Prof. DR. Mahfud Nurnajamuddin Soroti Paradoks Kurban: Konsumsi Daging Naik, Gizi Nasional Masih Tertinggal
Makassar | Serulingmedia.com – Momentum Hari Raya Iduladha setiap tahun menghadirkan lonjakan konsumsi daging dalam jumlah besar di Indonesia.
Jutaan hewan kurban disembelih dan didistribusikan kepada masyarakat di berbagai daerah. Namun di balik besarnya perputaran ekonomi tersebut, persoalan gizi nasional dinilai masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.
Hal itu disampaikan Prof. DR. Mahfud Nurnajamuddin, Guru Besar FEB UMI sekaligus Asdir II PPs UMI Makassar.
Menurutnya, Indonesia tengah menghadapi paradoks pangan, di mana konsumsi protein hewani meningkat tajam saat Iduladha, tetapi kualitas gizi masyarakat belum mengalami perubahan signifikan secara berkelanjutan.
Data Kementerian Agama RI mencatat, jumlah hewan kurban nasional pada Iduladha 2025 mencapai sekitar 1,85 juta ekor, terdiri atas 627 ribu sapi dan kerbau serta 1,22 juta kambing dan domba.
Nilai ekonominya diperkirakan menembus lebih dari Rp18 triliun. Sementara Pusat Kajian Strategis BAZNAS RI memperkirakan potensi ekonomi kurban nasional mencapai Rp34,3 triliun dengan produksi daging lebih dari 195 ribu ton.
“Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa kurban memiliki dampak sosial dan ekonomi yang luar biasa. Namun persoalan utamanya adalah akses masyarakat terhadap pangan bergizi yang masih belum merata,” ujar Prof. Mahfud.
Ia menilai, persoalan gizi nasional tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pangan, tetapi juga dipengaruhi ketimpangan ekonomi dan rendahnya daya beli masyarakat.
Di tengah meningkatnya kebutuhan hidup, banyak keluarga lebih memprioritaskan kebutuhan dasar dibanding kualitas nutrisi makanan.
Akibatnya, konsumsi protein hewani seperti daging, telur, susu, dan ikan belum menjadi bagian rutin dalam pola makan sebagian masyarakat.
Momentum Iduladha pun menjadi salah satu kesempatan bagi kelompok rentan untuk menikmati asupan protein dalam jumlah lebih baik dibanding hari-hari biasa.
“Lonjakan konsumsi daging saat kurban bersifat sementara. Setelah Iduladha berlalu, sebagian besar masyarakat kembali pada pola konsumsi minim protein dan rendah variasi nutrisi,” katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu penyebab persoalan stunting, anemia, dan ketimpangan akses pangan sehat masih menjadi tantangan nasional.
Karena itu, perbaikan kualitas sumber daya manusia tidak dapat bergantung pada konsumsi musiman, tetapi membutuhkan pola makan sehat yang konsisten.
Prof. Mahfud menegaskan, pemerintah perlu menjadikan fenomena kurban sebagai bahan evaluasi dalam kebijakan pangan dan pembangunan manusia.
Ia menilai program perbaikan gizi harus terintegrasi dengan penguatan ekonomi masyarakat.
Ia mendorong pemerintah menjaga stabilitas harga pangan bergizi agar lebih terjangkau, memperkuat peternakan rakyat, serta mengembangkan distribusi daging kurban yang lebih produktif dan berkelanjutan melalui pengolahan daging beku maupun program bank protein bagi masyarakat rentan.
Selain itu, edukasi gizi keluarga juga dinilai penting agar masyarakat memahami bahwa kualitas gizi tidak hanya ditentukan oleh konsumsi daging, tetapi juga keseimbangan nutrisi, sanitasi, dan pola hidup sehat.
“Iduladha mengajarkan nilai kepedulian dan keadilan sosial. Semangat kurban seharusnya tidak berhenti pada pembagian daging sesaat, tetapi menjadi momentum membangun sistem pangan yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” pungkasnya.( Yah/Eno).






