Bukan Sekadar Coretan! Batu Sulap Tembok Pasar Among Tani Jadi Panggung Kreativitas

2077761_11zon

Batu | Serulingmedia.com — Tembok depan Pasar Induk Among Tani Kota Batu mulai disulap menjadi ruang ekspresi seni. Pemerintah Kota Batu membuka ruang kreatif melalui kegiatan mural bertema lingkungan yang diawali langsung Wali Kota Batu Nurochman, Jumat (25/9/2026).

Nurochman bersama Sekretaris Daerah Kota Batu Alfi Nurhidayat, Asisten Chori, serta sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), termasuk Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Dian Fachroni, turut mengawali kegiatan mural tersebut.

 

Momentum itu sekaligus menjadi bagian dari peringatan World Cleanup Day di Kota Batu. Namun, konsep yang diusung tidak sebatas membersihkan sampah fisik. Pemerintah Kota Batu juga mulai menyoroti persoalan “sampah visual” yang dinilai mengganggu estetika kota.

Kepala DLH Kota Batu Dian Fachroni mengatakan, sampah visual dapat berupa banner yang telah lapuk hingga berbagai bentuk vandalisme yang muncul di sejumlah titik ruas protokol.

“Di World Cleanup Day ini selain bersih-bersih sampah, termasuk sampah visual dan sampah advertising. Kadang ada banner yang sudah lapuk masih menempel. Sampah visual juga termasuk vandalisme yang sering kita temui di beberapa titik ruas protokol,” ujar Dian.

Menurut Dian, mural yang dilakukan secara terencana memiliki perbedaan mendasar dengan vandalisme. Karena itu, Pemkot Batu menetapkan sejumlah lokasi sebagai ruang kreatif bagi masyarakat untuk mengekspresikan karya secara terarah.

“Pak Wali sudah menetapkan delapan titik ruang kreatif, salah satunya Pasar Induk Among Tani. Karya mural itu berbeda dengan vandalisme,” tegasnya.

Delapan ruang kreatif tersebut meliputi Hutan Kota Bondas, Alun-Alun Kota Batu, PLUT, Pasar Induk Among Tani, Galeri Raos, Arjuna Wiwaha, Batu Tourism Mall, dan LPPL ATV.

Dian menjelaskan, tidak seluruh ruang kreatif tersebut diperuntukkan bagi mural. Bentuk karya akan menyesuaikan karakter masing-masing lokasi.

“Tidak hanya mural. Seperti Arjuna Wiwaha itu kan seni budaya di dalamnya,” katanya.

Mural Bawa Pesan Lingkungan

Mural di Pasar Among Tani juga tidak dibuat sekadar untuk mempercantik tembok. Pesan yang diangkat berkaitan dengan lingkungan, sekaligus menjadi bagian dari semangat HUT ke-25 Kota Batu menuju Batu SAE yang berkelanjutan dan ekologis.

“Temanya juga soal lingkungan. Ini sebagai penanda bahwa Pasar Induk Among Tani menjadi ruang kreatif dan menggandeng kawan-kawan yang memiliki potensi di seni industri kreatif,” jelas Dian.

Pemkot Batu juga memastikan penggunaan ruang publik untuk karya seni tetap berada dalam pengawasan. Sebab, lokasi tersebut merupakan aset Pemerintah Kota Batu.

 

Menurut Dian, komunitas atau seniman yang ingin berkarya di ruang-ruang tersebut perlu berkomunikasi terlebih dahulu dengan pemerintah, termasuk terkait tema dan lokasi karya.

Pemkot Beri Stimulan, Bukan Membayar Jasa Mural

Untuk mendukung kegiatan tersebut, Pemkot Batu memberikan stimulan berupa penyediaan cat, ruang berkarya, dan dukungan operasional selama kegiatan berlangsung.

“Stimulan itu artinya kita menyediakan cat, kemudian menyediakan space dan operasional selama melaksanakan kegiatannya,” terang Dian.

Kesempatan berkarya tersebut terbuka bagi masyarakat yang tergabung dalam ekosistem ekonomi kreatif, terutama subsektor desain visual dan grafis.

Namun, DLH masih melakukan inventarisasi kelompok yang akan terlibat. Koordinasi dengan Komite Ekonomi Kreatif Kota Batu akan dilakukan untuk memetakan komunitas dan pelaku kreatif yang memiliki potensi.

 

Kebijakan tersebut diharapkan mampu mengubah paradigma terhadap ruang publik. Tembok kota tidak lagi menjadi sasaran coretan liar, melainkan dapat menjadi kanvas kreativitas yang membawa pesan lingkungan dan identitas Kota Batu. ( Eno).