UMI Makassar Wisuda 2.855 Sarjana, Rektor: Cumlaude Prestasi Akademik, Berdampak Prestasi Kehidupan
Makassar | Serulingmedia.com – Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar tidak ingin keberhasilan perguruan tinggi berhenti pada angka akreditasi, jumlah guru besar, publikasi ilmiah, atau indeks prestasi lulusan.
Di tengah persoalan ekonomi, pekerjaan, kesehatan, pendidikan, lingkungan dan perubahan teknologi, UMI menegaskan ilmu pengetahuan harus hadir dan memberi dampak bagi masyarakat.
Pesan itu disampaikan Rektor UMI Makassar, Prof. Dr. H. Hambali Thalib, S.H., M.H., saat memimpin Rapat Senat Terbuka Wisuda Periode II Tahun 2026, Kamis-Jumat, (27–28/8/ 2026).
Sebanyak 2.855 lulusan dari jenjang D3, Profesi, S1, S2 dan S3 mengikuti prosesi wisuda. Prosesi tersebut dihadiri Pengurus Yayasan Wakaf UMI, anggota senat, guru besar, serta orang tua dan keluarga wisudawan.
Hambali menyebut perguruan tinggi saat ini menghadapi tantangan yang lebih besar daripada sekadar menghasilkan lulusan dengan nilai akademik tinggi.
Menurutnya, ada kesenjangan antara kemajuan ilmu dan teknologi dengan manfaat yang diterima masyarakat.
Ia menyebut kondisi itu sebagai “kesenjangan manfaat.”
“Akreditasi meningkat, kita bangga. Publikasi bertambah, kita bersyukur. IPK lulusan tinggi, kita bahagia. Tetapi masyarakat mempunyai pertanyaan yang sederhana: setelah universitas semakin maju, apa yang berubah dalam kehidupan kami?” kata Hambali.
Pertanyaan tersebut, menurut dia, harus dijawab UMI melalui karya nyata.
Saat ini UMI memiliki 71 program studi pada enam jenjang pendidikan, yakni Diploma, Sarjana, Magister, Doktor, Profesi dan Spesialis. Sebanyak 34 program studi atau 47,89 persen telah berperingkat Unggul dan A.
UMI juga memiliki 1.004 dosen, termasuk 117 guru besar, serta mendidik 24.424 mahasiswa.
Prestasi akademik para lulusan juga tergolong tinggi. Rata-rata IPK mencapai 3,73 dan 84,1 persen lulusan meraih predikat cumlaude.
Namun Hambali meminta lulusan tidak menjadikan predikat tersebut sebagai tujuan akhir.
“Cumlaude adalah prestasi akademik. Berdampak adalah prestasi kehidupan.”
Menurut Hambali, ukuran keberhasilan pendidikan harus terlihat dari seberapa besar ilmu yang dimiliki lulusan mampu menjawab persoalan masyarakat.
Bukan Sekadar Mengejar Piala
Hambali kemudian memaparkan sederet prestasi mahasiswa UMI di tingkat regional, nasional hingga internasional.
Mahasiswa Fakultas Hukum UMI meraih Gold Medal dalam kompetisi internasional di Chiang Mai University, Thailand. Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer lolos program student exchange di Kyushu Institute of Technology, Jepang.
UMI juga menjadi Juara Umum Kontes Robot Indonesia Regional IV 2026 dengan tiga medali emas.
Tim Fakultas Teknologi Industri meraih Best Video and Poster pada Indonesia Chemical Reaction Car Competition 2026. Tim Fakultas Teknik menjadi Juara Umum Civil Fest II FKMTSI Wilayah XII Sulselbar.
Mahasiswa Fakultas Kedokteran meraih Juara 4 Pilmapres tingkat LLDIKTI Wilayah IX. Sementara mahasiswa Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi dan Pendidikan terpilih sebagai Google Student Ambassador 2026.
Bagi Hambali, sederet prestasi tersebut penting. Namun, ada bentuk pengabdian yang nilainya tidak kalah besar dibandingkan piala.
Tim Bantuan Medis Fakultas Kedokteran UMI, kata dia, turun membantu masyarakat dalam sejumlah peristiwa kebakaran di Makassar.
Bahkan ketika ribuan mahasiswa mengikuti prosesi wisuda, tim medis Fakultas Kedokteran UMI masih berada bersama masyarakat terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur.
“Ini bukan sekadar daftar piala. Ini bukti mahasiswa UMI mampu bersaing dari tingkat regional, nasional sampai internasional. Tetapi prestasi lain yang sama pentingnya adalah ketika ilmu hadir saat masyarakat membutuhkan,” ujar Hambali.
