Wiweko: Hari Jadi ke-25 Kota Batu Harus Jadi Momentum Menjaga Nuansa Desa dan Memperkuat Kolaborasi

2185641_11zon

Batu | Serulingmedia.com – Ketua Asosiasi Petinggi dan Lurah (Apel) Kota Batu, Wiweko, berharap peringatan Hari Jadi ke-25 Kota Batu menjadi momentum untuk memperkuat pembangunan yang tetap berpijak pada karakter pedesaan, menjaga kelestarian lingkungan, serta meningkatkan kolaborasi antara pemerintah daerah, desa, dan kelurahan.

Harapan tersebut disampaikan Wiweko di sela-sela Rapat Paripurna DPRD Kota Batu dalam rangka peringatan Hari Jadi ke-25 Kota Batu, Jumat (16/10/2026).

Menurut Wiweko, bertambahnya usia Kota Batu harus diikuti dengan peningkatan kualitas pembangunan dan tata kelola pemerintahan yang semakin baik.

 

Namun, kemajuan tersebut tidak boleh menghilangkan identitas Kota Batu yang memiliki karakter pedesaan dan kekayaan alam sebagai modal utama pembangunan.

“Di usia ke-25 ini, harapan kami Kota Batu menjadi lebih baik dan semakin SAE. Yang terpenting, sesuai dengan visi Wali Kota, bagaimana Kota Batu meskipun berstatus kota tetap memiliki nuansa desa. Ini yang harus kita sepakati bersama,” ujarnya.

Bagi Wiweko, mempertahankan nuansa desa bukan sekadar menjaga suasana lingkungan, melainkan juga mempertahankan keseimbangan antara pembangunan, kehidupan masyarakat, dan kelestarian alam.

Kota Batu memiliki peran strategis sebagai kawasan penyangga sumber mata air yang dibutuhkan oleh masyarakat di sejumlah daerah.

Karena itu, pembangunan harus memperhatikan keberlanjutan lingkungan agar fungsi ekologis kawasan tetap terjaga.

“Secara umum, Kota Batu merupakan penyangga sumber mata air yang dibutuhkan kurang lebih 17 kabupaten/kota. Ini menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga alam dan lingkungan,” katanya.

Wiweko menilai, pembangunan Kota Batu tidak cukup hanya diukur melalui pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik.

Keberhasilan pembangunan juga harus dilihat dari kemampuan pemerintah menjaga sumber daya alam, mempertahankan karakter desa, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat hingga tingkat paling bawah.

Perkuat Kolaborasi Pemerintah dan Desa

Selain persoalan lingkungan, Wiweko berharap tata kelola pemerintahan daerah semakin terbuka terhadap kolaborasi dengan pemerintah desa dan kelurahan.

Menurut dia, desa dan kelurahan memiliki posisi penting karena berhadapan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

Oleh sebab itu, kebijakan pembangunan daerah perlu melibatkan unsur pemerintahan paling bawah agar pelaksanaannya lebih tepat sasaran.

Kolaborasi tersebut diperlukan untuk menyelaraskan program pemerintah daerah dengan kebutuhan riil masyarakat, sekaligus memastikan bahwa pembangunan tidak hanya terkonsentrasi di pusat kota.

Bagi Apel Kota Batu, penguatan koordinasi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, dan kelurahan menjadi salah satu kunci untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan merata.

Membangun Batu Tanpa Kehilangan Jati Diri

Harapan Wiweko pada peringatan seperempat abad Kota Batu pada dasarnya menempatkan tiga agenda penting sebagai satu kesatuan: menjaga kelestarian alam, memperkuat kolaborasi pemerintahan, dan memastikan proses demokrasi di tingkat desa berjalan sesuai peraturan.

Kemajuan Kota Batu, menurut semangat yang disampaikannya, harus tetap berakar pada kekuatan desa. Identitas pedesaan, keberadaan sumber mata air, dan kedekatan pemerintah desa dengan masyarakat merupakan modal yang perlu dipertahankan di tengah perkembangan kota.

Peringatan Hari Jadi ke-25 Kota Batu pun diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam membangun kota yang maju tanpa kehilangan jati diri.

Dengan sinergi pemerintah daerah, desa, kelurahan, dan masyarakat, Wiweko berharap Kota Batu semakin baik, semakin SAE, serta mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian alam untuk generasi mendatang. ( Eno),