Kopi Malang Mendunia, Nasib Petani Jadi Ujian Malangopi Fest 2026

2195999_11zon

Malang | Serulingmedia.com – Pengakuan pasar dunia terhadap kopi Malang belum otomatis menjamin peningkatan kesejahteraan petani.

Di tengah berkembangnya industri dan perdagangan kopi, tantangan terbesar justru memastikan petani memperoleh harga yang layak, memiliki posisi tawar lebih kuat, dan ikut menikmati nilai tambah dari komoditas yang mereka hasilkan.

Persoalan inilah yang menjadi pekerjaan rumah dalam upaya membangkitkan kembali Malang sebagai pusat kopi dan kakao dunia melalui Malangopi Fest 2026.

Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) III Malang menggagas festival tersebut sebagai upaya memperkuat ekosistem kopi dan kakao, sekaligus mendorong kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya.

Malangopi Fest 2026 dijadwalkan berlangsung pada 19 November 2026 di Taman Krida Budaya Jawa Timur, Kota Malang.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian IBU PERTIWI Nawa Bhumi Nitimira yang berlangsung pada 17–19 November 2026.

Festival tersebut melibatkan Wondo Kopie, TosanAji.id, serta sejumlah komunitas pegiat ekosistem kopi dan kebudayaan di wilayah kerja Bakorwil III Malang.

Kepala Bakorwil III Malang, Asep Kusdinar, mengatakan Malang memiliki sejarah dan potensi kuat sebagai penghasil kopi dan kakao.

Potensi itu perlu dikembangkan kembali melalui program yang mampu memperkuat industri sekaligus membuka peluang ekonomi lebih luas.

“Malang punya akar, potensi dan sejarah yang sangat kuat sebagai pusat penghasil kopi dan kakao tingkat dunia. Semangat ini yang hendak kita munculkan kembali melalui gelaran event Malangopi Fest 2026,” kata Asep dalam diskusi bersama Wakil Bupati Malang Lathifah Shohib di Kantor Bakorwil III Malang, Jumat (16/10/2026).

Menurut Asep, perkembangan ekosistem produk dan industri kopi di Malang menunjukkan kemajuan pesat.

Ia meyakini potensi tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut, termasuk dalam kerangka grand design Malang Raya Megapolitan.

Namun, kebangkitan industri kopi juga menuntut keterhubungan yang lebih kuat antara produksi di tingkat petani dan perkembangan pasar.

Peningkatan kualitas, akses pemasaran, pengolahan, serta kemitraan menjadi aspek penting agar pertumbuhan industri dapat menciptakan nilai tambah di sepanjang rantai usaha.

“Ibu Gubernur Jawa Timur adalah seorang ahli perkopian. Beliau juga getol mengembangkan produk kopi di Jawa Timur. Malang menjadi perhatian dalam programnya untuk pengembangan produk dan industri kopi. Ini yang kita dukung,” ujar Asep.

Pengakuan Pasar Belum Cukup

Wakil Bupati Malang, Lathifah Shohib, menegaskan pengembangan Koridor Selatan-Selatan Jawa Timur, khususnya melalui grand design Malang Raya Megapolitan, harus memperhatikan kearifan lokal dan potensi agroindustri, termasuk kopi dan kakao.

Ia menyebut kopi Malang telah memperoleh pengakuan di pasar dunia, antara lain tercermin dari aktivitas ekspornya. Namun, penguatan ekosistem tetap dibutuhkan agar potensi tersebut dapat berkembang secara berkelanjutan.

“Kopi dari Malang sudah diakui dunia. Buktinya dari angka ekspor kopi dari Malang. Namun, kita masih sangat membutuhkan program kerja inovatif dan kolaboratif untuk membangun keseluruhan ekosistemnya, agar bisa lebih menjamin keberlanjutan dan keunggulannya,” kata Lathifah.

Pernyataan tersebut menyoroti tantangan mendasar dalam pengembangan komoditas unggulan: keberhasilan menembus pasar tidak cukup jika belum diikuti penguatan posisi petani dalam rantai perdagangan.

Petani berada di titik awal produksi, tetapi peningkatan nilai produk dapat berlangsung pada berbagai tahapan berikutnya, mulai dari pengolahan, penyangraian, pengemasan, pembangunan merek, hingga distribusi kepada konsumen.

