Mahasiswa Psikologi UIN Malang Ditantang Tak Sekadar Paham Manusia, tetapi Harus Mampu Menghadirkan Makna
Malang | Serulingmedia.com – Mahasiswa psikologi tidak cukup hanya menguasai teori, memahami perilaku manusia, dan mengejar gelar sarjana.
Mereka dituntut mampu mengenali diri, mengembangkan kapasitas, serta menghadirkan manfaat nyata bagi kehidupan orang lain.
Pesan tersebut mengemuka dalam Studium Generale Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang bertema “Becoming a Meaningful Psychology Student: Bertumbuh, Berdaya, dan Berdampak” yang berlangsung di Aula Lantai 3 Gedung FKIK, Jumat (30/10/2026).
Kegiatan yang diikuti mahasiswa semester pertama itu menghadirkan Dekan Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran, Dr. Retno Hanggarani Ninin, M.Psi., Psikolog, sebagai keynote speaker.
Dalam paparannya, Retno mengajak mahasiswa merefleksikan kembali alasan memilih psikologi.
Apakah untuk memahami diri sendiri, memahami orang lain, membantu individu yang mengalami masalah, atau justru masih mencari alasan atas pilihan tersebut?
Ia menegaskan, perjalanan empat tahun perkuliahan seharusnya tidak hanya berorientasi pada perolehan gelar sarjana psikologi, tetapi menjadi proses pembentukan manusia yang terus berkembang dan mampu memberikan kontribusi bagi lingkungan.
“Menjadi mahasiswa psikologi jangan hanya berorientasi pada gelar sarjana. Lebih dari itu, jadikan proses perkuliahan sebagai perjalanan untuk mengenali diri, mengembangkan kapasitas, dan memberikan manfaat bagi orang lain,” ungkap Retno.
Menurutnya, terdapat tiga orientasi yang perlu dibedakan dalam pendidikan psikologi, yakni sekadar memiliki gelar psikologi (having a psychology degree), memahami ilmu psikologi (knowing psychology), dan menjadi mahasiswa psikologi yang bermakna (becoming a meaningful psychology student).
Orientasi terakhir menempatkan proses belajar sebagai bagian dari pembentukan kualitas diri sekaligus upaya menghadirkan kebermanfaatan bagi sesama.
Retno kemudian menguraikan tiga hal penting yang harus dikembangkan mahasiswa psikologi, yakni bertumbuh, berdaya, dan berdampak.
Pertama, bertumbuh (knowing the self). Mahasiswa perlu mengenali diri, memahami identitas, mengembangkan kesadaran diri (self-awareness), serta belajar melihat persoalan dari berbagai perspektif (perspective-taking).
Proses tersebut membutuhkan pola pikir berkembang (growth mindset), yaitu kesadaran bahwa setiap manusia memiliki ruang untuk terus belajar dan berubah.
Ia mengingatkan bahwa perilaku manusia tidak dapat disederhanakan melalui satu label atau diagnosis. Setiap individu memiliki proses perkembangan dan konteks kehidupan yang berbeda.
“Manusia tidak bisa disederhanakan melalui satu label atau diagnosis. Semakin kita belajar tentang manusia, seharusnya semakin rendah hati kita dalam memahami diri sendiri maupun orang lain,” jelasnya.
Kedua, berdaya (developing the self). Mahasiswa harus membangun kapasitas intelektual dan kemampuan menghadapi kehidupan secara bertanggung jawab.
Retno menegaskan bahwa psikologi merupakan disiplin ilmu pengetahuan, bukan sekadar intuisi atau pendapat pribadi. Karena itu, pemahaman psikologi harus dibangun melalui teori, penelitian, dan pendekatan ilmiah.
“Psikologi adalah ilmu pengetahuan, bukan sekadar intuisi atau pendapat pribadi. Karena itu, mahasiswa harus membangun pemahaman berdasarkan teori, penelitian, dan pengetahuan ilmiah,” tegasnya.
