175 Atlet Batu Disiapkan Hadapi Porprov X, KONI Belum Berani Pasang Target
Batu | Serulingmedia.com — Sebanyak 175 atlet Pusat Latihan (Puslat) KONI Kota Batu mulai dipersiapkan menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) X Jawa Timur 2027 di Surabaya.
Namun, KONI Kota Batu belum berani memasang target perolehan medali sebelum kualitas pembinaan para atlet dievaluasi secara menyeluruh.

Ketua Umum KONI Kota Batu, Sentot Ari Wahyudi, mengatakan kesiapan menghadapi Porprov tidak cukup hanya dengan mengandalkan prestasi masa lalu.
Evaluasi terhadap program latihan, kedisiplinan, mental, serta kolaborasi antara atlet, pelatih dan cabang olahraga menjadi bagian penting dalam menentukan target.
“Kita tidak berani menentukan target kalau belum tahu kualitas pembinaan masing-masing atlet Puslat ini sejauh mana. Itu yang akan kita evaluasi,” kata Sentot seusai Apel Atlet Puslat KONI Kota Batu dalam rangka memperingati Hari Olahraga Nasional (Haornas) 2026 di halaman KONI Kota Batu, Minggu (13/9/2026).

Apel tersebut diikuti 175 atlet dari 28 cabang olahraga, 28 pelatih, serta jajaran pengurus KONI Kota Batu. Para atlet yang masuk Puslat 2026 merupakan atlet yang sebelumnya memiliki prestasi pada Porprov 2025.
Menurut Sentot, apel bukan sekadar kegiatan seremonial memperingati Haornas. KONI sengaja mempertemukan atlet, pelatih dan pengurus untuk menyamakan arah pembinaan.
“Ajang ini kita buat untuk memberikan motivasi, memberikan arahan, sekaligus memperkuat mental atlet,” ujarnya.
Mental Baja Jadi Modal
KONI Kota Batu mengusung jargon “mental baja” untuk menghadapi Porprov X yang akan digelar di Surabaya. Sentot menyadari persaingan bakal semakin berat karena sejumlah daerah memiliki kekuatan olahraga yang besar.
Ia meminta atlet Kota Batu tidak minder ketika berhadapan dengan lawan yang secara kualitas maupun pengalaman lebih unggul.
“Jangan sampai mereka patah semangat atau melihat tempat dan lawan-lawan tanding ke depan lebih punya kualitas. Saya yakin mereka juga bisa hadir dalam pencapaian prestasi tersebut,” katanya.
Sentot menilai mental bertanding harus berjalan beriringan dengan kemampuan teknis. Atlet juga dituntut memiliki kesadaran untuk menjaga kebugaran di luar jadwal latihan resmi.
Puslat Kota Batu sendiri telah dimulai sejak Agustus dan dijadwalkan berlangsung hingga Oktober.
“Walaupun dijadwalkan oleh pusat melalui pelatih masing-masing, mereka masih punya konsekuensi untuk selalu berlatih untuk kebugarannya sendiri,” ujarnya.
28 Cabor Diberi Ruang Evaluasi
KONI juga menekankan pentingnya kedisiplinan dan kejujuran dalam proses pembinaan. Sentot mengatakan atlet dan pelatih harus menjalankan program secara konsekuen agar KONI dapat mengukur perkembangan setiap cabor secara objektif.
“Kita ingin ada keselarasan langsung antara atlet, pelatih, cabor, termasuk pengurus KONI,” katanya.
Dalam kesempatan itu, KONI Kota Batu memberikan penghargaan kepada cabor dan pelatih yang berprestasi pada Porprov 2025.

Penghargaan diberikan dalam bentuk sertifikat yang dikemas dalam pigura.
Penghargaan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa prestasi sebelumnya harus menjadi pijakan untuk menghadapi persaingan berikutnya, bukan alasan untuk berpuas diri.
Regulasi Usia Masih Jadi Tanda Tanya
Selain kualitas pembinaan, KONI Kota Batu masih menghadapi persoalan regulasi usia atlet. KONI Jawa Timur disebut telah melakukan sosialisasi mengenai kemungkinan perubahan batas usia pada sejumlah cabang olahraga. Namun, keputusan resmi belum diterima.
“Kita masih menunggu instruksi dan hasil keputusan KONI Jawa Timur, sejauh mana Porprov nanti, cabor apa yang usianya masih bisa naik,” ujar Sentot.
Regulasi tersebut akan menentukan nasib sejumlah atlet Kota Batu yang sebelumnya menjadi bagian dari kekuatan Porprov. Jika batas usia tetap berada pada angka tertentu, sebagian atlet berpotensi tidak dapat kembali memperkuat Kota Batu.
“Kalau batasnya 23 tahun, atlet kita memang nggak bisa hadir lagi di Porprov ini,” katanya.
Karena itu, KONI Kota Batu belum menetapkan target besar. Fokus sementara diarahkan pada pembinaan, evaluasi dan penguatan mental atlet.
Bagi Sentot, Porprov X bukan hanya persoalan siapa yang membawa pulang medali. Kualitas proses pembinaan akan menjadi ukuran apakah jargon “mental baja” benar-benar mampu diwujudkan ketika atlet Kota Batu berhadapan dengan persaingan di arena Porprov.