Karena itu, penguatan industri perlu disertai upaya memperluas akses petani terhadap informasi harga, pasar, teknologi pengolahan, dan kemitraan usaha.

Tanpa dukungan tersebut, peluang menikmati nilai tambah dari meningkatnya popularitas kopi berpotensi tidak terdistribusi secara merata.

Meski demikian, besaran kesenjangan harga antara tingkat petani dan konsumen serta dampaknya terhadap pendapatan petani kopi Malang masih memerlukan data yang terukur.

Data harga jual di tingkat kebun, biaya produksi, harga pembelian oleh pengepul, dan nilai produk setelah diolah diperlukan untuk menilai persoalan tersebut secara objektif.

Perempuan dan Komunitas Didorong Terlibat
Selain memperkuat industri kopi, Bakorwil III Malang menjajaki kolaborasi Dharma Wanita Persatuan (DWP) dengan Muslimat Nahdlatul Ulama (NU).

Penjajakan itu dilakukan dalam diskusi Asep Kusdinar dan Lathifah Shohib pada Jumat (16/10/2026).

Kolaborasi tersebut sejalan dengan semangat IBU PERTIWI, yang mendorong pemberdayaan perempuan agar lebih berdaya, kreatif, dan inspiratif.

Keterlibatan perempuan dinilai dapat memperluas peluang usaha berbasis potensi lokal, termasuk pengolahan produk kopi, pemasaran, pengembangan usaha mikro, dan ekonomi kreatif.

Agar memberikan dampak nyata, pelibatan kelompok perempuan juga perlu diarahkan pada penguatan kapasitas usaha, akses pasar, serta peluang memperoleh pendapatan yang berkelanjutan.

Dalam diskusi tersebut, Lathifah mengusulkan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menjadi juri utama lomba seduh kopi dalam Malangopi Fest 2026.

“Ibu Khofifah itu sangat ahli dalam hal kopi. Beliau sangat mendalaminya. Semoga beliau berkenan menjadi juri utama dalam Malangopi Fest 2026,” ujar Lathifah.

Usulan tersebut diharapkan memperkuat daya tarik festival dan meningkatkan perhatian terhadap kualitas serta karakter kopi lokal.

Malangopi Fest Ditargetkan Berkelanjutan
Ketua Pelaksana Malangopi Fest 2026, Aditya Candra, yang juga pemilik Wondo Kopie Kawi, berharap kegiatan ini mampu meningkatkan nilai ekonomi dalam ekosistem perkopian di Malang Raya.

Ia menargetkan Malangopi Fest menjadi agenda tahunan dengan prinsip kolaborasi dan orkestrasi berbagai pemangku kepentingan.

“Kita konsepnya dijadikan event rutin tahunan agar keberlanjutannya bisa kita jaga bersama. Prinsip utamanya adalah kolaborasi dan orkestrasi. Kita terbuka. Ini event kita bersama. Semoga bermanfaat untuk kita semuanya,” kata Aditya.

Malangopi Fest 2026 menjadi bagian dari rangkaian IBU PERTIWI Nawa Bhumi Nitimira yang telah digerakkan Bakorwil III Malang selama empat tahun.

Kegiatan ini turut dikaitkan dengan peringatan HUT ke-81 Provinsi Jawa Timur, HUT ke-1266 Kabupaten Malang, HUT ke-25 Kota Batu, Hari Pahlawan 2026, dan Hari Disabilitas Internasional 2026.

Tantangannya kini bukan sekadar mengembalikan nama Malang di peta kopi dunia. Lebih dari itu, festival tersebut dihadapkan pada pertanyaan mendasar: bagaimana memastikan kebangkitan industri kopi ikut memperkuat ekonomi petani, bukan hanya memperbesar pasar bagi produk olahan.

Keberhasilan Malangopi Fest pada akhirnya perlu dilihat dari dampak berkelanjutan yang dapat dibangun, mulai dari terbukanya akses pasar, tumbuhnya kemitraan yang adil, meningkatnya kemampuan pengolahan, hingga membaiknya posisi tawar petani.

Informasi dan kolaborasi Malangopi Fest 2026 dapat diperoleh melalui WhatsApp Aditya Candra di 0811 3133 335 atau admin acara di 0877 5577 7757. ( Eno).