KONI Batu Sentil 46 Cabor: Jangan Muncul Hanya Saat Raih Medali

2017653_11zon

Batu | Serulingmedia.com – Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Batu, Sentot Ari Wahyudi, menyentil pengurus cabang olahraga (cabor) agar tidak hanya sibuk mengekspos prestasi ketika atlet meraih medali.

 

Aktivitas latihan, pembinaan hingga proses pencarian bibit atlet dinilai sama pentingnya untuk dikenalkan kepada masyarakat.

 

Pesan itu disampaikan Sentot dalam Focus Group Discussion (FGD) “Humas Olahraga Menjawab Tantangan Pemajuan Olahraga di Era Digital” dalam rangkaian peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) di Aula KONI Kota Batu, Sabtu (12/9/2026).

Sentot mengatakan, humas cabor harus menjadi ujung tombak untuk memperkenalkan olahraga prestasi kepada masyarakat.

 

Sebab, Kota Batu memiliki puluhan cabor dengan karakter dan potensi atlet yang berbeda.

“Tidak harus, ‘Wah, kabarku prestasi diekspos.’ Tidak. Mulai proses latihan, kegiatan-kegiatannya itu perlu diekspos,” kata Sentot.

 

Menurut dia, publikasi yang konsisten akan membuat masyarakat mengetahui keberadaan berbagai cabor di Kota Batu.

 

Informasi mengenai tempat latihan, jenis olahraga, pola pembinaan hingga prestasi atlet dapat menjadi pintu masuk bagi anak-anak untuk memilih olahraga sesuai minat dan potensinya.

“Biar masyarakat tahu, oh, di Batu ada olahraga sepak takraw, misalnya. Itu dimasukkan dalam model pemberitaan di media sosial, sehingga anak-anak kita bisa memilih dan menggandrungi olahraga yang mereka sukai,” ujarnya.

Jangan Biarkan Cabor Jadi Olahraga yang Tertutup

Sentot menilai masih ada sejumlah cabor yang kurang dikenal masyarakat. Kondisi tersebut tidak selalu disebabkan minimnya potensi, tetapi bisa terjadi karena aktivitas pembinaannya kurang dikomunikasikan.

 

Ia mencontohkan biliar. Cabang olahraga itu, kata Sentot, masih kerap mendapat stigma negatif. Padahal, dalam konteks olahraga prestasi, biliar telah menjadi bagian dari pembinaan atlet, termasuk bagi anak-anak usia dini.

 

“Hal-hal seperti itu jangan sampai menjadi cabor yang tertutup. Latihan dan pembinaannya harus dipromosikan supaya masyarakat Batu, terutama anak-anak, senang terhadap dunia olahraga,” katanya.

 

Sejumlah cabor yang disebut memiliki potensi peminat di Kota Batu antara lain sepeda melalui ISSI, renang, selam, paralayang, biliar, gulat, sambo hingga arung jeram.

Perkembangan media sosial, menurut Sentot, justru membuka ruang lebih besar bagi cabor untuk memperkenalkan aktivitas mereka. Orang tua dapat melihat proses latihan, sementara anak-anak memiliki lebih banyak pilihan untuk menentukan cabang olahraga yang ingin ditekuni.

Bukan Sekadar Mengejar Medali

Sentot juga mengingatkan pengurus cabor agar tidak menjadikan pembinaan sebagai proyek mengejar prestasi jangka pendek.

Ia meminta setiap cabor membangun sistem pembinaan yang berkelanjutan, mulai dari pencarian bibit hingga pembentukan mental atlet.

“Jangan sampai cabor hanya untuk mencari bibit untuk mencari prestasi sesaat. Tetapi juga bisa untuk membangun dunia olahraga dan membangun mental anak-anak generasi muda,” tegasnya.

Menurut Sentot, olahraga dapat menjadi alternatif positif bagi anak-anak dan remaja agar memiliki aktivitas yang produktif. Prestasi olahraga juga dapat menjadi modal bagi atlet dalam menempuh pendidikan maupun memasuki dunia kerja.

“Setiap atlet yang berprestasi itu bisa digunakan untuk kepentingan prestasi yang lain, untuk sekolah, untuk kerja, untuk apa saja,” ujarnya.

46 Cabor, Tidak Semua Aktif Membina
Di sisi lain, Sentot mengakui belum semua cabor yang berada di bawah KONI Kota Batu menunjukkan konsistensi pembinaan.

Dari sekitar 46 cabor, ia menyebut masih ada cabang olahraga yang membutuhkan perhatian lebih dalam hal pembibitan, pembinaan maupun pengenalan kepada masyarakat. Di antaranya sepak takraw, anggar, kurash, kasti dan atletik.

“Tidak semuanya punya konsisten untuk membina masalah atletnya, untuk juga mencari bibit-bibit atlet itu,” kata Sentot.

Karena itu, ia meminta seluruh cabor yang telah menjadi anggota KONI tidak sekadar menjalankan organisasi secara administratif. Setiap cabor harus memiliki tanggung jawab untuk mencari, membina dan menyiapkan atlet masa depan.

“Kalau sudah masuk menjadi anggota KONI, ya konsisten dan konsekuen untuk mencari atlet, membina atlet, mencari bibit-bibit sampai mereka menjadi anak-anak yang punya prestasi lebih baik,” ujarnya.

Humas Harus Mengawal Proses, Bukan Menunggu Juara

Sentot menilai perubahan pola komunikasi masyarakat membuat fungsi humas cabor tidak bisa lagi dijalankan secara konvensional.

 

Media sosial harus digunakan untuk membangun kedekatan antara cabor, atlet, orang tua dan masyarakat.

Karena itu, publikasi tidak boleh berhenti pada pengumuman juara. Proses latihan sehari-hari justru dapat menjadi cerita yang menarik sekaligus sarana menjaring calon atlet. KONI, kata Sentot, siap memfasilitasi upaya tersebut.

 

“Promosi itu berangkat dari cabor masing-masing. KONI akan memfasilitasi,” katanya.

 

Bagi Sentot, penguatan humas bukan sekadar urusan pencitraan. Publikasi olahraga merupakan bagian dari strategi membangun ekosistem olahraga sekaligus menyiapkan generasi muda Kota Batu dalam jangka panjang.

“Jangka panjang. Salah satu pembangunan generasi muda itu lewat dunia olahraga,” pungkasnya.

Dengan demikian, pesan KONI Batu cukup jelas: prestasi boleh menjadi headline, tetapi proses pembinaan harus menjadi cerita yang terus hidup.( Eno).