UIN Malang Hadapi Dua Agenda Besar: Jaga Identitas Islam dan Bangun RS Pendidikan Rp300 Miliar

KETUA KOMISI VIII DPR RI_11zon

Malang I Serulingmedia.com – Pengembangan Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang menghadapi dua agenda penting: memperkuat identitas keislaman di tengah pengembangan ilmu pengetahuan modern dan merealisasikan rencana pembangunan rumah sakit pendidikan dengan anggaran Rp300 miliar.

Dua isu tersebut mengemuka dalam sarasehan nasional bertajuk “Perlindungan Anak, Kesetaraan Gender, dan Pemenuhan Hak Pendidikan Berkualitas, Inklusif, dan Berkeadilan” yang menghadirkan Ketua Komisi VIII DPR RI, H. Marwan Dasopang, M.Si., di UIN Malang, Rabu (14/10/2026).

Dalam pemaparannya, Marwan menyoroti pentingnya menjaga karakter perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) ketika mengembangkan program studi umum. Perluasan bidang keilmuan, menurut substansi pemaparannya, harus berjalan beriringan dengan penguatan dasar-dasar keislaman.

Tantangan UIN, dengan demikian, bukan sekadar meningkatkan kualitas akademik atau memperluas pilihan program studi. Perguruan tinggi Islam juga perlu memastikan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan dan kompetensi profesional tidak mengaburkan identitas keagamaan yang menjadi landasan institusinya.

Penguatan identitas tersebut menjadi penting ketika lulusan perguruan tinggi dituntut mampu bersaing di dunia kerja, menguasai perkembangan ilmu pengetahuan, sekaligus memiliki karakter dan integritas.

RS Pendidikan Rp300 Miliar Jadi Sorotan

Agenda kedua berkaitan dengan rencana pembangunan rumah sakit pendidikan di lingkungan UIN Malang. Dalam pemaparannya, Marwan menyebut rencana anggaran sebesar Rp300 miliar untuk mendukung pembangunan fasilitas tersebut.

Rumah sakit itu direncanakan memiliki dua fungsi utama, yakni mendukung kegiatan pendidikan dan memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat umum.

Keberadaan rumah sakit pendidikan berpotensi memperkuat proses pembelajaran, khususnya bagi mahasiswa bidang kedokteran dan kesehatan. Mahasiswa membutuhkan lingkungan praktik yang memadai untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan pengalaman pelayanan pasien.

Di luar kepentingan pendidikan, fasilitas tersebut diharapkan memperluas kontribusi kampus kepada masyarakat melalui pelayanan kesehatan.

Namun, nilai Rp300 miliar yang disebut dalam pemaparan tersebut masih perlu diperjelas statusnya, termasuk sumber pendanaan, tahapan penganggaran, dan jadwal pelaksanaan pembangunan. Karena itu, angka tersebut belum dapat diperlakukan sebagai dana yang sudah dipastikan tersedia atau telah direalisasikan.

Kepastian perencanaan dan pembiayaan menjadi faktor penting agar pembangunan tidak berhenti pada rencana, melainkan dapat diwujudkan sesuai kebutuhan pendidikan dan pelayanan publik.

Pesantren dan Mutu Pendidikan

Selain membahas pengembangan UIN, Marwan menyoroti penguatan pesantren melalui kebijakan yang mendorong kemandirian lembaga tanpa mengesampingkan kualitas pendidikan.

Pesantren memiliki peran penting dalam pendidikan keagamaan dan pembentukan karakter. Penguatan kelembagaan perlu disertai dukungan yang memungkinkan pesantren meningkatkan mutu pembelajaran serta menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat.

Marwan juga menyinggung perlunya pola penerimaan dan pembinaan mahasiswa yang mampu mengakomodasi lulusan dari jalur pendidikan umum maupun agama.

Perbedaan latar belakang pendidikan mahasiswa membutuhkan pendekatan pembinaan yang tepat agar mereka dapat mengembangkan kompetensi akademik dan profesional secara optimal.

Dalam konteks tersebut, perguruan tinggi dituntut membangun sistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga mampu menyiapkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Menyatukan Keunggulan Akademik dan Nilai Islam

Sarasehan nasional tersebut menempatkan perlindungan anak, kesetaraan gender, serta pemenuhan hak atas pendidikan berkualitas, inklusif, dan berkeadilan sebagai isu utama.

Pendidikan yang berkualitas harus membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh akses belajar yang layak. Pada saat yang sama, pengembangan pendidikan tinggi Islam perlu menjaga nilai-nilai keislaman sebagai fondasi pembentukan karakter dan pengembangan ilmu.

Bagi UIN Malang, dua agenda yang mengemuka dalam pemaparan Marwan memiliki dimensi berbeda, tetapi saling berkaitan. Penguatan identitas Islam menyangkut arah dan karakter institusi, sedangkan pembangunan rumah sakit pendidikan berkaitan dengan pengembangan sarana akademik sekaligus pelayanan masyarakat.

Keduanya membutuhkan perencanaan yang jelas, dukungan kelembagaan, serta ukuran keberhasilan yang dapat dievaluasi.

Pengembangan kampus pada akhirnya tidak cukup diukur dari bertambahnya program studi atau besarnya nilai investasi pembangunan. Mutu pendidikan, kekuatan identitas keislaman, dan manfaat nyata bagi masyarakat menjadi bagian penting untuk menilai keberhasilan pengembangan UIN Malang ke depan. ( Eno)