9 Juta Talenta Digital Dibutuhkan Indonesia, STMM Yogyakarta Baru Catat Serapan Kerja 14 Persen
Yogjakarta| Serulingmedia.com — Pemerintah memperkirakan Indonesia membutuhkan sekitar 9 juta talenta digital hingga 2030.
Namun, kebutuhan besar itu berhadapan dengan persoalan di tingkat pendidikan: dari 188 lulusan Sekolah Tinggi Multi Media (STMM) Yogyakarta yang diwisuda tahun ini, baru 27 orang atau 14,36 persen tercatat telah terserap ke dunia kerja.
Dua angka tersebut muncul dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan Periode I Tahun Akademik 2026/2027 STMM Yogyakarta, Rabu, (9/9/ 2026).
Orasi Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Viada Hafid dibacakan Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Komunikasi dan Digital, Bonifasius Wahyu Pudjianto, Ph.D.
Meutya mengatakan kebutuhan talenta digital akan terus meningkat seiring pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI). Teknologi tersebut telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, berkomunikasi hingga menghasilkan karya.
“AI bukan lagi cerita masa depan. AI sudah menjadi bagian dari kehidupan hari ini,” kata Meutya.
Menurut pemerintah, kebutuhan talenta digital Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 9 juta orang pada 2030. Kompetensi yang dibutuhkan mencakup kecerdasan artifisial, analisis data, machine learning, keamanan siber dan berbagai teknologi digital lainnya.
Namun, besarnya kebutuhan industri tidak otomatis membuat lulusan pendidikan digital mudah memasuki pasar kerja.

Ketua STMM Yogyakarta Dr. R.M. Agung Harimurti, M.Kom., dalam laporan wisuda mengungkapkan baru 27 dari 188 wisudawan yang telah terserap ke dunia kerja. Mereka bekerja di perusahaan swasta, instansi pemerintah maupun industri kreatif, termasuk melalui kewirausahaan.
Kesenjangan antara kebutuhan industri dan serapan lulusan itu menjadi pekerjaan rumah. Sebab, persoalan talenta digital bukan hanya mengenai berapa banyak mahasiswa yang berhasil diluluskan, tetapi juga seberapa relevan kompetensi mereka dengan kebutuhan dunia kerja.
AI Masuk Pendidikan
Meutya mengatakan pemerintah tidak ingin generasi muda hanya menjadi konsumen teknologi.
Pemerintah telah menerbitkan Keputusan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 117 Tahun 2026 tentang Pedoman Pemanfaatan dan Pembelajaran Teknologi Digital dan Kecerdasan Artifisial di Jalur Pendidikan Formal, Nonformal, dan Informal. Keputusan tersebut ditetapkan pada 12 Maret 2026.
“Kita tidak ingin anak-anak Indonesia hanya menjadi konsumen teknologi. Kita ingin mereka menjadi manusia yang memahami, menggunakan, menciptakan, dan mengendalikan teknologi dengan bertanggung jawab,” ujar Meutya.
Ia mengingatkan kemampuan teknologi tanpa integritas justru dapat melahirkan persoalan baru.
AI, kata Meutya, kini mampu menghasilkan video, suara, wajah dan tulisan dalam hitungan detik. Teknologi juga dapat menciptakan sesuatu yang tampak nyata meski tidak pernah terjadi.
“AI bisa membuat konten. Tetapi AI tidak bisa menggantikan hati nurani,” katanya.
Karena itu, lulusan STMM diminta tidak menggunakan teknologi untuk menyebarkan kebohongan, memanipulasi masyarakat maupun merugikan orang lain.
Jangan Sekadar Mengejar Views
Meutya juga mengingatkan lulusan agar tidak terjebak pada ukuran popularitas di ruang digital.
Menurut dia, jumlah penonton, likes maupun popularitas tidak semestinya menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah karya.
“Konten mungkin mendapatkan likes. Tetapi karya dapat menggerakkan masyarakat,” ujarnya.
Lulusan STMM yang menguasai penyiaran, produksi berita, multimedia, animasi, teknologi permainan dan komunikasi publik dinilai memiliki posisi strategis dalam membentuk ruang publik.
Karena itu, ketika memproduksi berita, lulusan harus memastikan masyarakat memperoleh pemahaman berdasarkan fakta. Sedangkan ketika menggunakan AI, teknologi harus memperbesar kreativitas, bukan menghilangkan tanggung jawab.
