Nurochman Pertaruhkan Warisan Politik Lewat Program 1.000 Sarjana

1783324_11zon

Batu | Serulingmedia.com – Wali Kota Batu Nurochman tampak tidak sedang berbicara tentang program beasiswa biasa.

 

Di hadapan jajaran Pemerintah Kota Batu dan pimpinan Universitas Kepanjen, ia justru mengulas sejarah sosial Kota Batu yang menurutnya menjadi akar lahirnya Program 1.000 Sarjana.

 

Dari sanalah ia meyakini pendidikan tinggi harus menjadi investasi terbesar pemerintah  Kota Batu.

 

Komitmen itu ditegaskan dalam penandatanganan nota kesepahaman (MoU) Program 1.000 Sarjana antara Pemerintah Kota Batu dan Universitas Kepanjen di Ruang Rupatama Balai Kota Batu, Selasa (28/7/2026).

 

“Tahun 2026 ini memasuki tahun kedua Program 1.000 Sarjana. Program ini kami rancang berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat Kota Batu. Ini bukan program yang menguntungkan secara politik, tetapi investasi jangka panjang untuk masa depan daerah,” kata Nurochman.

 

Ia mengatakan, Kota Batu pernah menikmati masa keemasan sektor pertanian. Pada era 1990-an, hasil panen apel mampu memberikan kesejahteraan tinggi sehingga banyak warga memilih bekerja dibanding melanjutkan pendidikan.

 

“Orang dulu tidak berpikir menjadi ASN atau kuliah. Bertani saja sudah bisa membangun rumah dan membeli kendaraan. Dampaknya sekarang, jumlah sarjana asli Kota Batu masih relatif sedikit,” ujarnya.

 

Menurut Nurochman, kondisi tersebut turut memengaruhi komposisi aparatur pemerintahan yang masih banyak diisi tenaga dari luar Kota Batu.

 

Karena itu, pemerintah memilih melakukan investasi sumber daya manusia melalui pembiayaan kuliah.

 

“Kami tidak ingin anak-anak Batu selamanya hanya menjadi pekerja di perusahaan-perusahaan yang berdiri di tanah kelahirannya sendiri. Mereka harus naik kelas, menjadi dokter, profesional, manajer, bahkan pemimpin,” tegasnya.

 

Ia memastikan Pemkot Batu tetap mempertahankan program tersebut meski menghadapi penyesuaian anggaran.

 

Pemerintah menanggung penuh biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) hingga mahasiswa lulus dalam masa studi maksimal empat tahun.

 

Bahkan mahasiswa Fakultas Kedokteran dari keluarga kurang mampu juga mendapat kesempatan memperoleh bantuan.

 

Di sisi lain, Rektor Universitas Kepanjen, Dr. Tri Nurhudi Sasano, S.Kep., Ns., M.Kep., menilai kolaborasi dengan Pemerintah Kota Batu menjadi langkah konkret memperluas akses pendidikan tinggi yang selama ini masih terhambat persoalan ekonomi.

 

“Kami memiliki tanggung jawab menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Melalui kerja sama ini, kami ingin memberikan dampak nyata bagi masyarakat, terutama lulusan SMA dan SMK yang selama ini mengurungkan niat kuliah karena biaya,” katanya.

 

Tri menyebut Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi Indonesia masih berada di kisaran 30 persen. Angka itu masih tertinggal dibanding beberapa negara di Asia Tenggara.

 

“Masalah utamanya sederhana. Banyak anak ingin kuliah, tetapi terkendala biaya dan ingin segera bekerja. Karena itu kami menyesuaikan sistem pembelajaran agar keduanya bisa berjalan bersamaan,” ujarnya.

 

Universitas Kepanjen menawarkan berbagai model pembelajaran adaptif. Mahasiswa keperawatan, misalnya, dapat mengikuti program magang di Jepang sebagai caregiver dengan penghasilan sekitar Rp20 juta per bulan yang dapat digunakan membiayai kuliah.

 

Sementara mahasiswa pariwisata disiapkan mengikuti program magang di Taiwan, serta tersedia sistem kuliah hybrid bagi pekerja.

 

“Konsep kami sederhana, kuliah tidak boleh berhenti hanya karena persoalan biaya. Mahasiswa bisa belajar sekaligus memperoleh pengalaman kerja dan penghasilan,” kata Tri.

 

Sebelumnya, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Mohammad Nur Adhim, menjelaskan kerja sama tersebut merupakan implementasi Peraturan Wali Kota Batu Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pedoman Pemberian Beasiswa Pendidikan bagi Warga Kota Batu.

 

Menurut Nur Adhim, ruang lingkup kerja sama meliputi pendataan calon penerima, proses seleksi, penetapan penerima beasiswa, penyelenggaraan pendidikan, hingga monitoring dan evaluasi secara berkala.

 

“Kerja sama ini berlaku selama lima tahun dan menjadi fondasi pelaksanaan Program 1.000 Sarjana secara berkelanjutan. Harapannya, seluruh proses berjalan transparan, objektif, akuntabel, dan tepat sasaran,” ujarnya.

 

Program tersebut kini menjadi salah satu kebijakan strategis Pemerintah Kota Batu di bidang pendidikan. Namun, tantangan berikutnya tidak hanya meluluskan seribu sarjana, melainkan memastikan mereka kembali menjadi kekuatan pembangunan daerah.

 

Tanpa strategi penyerapan tenaga kerja dan penciptaan lapangan pekerjaan yang sepadan, investasi pendidikan berisiko hanya menghasilkan lulusan yang mencari masa depan di luar Kota Batu.

Di situlah Program 1.000 Sarjana akan diuji. Bukan pada banyaknya beasiswa yang dibagikan, tetapi pada seberapa besar program ini mampu mengubah kualitas sumber daya manusia dan masa depan Kota Batu dalam satu dekade mendatang. ( Eno)