Bahtiar Raih Gelar Doktor, Teliti Ekstrak Daun Mimba untuk Kendalikan Bakteri Udang Windu
Makassar | Serulingmedia.com — Bahtiar meraih gelar Doktor Ilmu Perikanan setelah mempertahankan disertasinya tentang pemanfaatan ekstrak daun mimba (Azadirachta indica) sebagai antibakteri Vibrio harveyi pada pascalarva udang windu (Penaeus monodon).
Ujian kompetensi doktoral tersebut berlangsung di Kampus Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia (UMI), Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, Jumat (21/8/2026).
Dalam disertasinya, Bahtiar menyoroti persoalan penyakit yang menjadi salah satu tantangan utama dalam budidaya udang windu.
Komoditas tersebut memiliki nilai ekonomi tinggi, permintaan pasar nasional dan internasional yang kuat, serta menjadi salah satu komoditas ekspor perikanan Indonesia.
Bahtiar mengatakan peningkatan produksi udang windu selama ini ditempuh melalui intensifikasi budidaya, antara lain dengan meningkatkan kepadatan tebar, menggunakan teknologi modern, dan memperbaiki kualitas pakan. Namun, intensifikasi juga membawa konsekuensi terhadap lingkungan budidaya.
“Intensifikasi dapat menimbulkan permasalahan berupa penurunan kualitas lingkungan budidaya dan peningkatan serangan penyakit, terutama pada fase larva dan pascalarva yang relatif rentan terhadap perubahan lingkungan,” kata Bahtiar dalam pemaparannya.
Menurut dia, kondisi lingkungan yang menurun dan pengelolaan budidaya yang tidak bertanggung jawab dapat menurunkan daya dukung lingkungan, mengganggu kesehatan organisme budidaya, serta meningkatkan risiko kegagalan panen.
Karena itu, pengelolaan budidaya secara berkelanjutan diperlukan untuk menjaga produktivitas sekaligus kelestarian lingkungan.
Salah satu persoalan yang dikaji Bahtiar adalah serangan bakteri Vibrio harveyi. Selama ini, pengendalian penyakit antara lain dilakukan menggunakan antibiotik sintetis karena dinilai mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen secara cepat.
Namun, penggunaan antibiotik secara terus-menerus dan tidak terkendali berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan organisme budidaya.
“Penggunaan antibiotik secara terus-menerus dan tidak terkontrol dapat menimbulkan dampak negatif, baik terhadap lingkungan maupun kesehatan organisme budidaya,” ujarnya.
Melalui penelitian tersebut, Bahtiar menawarkan pemanfaatan ekstrak daun mimba sebagai alternatif pengendalian bakteri pada pascalarva udang windu. Penelitian ini sekaligus diarahkan untuk mendukung pengembangan budidaya udang yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Ujian tersebut dipimpin Asisten Direktur I Pascasarjana UMI Makassar, Prof. Dr. Ir. Andi Tamsil, M.P. Bertindak sebagai penyanggah Prof. Dr. Ir. H. Hatta Fattah, MS., Prof. Dr. H. Muhammad Kasnir, M.Si., Prof. Dr. Hj. Hasnidar, MS., dan Dr. Ilmiah, MS.
Penguji eksternal adalah Dr. Andi Indra Jaya Asaad, S.Pi., M.Sc., Kepala Balai Besar Perikanan Pantai dan Penyuluhan Perikanan Maros.
Sementara penguji lintas disiplin ilmu adalah Dr. Andika Prawira Buana, S.H., M.H., dari Fakultas Hukum UMI Makassar.
Disertasi Bahtiar dibimbing Prof. Dr. Ir. Jayadi, M.P., sebagai promotor.
Sedangkan, Prof. Dr. Hj. Harlina, M.P., dan Dr. Ir. Hj. Siti Hadijah, M.Si., masing-masing bertindak sebagai ko-promotor I dan II.
Dengan penelitian tersebut,
Bahtiar menempatkan pemanfaatan bahan alami sebagai salah satu pendekatan alternatif dalam menghadapi persoalan penyakit pada budidaya udang windu, sekaligus memperkuat arah pengembangan perikanan budidaya yang produktif dan berkelanjutan. ( Yahya Patta/Buang Supeno)






