Mahasiswa UIN Malang Soroti Tren Self-Diagnosis Kesehatan Mental di Media Sosial
Malang | Serulingmedia.com – Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengedukasi masyarakat tentang bahaya mendiagnosis gangguan kesehatan mental secara mandiri (self-diagnosis) berdasarkan informasi di media sosial melalui kampanye “Kenali Dirimu, Peduli Dirimu” di kawasan Car Free Day (CFD), Minggu (18/10/2026).
Kampanye tersebut mengajak masyarakat mengenali kondisi psikologis secara tepat dan tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa perasaan sedih, cemas, marah, atau lelah merupakan tanda gangguan mental.
Informasi mengenai gejala psikologis yang beredar di media sosial, menurut pesan edukasi yang disampaikan mahasiswa, tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk menetapkan diagnosis.
Penilaian kondisi psikologis perlu mempertimbangkan intensitas dan durasi gejala, konteks kemunculannya, serta dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari.

Kegiatan ini dilaksanakan tujuh mahasiswa, yakni Muhammad Azhar Ilham, Achmad Sholehudin, Adiel Natanusa, Nazwa Indyra Syahidah, Nurfahmi Firdaus, Nafiza Zahra Hidayati, dan Erisa Nurul Aulia Putri selaku ketua kelompok.
Dalam kampanye tersebut, mahasiswa menggunakan banner, poster, dan leaflet untuk menyampaikan informasi kesehatan mental kepada pengunjung CFD.
Mereka juga memperkenalkan Laboratorium Konseling Fakultas Psikologi UIN Malang melalui kode QR yang dicantumkan pada media edukasi agar masyarakat dapat memperoleh informasi lebih lanjut mengenai layanan konseling.
Salah satu kegiatan yang melibatkan pengunjung adalah refleksi emosi melalui papan bertuliskan “Apa Kabar Hatimu Hari Ini?”.
Pengunjung diminta menuliskan perasaan yang sedang dialami pada kertas sticky notes, kemudian menempelkannya pada papan yang disediakan.
Aktivitas tersebut mengajak masyarakat mengenali emosi dan melakukan refleksi diri di tengah rutinitas sehari-hari.
Mahasiswa juga membagikan leaflet berjudul “Pahami Dirimu” yang memuat materi tentang kesadaran diri (self-awareness), pengenalan emosi, pemahaman kebutuhan pribadi, serta langkah sederhana menjaga kesehatan mental, seperti menulis jurnal, menyediakan waktu untuk diri sendiri, menerima masukan, dan melakukan evaluasi diri tanpa menghakimi.
Untuk memperkuat pesan kampanye, mereka membagikan makanan ringan dan stiker bertuliskan “Sadar Diri, Bukan Self Diagnosis”.
Ketua kelompok, Erisa Nurul Aulia Putri, berharap kegiatan tersebut meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memahami kondisi diri secara lebih bijak, bersikap kritis terhadap informasi kesehatan mental di media sosial, serta mencari bantuan profesional ketika diperlukan.
Dosen pengampu mata kuliah Psikoterapi, Dr. Muh. Anwar Fu’ady, M.A., mengatakan pembelajaran psikoterapi tidak hanya mencakup pemahaman teori dan penanganan masalah psikologis, tetapi juga upaya pencegahan serta promosi kesehatan mental.
“Melalui kegiatan seperti ini, mahasiswa belajar menyampaikan informasi psikologis secara tepat, menggunakan bahasa yang mudah dipahami masyarakat, serta mendorong kepedulian terhadap kesehatan mental tanpa memberikan label atau diagnosis secara sembarangan,” jelasnya.
Ia menegaskan, edukasi kesehatan mental harus disampaikan secara bertanggung jawab agar masyarakat mampu memahami batasan dalam menafsirkan gejala psikologis dan mengetahui kapan perlu mencari bantuan profesional.
Kampanye “Kenali Dirimu, Peduli Dirimu” merupakan bagian dari proyek pembelajaran mata kuliah Psikoterapi di Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa menerapkan pengetahuan psikologi dalam edukasi publik sekaligus melatih kemampuan komunikasi dan penyampaian informasi kesehatan mental secara etis.
Mahasiswa berharap kampanye tersebut mendorong masyarakat untuk lebih mengenali emosi, memahami kebutuhan diri, dan tidak menjadikan konten media sosial sebagai dasar tunggal untuk mendiagnosis kondisi kesehatan mental.( Eno).
