Hadiah Tak Sesuai, Didin Wali Atlet Protes Keras Turnamen Walikota Cup 2025

Screenshot_2025-11-14-06-29-02-819_com.android.chrome-edit

Batu | Serulingmedia.com – Ada yang berbeda dari suasana Turnamen Terbuka Bulutangkis Walikota Cup 2025 di GOR Ganesha Batu.

Bukan semangat sportivitas yang mengemuka, melainkan gelombang kekecewaan yang menyeruak dari para peserta, terutama seorang wali atlet bernama Didin Dariyanto.

Suaranya mewakili kekecewaan banyak pihak atas penyelenggaraan turnamen yang dinilai tidak profesional dan jauh dari harapan.

Turnamen ini, yang seharusnya menjadi panggung pembinaan atlet muda sekaligus bagian perayaan HUT Kota Batu ke-24, justru meninggalkan catatan kelam.

Panitia dianggap tidak konsisten, terutama terkait pemberian hadiah yang tidak sesuai dengan besaran yang telah dipublikasikan secara resmi melalui flyer.

Didin: “Ini Bukan Sekadar Hadiah, Ini Soal Harga Diri Kota Batu”

Didin, perwakilan PB Beji dan wali dari salah satu atlet, menjadi salah satu suara lantang yang menyuarakan kekecewaan. Baginya, ketidaksesuaian hadiah bukan sekadar persoalan nominal uang, tetapi persoalan kejujuran, integritas, dan nama baik Kota Batu.

Flyer resmi mencantumkan total hadiah Rp65 juta, namun yang dibagikan kepada para juara hanya Rp34,5 juta. Selisih besar ini membuat Didin merasa bahwa panitia telah melakukan pembohongan publik.

“Kami sangat malu. Turnamen ini membawa nama Kota Batu, tapi justru menciptakan kekecewaan. Ini tidak hanya merugikan atlet, tapi mencoreng marwah kota kita,” ujarnya penuh kesal.

Baginya, sebagai wali atlet, ia harus menjaga semangat dan mental anak-anak yang bertanding. Namun kekecewaan ini membuat para atlet kehilangan gairah dan merasa perjuangan mereka tidak dihargai.

Mengembalikan Hadiah: Simbol Kekecewaan yang Dalam

Kemarahan Didin dan para wali atlet lainnya memuncak ketika mereka sepakat mengembalikan seluruh hadiah yang diterima.

Tindakan itu bukan sekadar protes, tetapi simbol bahwa mereka menolak ketidakadilan dan ketidakterbukaan panitia.

Mereka menyerahkan kembali hadiah tersebut langsung kepada Wali Kota dan Wakil Wali Kota Batu.

Langkah ini mempertegas bahwa yang mereka inginkan bukanlah uang, melainkan keadilan, transparansi, dan profesionalitas.

Didin Menemui Wakil Wali Kota: Mencari Keadilan, Bukan Keributan

Didin dan para wali atlet akhirnya menemui Wakil Wali Kota Batu, Hely Suyanto, di rumah dinas.

Dalam pertemuan itu Didin tidak hanya menyampaikan keluhan, tetapi juga harapan agar kejadian seperti ini tidak muncul lagi di Kota Batu.

Ia menegaskan bahwa turnamen olahraga harus menjadi ruang pembinaan yang jujur, bukan menimbulkan trauma bagi atlet muda.

Wakil Wali Kota pun berjanji akan mengevaluasi panitia dan memastikan hak-hak peserta dipenuhi sesuai janji awal.

Meski belum menyelesaikan semua persoalan, jawaban itu memberi sedikit ketenangan bagi Didin dan para wali atlet lainnya.

Suara Didin, Suara Kekecewaan yang Mewakili Banyak Orang

Kisah Didin bukan hanya cerita seorang wali atlet yang kecewa, tetapi representasi dari kegundahan banyak pihak terhadap penyelenggaraan turnamen yang semestinya menjunjung tinggi nilai sportivitas.

Kekecewaannya mengingatkan bahwa dalam dunia olahraga, integritas adalah pondasi. Ketika janji-janji dilanggar, bukan hanya hadiah yang hilang, tetapi juga semangat para atlet muda yang sedang dirintis.

Didin berharap peristiwa ini menjadi pengingat bagi penyelenggara event olahraga lainnya di Kota Batu bahwa profesionalisme bukan pilihan, melainkan kewajiban.( Eno).