Reuni Alumni MMTC ke-4 Telusuri Jejak Bung Karno di Banceuy, Yudi Ungkap Bercak Merah Misterius

IMG_20261009_171026

Bandung | Serulingmedia.com – Reuni ke-4 Alumni MMTC Yogyakarta lintas angkatan tahun 2026 tidak hanya menjadi ajang mempererat silaturahmi, tetapi juga perjalanan mengenang sejarah perjuangan bangsa.

 

Salah satu agenda yang menarik perhatian adalah kunjungan ke bekas Penjara Banceuy, tempat Presiden pertama RI, Soekarno, pernah ditahan pada masa penjajahan Belanda, Rabu ( 7/10/2026).

Di sela kunjungan tersebut, Yudi, petugas sekaligus pemandu situs bersejarah Penjara Banceuy, mengungkapkan pengalaman yang menurutnya tidak biasa.

 

Pada Desember 2025, ia mendapati bercak menyerupai darah pada tembok sel nomor lima, ruangan yang dikenal sebagai tempat Bung Karno pernah menjalani penahanan.

 

Yudi mengaku tidak mengetahui asal-usul bercak tersebut. Ia kemudian membersihkannya karena tidak mengetahui darah siapa yang menempel di tembok itu.

 

“Waktu Desember kemarin seperti ada bercak darah di luar cat tembok ini. Jadi kita bersihkan, nggak tahu darah apa,” ungkap Yudi saat menceritakan pengalamannya kepada pengunjung.

 

Menurut Yudi, kejadian tersebut menimbulkan tanda tanya baginya. Namun, ia tidak dapat memastikan penyebab munculnya bercak itu maupun menghubungkannya dengan peristiwa tertentu.

 

Belakangan, muncul tafsir yang mengaitkan bercak tersebut dengan berbagai musibah yang terjadi pada 2026, termasuk bencana banjir di sejumlah wilayah Sumatra dan daerah lain di Indonesia.

 

Meski demikian, hubungan antara bercak di tembok sel dan bencana tersebut belum memiliki bukti yang dapat dipastikan secara ilmiah.

 

Kisah itu menjadi bagian dari pengalaman para alumni saat mengunjungi situs yang menyimpan jejak penting perjalanan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

 

Saksi Perjuangan Bung Karno

Penjara Banceuy berada di Jalan Banceuy Nomor 8A, Kota Bandung. Bangunan tersebut didirikan pemerintah kolonial Belanda pada 1877 dan dahulu digunakan untuk menahan tahanan kriminal serta tahanan politik.

Pada akhir Desember 1929, Soekarno bersama tiga rekannya dari Partai Nasional Indonesia (PNI), yakni Maskoen, Soepriadinata, dan Gatot Mangkoepraja, ditangkap dan kemudian ditahan di Penjara Banceuy sebelum menjalani persidangan.

 

Di balik keterbatasan ruang tahanan, Bung Karno menyusun pledoi atau naskah pembelaan yang kemudian dikenal sebagai Indonesia Menggugat.

 

Naskah tersebut dibacakan dalam persidangan di Gedung Landraad, yang kini dikenal sebagai Gedung Indonesia Menggugat di Jalan Perintis Kemerdekaan, Bandung.

 

Pledoi tersebut menjadi salah satu dokumen penting dalam sejarah pergerakan nasional karena memuat kritik terhadap kolonialisme dan menyuarakan hak bangsa Indonesia untuk merdeka.

Sel Nomor Lima Dipertahankan

Yudi menjelaskan, kompleks Penjara Banceuy dahulu memiliki luas sekitar satu hektare. Menurut penuturannya, terdapat 16 sel untuk tahanan politik dan lebih banyak sel untuk tahanan lainnya.

 

Pada 1983, kompleks penjara dipindahkan ke kawasan Jalan Soekarno-Hatta. Bangunan lama kemudian dibongkar untuk pembangunan kawasan pertokoan dan pusat bisnis.

 

Namun, sel nomor lima yang pernah ditempati Bung Karno serta menara pengawas tetap dipertahankan sebagai peninggalan sejarah.

Yudi juga meneruskan upaya pelestarian yang dilakukan ayahnya, Ahmad Amin, sejak 1983 hingga 2014 dengan biaya pribadi.

 

“Di sini kebetulan saya meneruskan perjuangan Bapak. Dulu yang memelihara tempat ini Bapak, dari tahun 1983 sampai 2014, menggunakan anggaran pribadi karena saking cintanya kepada Bapak Soekarno,” tuturnya.

 

Menurut Yudi, upaya pelestarian tersebut mulai mendapat pengakuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada 2015.

 

Reuni Sekaligus Mengenang Sejarah

Bagi peserta Reuni ke-4 Alumni MMTC Yogyakarta tahun 2026, kunjungan ke Penjara Banceuy menjadi bagian dari perjalanan yang memadukan kebersamaan dengan pembelajaran sejarah.

 

Para alumni yang berasal dari berbagai angkatan, termasuk mereka yang pernah mengabdi di lingkungan kedinasan, memanfaatkan momentum reuni untuk mengenang perjalanan masa lalu sekaligus menelusuri jejak perjuangan tokoh bangsa.

 

Kunjungan ini mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia lahir melalui perjuangan panjang. Dari ruang tahanan yang sempit, Bung Karno tetap mampu menyusun gagasan besar tentang kemerdekaan dan martabat bangsa.

 

Sementara itu, kisah Yudi menunjukkan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga peninggalan sejarah agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya.

 

Bercak merah yang diceritakan Yudi masih menyisakan pertanyaan mengenai asal-usulnya. Namun, tanpa bukti yang memastikan penyebab maupun maknanya, kisah tersebut tetap menjadi pengalaman pribadi yang perlu disikapi secara hati-hati.

 

Melalui kunjungan ini, Reuni ke-4 Alumni MMTC Yogyakarta tidak hanya mempererat tali silaturahmi, tetapi juga mengajak peserta menghargai sejarah, meneruskan semangat pengabdian, dan menjaga warisan perjuangan bangsa agar tidak hilang ditelan zaman.( Eno).