Generasi Muda Papua Pilih STPN, Siapkan Diri Jadi Penggerak Pembangunan Agraria di Daerah Asal

IMG-20260617-WA0047

Yogjakarta | Serulingmedia.com- Keinginan untuk kembali membangun daerah asal mendorong sejumlah generasi muda Papua memilih menempuh pendidikan di Politeknik Agraria STPN.

 

Perguruan tinggi kedinasan di bawah Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) itu dinilai menjadi tempat strategis untuk membekali diri dengan ilmu pertanahan dan tata ruang yang dibutuhkan dalam pembangunan daerah.

 

Salah satu taruna yang memiliki tekad tersebut adalah Alfando Almendo, Taruna Tingkat II asal Manokwari, Papua Barat.

 

Ia mengaku memilih Politeknik Agraria STPN karena melihat masih besarnya kebutuhan sumber daya manusia yang memahami persoalan agraria di Papua.

Menurut Alfando, pembangunan di Papua memerlukan dukungan tenaga profesional yang mampu memahami dan menyelesaikan berbagai persoalan pertanahan yang masih kerap terjadi di masyarakat.

“Yang saya pikirkan ketika memutuskan berkuliah di Politeknik Agraria STPN sederhana saja, nantinya saya ingin terlibat membangun daerah saya. Papua masih membutuhkan banyak pembangunan dan tentu membutuhkan sumber daya manusia yang memahami bidang pertanahan dan tata ruang,” ujarnya.

Ia menilai ilmu yang diperoleh selama menjalani pendidikan akan menjadi bekal penting untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan agraria ketika kembali ke daerah asal.

 

Selain mendapatkan kompetensi akademik, Alfando juga merasakan manfaat dari sistem pendidikan berasrama yang diterapkan kampus.

 

Menurutnya, lingkungan tersebut membentuk karakter, kedisiplinan, serta kemampuan kepemimpinan yang diperlukan dalam dunia kerja dan pengabdian kepada masyarakat.

“Di sini kami tidak hanya belajar akademik, tetapi juga belajar disiplin, kepemimpinan, dan hidup bersama dengan teman-teman dari seluruh Indonesia. Ini menjadi modal penting untuk bisa bersinergi dengan teman-teman dari banyak daerah untuk membangun Papua,” katanya.

Semangat serupa juga ditunjukkan Rafael Korwa, Taruna Tingkat II asal Merauke, Papua Selatan. Ketertarikannya terhadap peta sejak kecil menjadi awal perjalanannya mengenal dunia survei dan pertanahan.

 

Namun, selama menempuh pendidikan, Rafael menyadari bahwa ilmu pertanahan memiliki peran yang jauh lebih luas dalam kehidupan masyarakat, terutama dalam membantu menyelesaikan sengketa tanah dan memberikan kepastian hukum atas hak-hak masyarakat.

 

“Dari kecil saya memang suka melihat peta. Setelah mengetahui dan mempelajari bidang pertanahan, saya jadi tahu bahwa ilmu ini sangat penting untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang ada di masyarakat, termasuk masalah sengketa tanah yang sering terjadi di lingkungan saya,” ungkap Rafael.

 

Ia menambahkan, masih banyak masyarakat yang belum memahami hak atas tanah maupun aspek hukum pertanahan.

 

Karena itu, kehadiran generasi muda yang memiliki kompetensi di bidang agraria dinilai sangat dibutuhkan, khususnya di wilayah Papua yang memiliki karakteristik pertanahan yang kompleks.

 

“Harapannya setelah lulus nanti saya bisa kembali dan membagikan ilmu yang saya dapatkan kepada masyarakat. Dengan begitu masyarakat bisa lebih memahami hak-haknya dan tidak mudah dirugikan dalam urusan pertanahan,” tuturnya.

 

Kisah Alfando dan Rafael mencerminkan peran pendidikan tinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia yang siap berkontribusi bagi pembangunan daerah.

 

Bagi keduanya, menempuh pendidikan di Politeknik Agraria STPN bukan sekadar meraih gelar, melainkan bagian dari persiapan untuk menghadirkan solusi atas berbagai persoalan pertanahan dan tata ruang di Papua.

 

Sementara itu, Politeknik Agraria STPN masih membuka pendaftaran Taruna/Taruni Tahun Akademik 2026 hingga 18 Juni 2026.

 

Kesempatan tersebut terbuka bagi lulusan SMA/sederajat yang ingin mendalami bidang pertanahan dan tata ruang serta berkontribusi dalam pembangunan daerah melalui jalur pendidikan kedinasan.( Sar).