Guntur Bisowarno Nilai Batik Tulis Singosari Padukan Seni dan Filosofi
Purwosari| Serulingmedia.com – Guntur Bisowarno dari Bamboo Spirit Nusantara Support System, Purwosari, Kabupaten Pasuruan, menilai Batik Tulis Singosari Berfilosofi karya Bu Tantri/Listyorini Gayantri, 60 tahun, memadukan seni menggambar, melukis, dan membatik melalui garis, warna, serta batas malam.
Menurut Guntur, garis membentuk motif, warna memberikan karakter, sedangkan malam menjadi batas yang mengatur ruang pewarnaan.
Ketiga unsur tersebut kemudian menyatu dalam proses membatik dan membentuk bahasa visual yang membawa pesan serta makna.
“Batik tidak semata-mata persoalan kain, motif, warna, atau keterampilan tangan. Di balik setiap torehan canting terdapat proses untuk menghadirkan bentuk, batas, warna, rasa, pesan, arti, dan makna,” ujar Guntur.

Ia menjelaskan, garis dalam batik tidak sekadar menjadi ornamen. Garis dapat membentuk, menghubungkan, membatasi, sekaligus mengarahkan komposisi motif.
Dalam proses tersebut, canting menjadi alat untuk menorehkan malam. Setelah mengering, malam berfungsi sebagai pembatas yang menentukan ruang bagi warna.
“Batas bukan selalu pembatas kebebasan. Batas dapat menjadi ruang tempat kebebasan menemukan bentuknya,” katanya.
Batik sebagai Kitab Bakti
Guntur memaknai karya Bu Tantri sebagai Batik Kitab Bakti. Menurutnya, kain tidak hanya menghadirkan nilai estetika, tetapi juga dapat merekam pengetahuan, pengalaman, ketekunan, dan penghayatan pembatik.
Ia mengatakan konsep Roso Orep Sejati menjadi bagian penting dalam pemaknaan karya tersebut.
Roso tidak hanya dipahami sebagai perasaan, tetapi sebagai kemampuan menghubungkan bentuk dengan makna serta proses berkarya dengan nilai kehidupan.
Pada usia 60 tahun, Bu Tantri menghadirkan karya yang menurut Guntur merefleksikan ketekunan, kesabaran, kecermatan, pengalaman, dan penguasaan teknik membatik.
“Setiap tarikan canting menjadi jejak, setiap batas malam menjadi keputusan, setiap warna menjadi pilihan, dan setiap motif menjadi bahasa,” tutur Guntur.
Guntur merumuskan enam unsur dalam karya tersebut: garis memberi bentuk, batas memberi arah, warna memberi rasa, motif memberi pesan, filosofi memberi makna, dan laku memberi kehidupan.
Ia menilai perpaduan unsur tersebut menjadikan Batik Tulis Singosari Berfilosofi tidak hanya sebagai karya yang indah secara visual, tetapi juga sebagai karya yang membawa pesan tentang proses, pengalaman, dan penghayatan pembuatnya.
Bagi Guntur, Roso Orep Sejati merupakan penghayatan ketika garis menjadi bentuk, bentuk menjadi motif, motif menjadi bahasa, pesan menjadi makna, dan makna diwujudkan melalui laku sebagai bakti.( Eno)
