikologi komunikasi, aktivitas digital bukan sekadar pertukaran informasi, melainkan juga berkaitan dengan kebutuhan membangun identitas, memperoleh pengakuan sosial, dan mempertahankan hubungan dengan orang lain.

Seseorang, misalnya, mengunggah foto untuk mengekspresikan diri, kemudian menjadikan jumlah tanda suka sebagai salah satu bentuk penerimaan sosial. Jika tidak disikapi secara bijak, pola tersebut dapat memengaruhi pembentukan identitas dan cara seseorang menilai dirinya sendiri.

Ia menjelaskan tiga dimensi psikologis yang penting dalam komunikasi digital, yakni kognitif, afektif, dan konatif. Dimensi kognitif berkaitan dengan kemampuan berpikir kritis dan memilah informasi, dimensi afektif menyangkut pengelolaan emosi, sedangkan dimensi konatif berhubungan dengan kemauan bertindak berdasarkan nilai moral dan pertimbangan etis.

Media sosial, lanjutnya, memiliki dua sisi. Platform digital dapat memperluas jejaring sosial dan profesional, meningkatkan akses informasi, mendorong kreativitas, serta memperkuat solidaritas. Namun, penggunaan yang tidak bijak juga dapat berkaitan dengan kecemasan sosial, Fear of Missing Out (FoMO), perundungan siber (cyberbullying), penyebaran hoaks, hingga perilaku impulsif.

Karena itu, kesadaran diri, kemampuan mengelola emosi, literasi digital, dan etika berkomunikasi menjadi bekal penting bagi pengguna media sosial.

Sementara itu, Albert Muhammad Isrun Naini mengangkat materi “Memahami Perilaku Manusia di Era Digital melalui Lensa Ilmiah”. Ia menekankan pentingnya penelitian untuk memahami perubahan perilaku manusia di tengah perkembangan teknologi digital.

Menurut perspektif penelitian, aktivitas di media sosial menyediakan beragam data yang dapat dimanfaatkan untuk mempelajari emosi, opini, pola komunikasi, dan perilaku manusia. Namun, data tersebut perlu dianalisis menggunakan metode ilmiah agar menghasilkan kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Albert memperkenalkan sejumlah pendekatan penelitian, antara lain survei digital, kuesioner daring, studi korelasional, analisis sentimen terhadap teks dan komentar pengguna, serta eksperimen daring. Metode tersebut dapat digunakan untuk menguji hubungan antarvariabel psikologis dan mengidentifikasi pola perilaku digital secara sistematis.

Ia juga membahas sejumlah persoalan yang muncul dalam penggunaan media sosial, mulai dari FoMO, cyberbullying, perbandingan sosial (social comparison), hingga ruang gema informasi (echo chamber) yang berpotensi memperkuat bias kognitif dan polarisasi kelompok.

Paparan konten visual yang menampilkan standar penampilan ideal, misalnya, dapat mendorong seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain. Pada sebagian individu, kondisi tersebut berpotensi berkaitan dengan kecemasan terhadap citra tubuh dan menurunnya kepercayaan diri.

Sementara itu, paparan informasi yang terus-menerus dapat memicu kekhawatiran tertinggal dari tren atau pengalaman sosial, mengganggu tidur, hingga mendorong penundaan pekerjaan dan tugas.

Meski demikian, Albert mengingatkan bahwa media sosial tidak selalu membawa dampak negatif. Teknologi digital juga membuka peluang untuk memperluas edukasi kesehatan mental, menyediakan dukungan sosial, serta meningkatkan akses terhadap layanan psikologis, termasuk telekonseling.

Dampaknya bergantung pada pola penggunaan, karakteristik individu, serta lingkungan sosial dan digital yang melingkupinya.

Riset Harus Berujung pada Solusi

Lebih jauh, kuliah praktisi tersebut menekankan bahwa penelitian psikologi tidak seharusnya berhenti pada pengumpulan dan analisis data. Temuan ilmiah perlu diterjemahkan menjadi intervensi yang menjawab persoalan nyata di masyarakat.

Sejumlah penerapan yang dibahas meliputi pengembangan edukasi literasi digital untuk mencegah perundungan siber, penguatan regulasi diri melalui penggunaan media sosial secara sadar (mindful scrolling), pembentukan komunitas daring yang aman dan suportif, serta perancangan teknologi yang lebih memperhatikan kesejahteraan psikologis pengguna.

Kolaborasi peneliti, psikolog, komunitas, pengembang teknologi, dan pemerintah juga diperlukan agar hasil penelitian dapat menjadi dasar penyusunan intervensi kesehatan mental dan kebijakan publik berbasis bukti.

Kehadiran peneliti BRIN dalam kegiatan tersebut memperluas wawasan mahasiswa mengenai hubungan antara metodologi penelitian dan persoalan sosial. Mahasiswa tidak hanya diperkenalkan pada cara memahami perilaku digital, tetapi juga diajak menilai dampak media sosial serta menyusun rekomendasi berdasarkan temuan ilmiah.

Melalui Global Outreach Psychology 2026, Fakultas Psikologi UIN Malang berupaya memperkuat keterhubungan antara pembelajaran akademik, perkembangan riset, dan kebutuhan masyarakat.

Mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, menggunakan metode penelitian secara tepat, menjunjung tinggi etika, serta berkontribusi menghasilkan solusi psikologis yang relevan dan berdampak di era digital. ( Eno).