Keberdayaan juga berkaitan dengan kemampuan berpikir kritis, mengelola diri, berkomunikasi, bekerja sama, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Menurut Retno, kesalahan, kesulitan akademik, dan perbedaan pendapat tidak seharusnya dipandang sebagai hambatan semata. Semua itu merupakan bagian dari proses pembelajaran untuk membangun kapasitas diri.
Ketiga, berdampak (transcending the self). Belajar psikologi tidak boleh berhenti pada kepentingan pengembangan diri, tetapi harus mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ia menjelaskan, manusia selalu hidup dalam konteks keluarga, kelompok, budaya, dan lingkungan sosial. Karena itu, memahami persoalan manusia membutuhkan kepekaan terhadap berbagai kondisi yang melingkupinya.
Empati, lanjutnya, bukan sekadar merasa kasihan, melainkan kemampuan memahami perspektif, kebutuhan, martabat, dan kapasitas orang lain.
Bahkan, mahasiswa tidak perlu menunggu menjadi sarjana psikologi untuk mulai memberikan dampak.
“Tidak perlu menunggu menjadi sarjana psikologi untuk memberikan dampak. Sejak semester pertama, mahasiswa sudah bisa memberikan manfaat melalui kesediaan mendengarkan, menghargai perbedaan, menjaga kerahasiaan, dan membangun lingkungan yang suportif,” paparnya.
Lebih jauh, Retno mengingatkan bahwa bertumbuh, berdaya, dan berdampak tidak secara otomatis membuat kehidupan seseorang bermakna. Kebermaknaan juga berkaitan dengan tujuan, nilai, serta orientasi hidup.
Ia menjelaskan tiga aspek dalam kerangka meaning in life, yakni coherence atau kemampuan memahami kehidupan, purpose atau memiliki arah dan tujuan, serta significance atau kesadaran bahwa kehidupan memiliki arti.
Untuk membangun kebermaknaan tersebut, mahasiswa perlu memperlakukan ilmu sebagai amanah, belajar sebagai ikhtiar, dan kebermanfaatan sebagai orientasi.
“Ilmu bukan hanya tentang apa yang bisa kita peroleh, tetapi juga tentang kebaikan apa yang bisa kita hadirkan melalui ilmu tersebut,” tandas Retno.
Sementara itu, Dekan Fakultas Psikologi UIN Malang, Prof. Dr. Hj. Siti Mahmudah, M.Si., dalam sambutannya berharap mahasiswa terus mengembangkan potensi dan mengaktualisasikan kemampuan diri.
Ia menegaskan, fakultas akan memberikan dukungan kepada mahasiswa agar dapat bertumbuh dan menunjukkan kapasitas terbaiknya selama menjalani pendidikan.
Wakil Rektor II UIN Malang, Dr. Zainal Habib, M.Hum., juga berharap kegiatan Studium Generale dapat menjadi tradisi akademik yang terus dikembangkan di Fakultas Psikologi.
Ia mengingatkan mahasiswa agar berani keluar dari zona nyaman. Sebab, proses menjadi pribadi yang bertumbuh, berdaya, dan bermanfaat membutuhkan keberanian menghadapi tantangan.
Studium Generale ini sekaligus menjadi bagian dari upaya Fakultas Psikologi UIN Malang memperluas pengalaman akademik mahasiswa.
Sebelumnya, mahasiswa semester lima dan tujuh telah memperoleh kesempatan mengikuti kuliah praktisi bersama narasumber dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta akademisi dari Malaysia.
Ke depan, kesempatan serupa akan diberikan secara bertahap kepada seluruh mahasiswa.
Melalui kegiatan tersebut, Fakultas Psikologi UIN Malang ingin membangun kesadaran bahwa keberhasilan pendidikan psikologi tidak semata-mata diukur dari gelar akademik maupun penguasaan teori.
Mahasiswa diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang mengenal dirinya, memiliki kapasitas keilmuan, serta mampu menghadirkan kebaikan bagi kehidupan orang lain.
Menjadi mahasiswa psikologi yang bermakna bukan sekadar belajar tentang manusia, melainkan menjalani proses menjadi manusia yang semakin mengenal dirinya, mampu mengembangkan kapasitasnya, dan memberikan arti bagi kehidupan sesama. ( Eno).