Ia menegaskan, ilmu pengetahuan harus memiliki wajah kemanusiaan.
“Ilmu yang baik bukan hanya ilmu yang memenangkan kompetisi. Ilmu yang baik adalah ilmu yang hadir ketika masyarakat membutuhkan.”
Rp1,599 Miliar untuk 121 Mahasiswa
Di tengah perayaan kelulusan ribuan mahasiswa, UMI juga membuka sisi lain kehidupan akademik: tidak semua mahasiswa mampu menyelesaikan pendidikan tanpa hambatan ekonomi.
Hambali mengungkapkan terdapat 121 mahasiswa yang secara akademik hampir menyelesaikan studi, tetapi terkendala biaya untuk mengikuti ujian akhir Sarjana, Magister maupun Doktor. UMI kemudian menelusuri persoalan tersebut.
Di balik tunggakan pendidikan itu ditemukan berbagai persoalan keluarga. Ada orang tua yang meninggal, kehilangan pekerjaan, usaha keluarga menurun, penyakit, perceraian hingga tekanan ekonomi.
UMI akhirnya mengambil keputusan untuk tidak membiarkan mahasiswa berhenti ketika tinggal beberapa langkah menuju kelulusan.
Universitas memberikan Bantuan Beasiswa Afirmasi Penyelesaian Studi sebesar Rp1,599 miliar kepada 121 mahasiswa.
“Apakah setelah berjuang bertahun-tahun mereka harus berhenti hanya beberapa langkah sebelum selesai? UMI memutuskan: tidak,” kata Hambali.
Ia menyebut kebijakan tersebut bukan sekadar beasiswa, melainkan kebijakan akademik sekaligus kemanusiaan.
“Masalah mahasiswa harus diketahui sebelum terlambat. Bantuan harus diupayakan sebelum mahasiswa menyerah,” ujarnya.
UMI Bangun Universitas Preventif
Kebijakan tersebut kemudian dihubungkan dengan pengembangan sistem pelayanan UMI melalui UMI Connection.
Sehari sebelum wisuda, 26 Agustus 2026, UMI melakukan groundbreaking Gedung UMI Connection.
Sistem tersebut akan dikembangkan melalui konsep One Access, One Data, One Process dan Executive AI Dashboard.
Hambali mengatakan UMI ingin mengubah pola pelayanan dari reaktif menjadi preventif.
Universitas tidak ingin mengetahui persoalan mahasiswa setelah mahasiswa terlanjur berhenti kuliah. Data mahasiswa harus digunakan untuk mengenali persoalan lebih awal sehingga intervensi dapat dilakukan secara tepat.
“Kita ingin membangun Universitas Preventif. Universitas yang tidak menunggu mahasiswa berhenti baru mencari tahu apa yang terjadi,” katanya.
Ia menekankan bahwa teknologi dan data tidak boleh berhenti sebagai sistem administratif.
“Satu Data harus melahirkan Satu Kepedulian.”
Lulusan Dilepas Menghadapi Era AI
Kepada 2.855 wisudawan, Hambali juga mengingatkan perubahan besar yang dibawa kecerdasan buatan atau AI.
Menurutnya, pendidikan tidak boleh terjebak dalam perlombaan menggunakan teknologi sebanyak-banyaknya. Teknologi harus menjadi alat yang memperkuat manusia, bukan menghilangkan nilai kemanusiaan.
“Dunia yang Saudara masuki juga berubah cepat. AI akan mengubah pekerjaan dan keterampilan,” katanya.
Karena itu, lulusan UMI harus mampu bekerja bersama teknologi tanpa kehilangan iman, adab, integritas, empati dan tanggung jawab.
Pesan serupa disampaikan Ketua Harian Yayasan Wakaf UMI Makassar, Prof. Dr. Hj. Masrurah Muhtar, M.A. Ia mengingatkan bahwa gelar akademik yang disandang para lulusan merupakan amanah yang harus dilaksanakan untuk kepentingan diri, keluarga dan masyarakat.
Sementara Plt Kepala LLDIKTI Wilayah IX Sultanbatara, Prof. Dr. dr. Budu, Ph.D., berharap para wisudawan mampu membuktikan bahwa ilmu yang diperoleh selama belajar di UMI benar-benar membawa kemaslahatan bagi umat manusia.
Hambali menutup pesannya dengan menggeser makna wisuda dari seremoni pelepasan menjadi awal pengabdian.
“Hari ini Saudara menerima gelar. Mulai besok, buatlah masyarakat menerima manfaatnya. Kita tidak sedang sekadar melepas mahasiswa dari kampus. Kita sedang mengutus manusia pembelajar untuk memasuki masa depan.” ( Yahya Patta/Buang Supeno).






