Mahasiswa Psikologi UIN Malang Dibekali Cara Kritis Gunakan AI untuk Kesehatan Mental
Malang | Serulingmedia.com – Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang dibekali pemahaman kritis untuk memanfaatkan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) sebagai sarana refleksi diri, sekaligus mengenali batasannya dalam membantu mengatasi persoalan kesehatan mental.
Bekal tersebut dibahas dalam kegiatan visiting lecture bertema “Mental Health di Era Digital: Fenomena AI sebagai Teman Curhat dan Penyembuhan Diri” yang menghadirkan Dr. Yusria Ningsih, S.Ag., M.Kes., CHt., dari UIN Sunan Ampel Surabaya, Senin (19/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Kelas 204 Fakultas Psikologi itu diikuti mahasiswa Program Sarjana (S1) Psikologi. Kuliah tamu ini memberikan perspektif bagi mahasiswa untuk memahami perubahan perilaku masyarakat dalam mencari dukungan emosional di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Melalui pembahasan tersebut, mahasiswa diharapkan mampu membedakan penggunaan AI untuk memperoleh informasi dan melakukan refleksi diri dengan kebutuhan penanganan psikologis yang memerlukan keterlibatan tenaga profesional.
Kemampuan ini penting karena AI semakin mudah diakses dan dapat merespons percakapan, sehingga digunakan sebagian orang sebagai tempat mencurahkan perasaan ketika menghadapi tekanan emosional. Namun, respons yang terasa empatik tidak selalu berarti AI mampu memahami pengalaman, kondisi, dan kompleksitas persoalan seseorang secara menyeluruh.
Bagi mahasiswa psikologi, fenomena ini menjadi bahan pembelajaran untuk mengkaji hubungan antara perilaku manusia, kebutuhan dukungan emosional, dan perubahan pola pencarian bantuan di era digital.
Memahami Batas AI dalam Self-Healing
Pembahasan juga berkaitan dengan konsep self-healing, yakni upaya individu mendukung pemulihan dan kesejahteraan dirinya. Mahasiswa perlu memahami bahwa proses tersebut tidak sekadar mencurahkan perasaan, tetapi juga melibatkan kemampuan mengenali emosi, memahami kebutuhan diri, serta memilih cara menghadapi tekanan secara sehat.
Dalam konteks ini, AI dapat dimanfaatkan sebagai sarana memperoleh informasi awal atau membantu menyusun refleksi atas persoalan yang dihadapi. Namun, mahasiswa perlu bersikap kritis terhadap ketepatan informasi, keterbatasan respons, serta risiko menjadikan teknologi sebagai satu-satunya sumber dukungan emosional.
Pemahaman tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk membangun literasi kesehatan mental digital. Mereka diharapkan mampu menilai kapan teknologi dapat membantu dan kapan seseorang perlu mendapatkan dukungan dari keluarga, lingkungan sosial, psikolog, konselor, atau tenaga profesional terkait.
AI tidak dapat menggantikan asesmen, konseling, maupun penanganan psikologis profesional, terutama ketika persoalan yang dihadapi membutuhkan pendampingan lebih lanjut.
Menyiapkan Calon Psikolog Menghadapi Perubahan Zaman
Kehadiran Dr. Yusria Ningsih dari UIN Sunan Ampel Surabaya memperluas wawasan mahasiswa melalui pembelajaran lintas perguruan tinggi mengenai isu kesehatan mental yang semakin relevan dengan kehidupan masyarakat digital.
Kuliah tamu ini juga mendorong mahasiswa menghubungkan teori psikologi dengan fenomena nyata di masyarakat. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memahami perkembangan teknologi, tetapi juga mampu menganalisis dampaknya terhadap perilaku, regulasi emosi, relasi sosial, dan cara individu mencari pertolongan.
Pemahaman tersebut relevan sebagai bekal akademik bagi calon praktisi psikologi agar lebih peka terhadap perubahan kebutuhan masyarakat, termasuk meningkatnya penggunaan teknologi dalam mencari informasi dan dukungan emosional.
Melalui kegiatan ini, Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memperkuat pembelajaran yang kontekstual dan responsif terhadap tantangan era digital. Mahasiswa diharapkan mampu menggunakan teknologi secara bijaksana, memahami keterbatasannya, serta menempatkan dukungan manusia dan bantuan profesional sebagai bagian penting dalam menjaga kesehatan mental.(Eno)