188 Lulusan, 68 Cum Laude
STMM Yogyakarta pada periode wisuda kali ini meluluskan 188 mahasiswa dari tiga jurusan dan enam program studi.

Jurusan Penyiaran terdiri atas Manajemen Produksi Siaran dengan 65 lulusan, Manajemen Produksi Berita 13 lulusan dan Manajemen Teknik Studio Produksi 40 lulusan.
Jurusan Animasi dan Teknologi Permainan meluluskan 13 mahasiswa Program Studi Animasi dan 23 mahasiswa Teknologi Permainan. Sementara Program Studi Manajemen Informasi Komunikasi meluluskan 34 mahasiswa.
Mahasiswa menempuh 144 hingga 148 SKS. Untuk Program Sarjana Terapan, pembelajaran memiliki komposisi 40 persen teori dan 60 persen praktik. Sedangkan Program Sarjana terdiri atas 60 persen teori dan 40 persen praktik.
Mahasiswa juga menjalani kerja praktik di industri penyiaran, animasi dan permainan, perusahaan swasta, instansi pemerintah serta lembaga nonpemerintah. Mahasiswa Program Sarjana juga mengikuti KKN.
Dari 188 lulusan, 68 mahasiswa meraih predikat Cum Laude, sedangkan 73 lainnya memperoleh predikat Sangat Memuaskan.
Prestasi Tinggi, Tantangan Tetap di Pasar Kerja
Sejumlah lulusan mencatat prestasi akademik tinggi. Astrid Nur Wahyu dari Program Studi Manajemen Produksi Siaran meraih IPK 3,94 dengan masa studi tiga tahun enam bulan.
Andika Fattah Rizky dari Manajemen Teknik Studio Produksi meraih IPK 3,91. Sementara Wahyu Nadiatul Rahman dari Manajemen Informasi Komunikasi meraih IPK 3,83.
STMM juga mencatat prestasi di bidang kreativitas melalui penghargaan Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) atas proyek Desain Karakter Animasi dan Game 1000 IP.
Sebanyak 1.541 karakter karya mahasiswa tercatat dalam kategori “Buku dengan Karakter Animasi dan Game Terbanyak Karya Mahasiswa dari Satu Perguruan Tinggi”.
Namun, capaian akademik dan rekor kreativitas itu belum otomatis berbanding lurus dengan penyerapan lulusan.
Data 14,36 persen tersebut menunjukkan tantangan berikutnya berada di luar kampus: bagaimana kompetensi, kreativitas dan portofolio lulusan diterjemahkan menjadi pekerjaan, kewirausahaan atau nilai ekonomi yang nyata.
Mencari Masalah, Bukan Sekadar Pekerjaan
Meutya meminta para lulusan tidak hanya memikirkan pekerjaan yang akan diperoleh dalam lima tahun mendatang.
Ia mendorong mereka mencari persoalan yang bisa diselesaikan melalui kompetensi digital.
“Kalau Saudara hanya mencari pekerjaan, Saudara akan mencari posisi. Tetapi kalau Saudara mencari masalah untuk diselesaikan, Saudara akan menciptakan nilai,” ujar Meutya.
Menurut dia, Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan, mulai dari kesenjangan digital, rendahnya literasi, kebutuhan transformasi digital UMKM, keterbatasan kapasitas teknologi di sekolah hingga ancaman hoaks dan disinformasi.
Karena itu, keberhasilan lulusan tidak cukup diukur dari penghasilan. Dampak sosial, peluang yang diciptakan, pengetahuan yang dibagikan dan perubahan yang dihasilkan juga menjadi ukuran penting.
Bagi 188 lulusan STMM, tantangan kini bergeser dari ruang kuliah ke pasar kerja. Mereka harus menghadapi industri yang bergerak cepat sekaligus teknologi AI yang mulai mengubah berbagai jenis pekerjaan.
Di tengah proyeksi kebutuhan 9 juta talenta digital nasional hingga 2030, pertanyaan yang muncul bukan lagi sekadar berapa banyak lulusan yang mampu dicetak.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah berapa banyak lulusan yang benar-benar mampu masuk ke industri, menciptakan lapangan kerja dan menghasilkan karya yang dibutuhkan masyarakat.
Meutya menitipkan tiga pesan kepada para wisudawan: menjaga integritas, terus berkarya dan memastikan karya memberikan dampak.
“Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Bangsa ini membutuhkan orang pintar yang mau berkarya dan menyelesaikan masalah,” kata Meutya.( Eno).
