Prof. Dr. Abd. Haris: Menelisik Jejak Sejarah, Menatap Masa Depan UIN Maliki

2241051_11zon

Malang| Serulingmedia.com — Peringatan Dies Natalis ke-65 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menjadi momentum untuk menelusuri kembali perjalanan sejarah institusi sekaligus memperkuat orientasi masa depan perguruan tinggi Islam tersebut.

Prof. Dr. H. Abd. Haris, M.Ag., Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sekaligus mantan rektor periode 2017–2021, menekankan pentingnya kajian sejarah berbasis dokumen agar perjalanan panjang kampus dapat dipahami secara utuh dan menjadi pijakan pengembangan institusi.

Dalam refleksinya menyambut Dies Natalis ke-65 pada 28 Oktober 2026, Abd. Haris mengingatkan bahwa sejarah UIN Maliki bukan sekadar rangkaian perubahan nama dan status kelembagaan.

Di dalamnya terdapat proses panjang pembentukan identitas akademik, penguatan kepemimpinan, serta upaya menjawab tantangan pendidikan tinggi.

“Perjalanan sejarah ini sangat perlu ditelisik dan distudi melalui dokumen berbasis sejarah,” demikian penekanan Abd. Haris dalam refleksi yang ditulis di Malang, Selasa ( 27/10/ 2026).

Dari Fakultas Tarbiyah hingga UIN

Berdasarkan catatan sejarah yang disampaikan Abd. Haris, perjalanan institusi ini bermula ketika Fakultas Tarbiyah Malang menjadi cabang IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 28 April 1961. Fakultas tersebut diresmikan Menteri Agama pada 28 Oktober 1961.

Pada 5 Juli 1965, Fakultas Tarbiyah Malang bergabung dengan IAIN Sunan Ampel Surabaya. Perubahan berikutnya terjadi pada 21 Maret 1997, ketika institusi tersebut menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Malang.

Transformasi berlanjut pada 21 Juli 2002melalui perubahan menjadi Universitas Islam Indonesia-Sudan (UIIS), yang diresmikan Wakil Presiden Hamzah Haz.

Pada 21 Juni 2004, STAIN/UIIS Malang beralih menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Selanjutnya, pada 27 Januari 2009, nama Maulana Malik Ibrahim disematkan sehingga menjadi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Rangkaian perubahan tersebut menunjukkan dinamika kelembagaan yang terus bergerak mengikuti kebutuhan dan tantangan zaman. Namun, menurut Abd. Haris, perubahan status harus diikuti peningkatan mutu akademik, penguatan karakter, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Estafet Kepemimpinan

Perjalanan UIN Maliki juga tidak terlepas dari peran para pemimpin yang mengawal setiap fase perkembangannya.

Abd. Haris mencatat sejumlah tokoh yang pernah memimpin Fakultas Tarbiyah, antara lain Prof. Koesno, KH. Oesman Mansur, Drs. Maksum Oemar, Drs. Mudjib, Dra. Zuhairi, Drs. Anwar, dan Drs. Djumberansyah.

Dalam fase transformasi kelembagaan, Prof. Dr. Imam Suprayogo menjadi tokoh penting sebagai Ketua STAIN, Rektor UIIS, sekaligus rektor pertama UIN Malang. Kepemimpinan selanjutnya dilanjutkan Prof. Dr. Mudjia Rahardjo, Prof. Dr. Abd. Haris, Prof. Dr. Zainuddin, M.A., hingga Rektor UIN Maliki saat ini, Prof. Dr. Ilfi Nur Diana.

Estafet tersebut menegaskan bahwa kemajuan perguruan tinggi merupakan hasil proses lintas generasi. Setiap kepemimpinan memiliki tantangan dan prioritas berbeda, tetapi semuanya berkontribusi terhadap pembentukan karakter institusi.

Integrasi Ilmu dan Wahyu

Memasuki usia ke-65, UIN Maliki dihadapkan pada tantangan untuk terus meningkatkan prestasi sekaligus mempertahankan distingsi keilmuan.

Abd. Haris berharap kampus tersebut konsisten mengembangkan paradigma integrasi ilmu dan wahyu ilahi. Melalui paradigma ini, agama, sains, dan teknologi diharapkan dapat berkembang secara terpadu dalam pelaksanaan tridharma perguruan tinggi.

Integrasi tersebut tidak cukup menjadi gagasan akademik. Implementasinya harus tercermin dalam pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta karakter lulusan.

Lulusan UIN Maliki diharapkan tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga kepedulian terhadap manusia dan alam.

Mereka harus mampu menjalankan peran sebagai Abdullah, hamba Allah, sekaligus Khalifatullah fil ardli, pemegang amanah untuk memakmurkan bumi.

Dengan orientasi itu, keberhasilan universitas tidak semata-mata diukur melalui peringkat dan reputasi internasional.

Kontribusi terhadap masyarakat, kualitas lulusan, serta kemampuan menjawab persoalan bangsa juga menjadi ukuran penting.

Menuju Universitas Berkelas Dunia

Abd. Haris menaruh harapan besar agar UIN Maliki terus melakukan transformasi tanpa kehilangan identitas keislamannya.

Penguatan mutu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat harus berjalan beriringan dengan inovasi, tata kelola yang baik, serta pengembangan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi bangsa dan negara.

Cita-cita menjadi perguruan tinggi berkelas dunia, menurut refleksi tersebut, membutuhkan ikhtiar yang konsisten dan berkelanjutan.

Reputasi tidak dapat dibangun hanya melalui perubahan kelembagaan, tetapi harus dibuktikan melalui kualitas akademik dan kontribusi nyata.

“Semoga terus maju, tidak berhenti, apalagi menjadi koma,” tulis Abd. Haris dalam pesan Dies Natalis ke-65 UIN Maliki.

Pesan itu menegaskan bahwa usia 65 tahun bukanlah akhir perjalanan, melainkan momentum untuk memperkuat langkah menuju masa depan.

Peringatan Dies Natalis ke-65 pun menjadi kesempatan untuk menghubungkan sejarah dengan agenda pembaruan.

Sejarah memberikan pijakan, kepemimpinan menjaga kesinambungan, sedangkan integrasi ilmu dan wahyu menjadi fondasi untuk melahirkan generasi berilmu, berakhlak, dan bertanggung jawab.

Abd. Haris berharap UIN Maulana Malik Ibrahim Malang terus berkembang menjadi perguruan tinggi yang berprestasi, memiliki distingsi keilmuan yang kuat, dan mampu berkiprah di tingkat dunia.

Selamat Dies Natalis ke-65 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Terus bertumbuh, berinovasi, dan mengabdi untuk kemajuan bangsa. ( Eno)