UIN Malang Perkuat Peran Psikologi Hadapi Ketidakpastian Digital dan Konflik Global
Malang | Serulingmedia.com — Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang terus memperkuat peran akademiknya dalam merespons perubahan sosial dan tantangan kemanusiaan di era digital.
Komitmen tersebut salah satunya diwujudkan Fakultas Psikologi melalui Psychology and Flourishing Humanity Conference (PFH Conference) 2026, Selasa (6/10/2026).
Mengusung tema “Compassionate Psychological Capital in the Age Digital Uncertainty and Global Conflict”, konferensi tersebut menjadi ruang akademik bagi UIN Malang untuk mempertemukan akademisi dan praktisi dari dalam maupun luar negeri dalam membahas kesehatan mental, kesejahteraan keluarga, human flourishing, serta tantangan psikologis akibat perkembangan teknologi dan dinamika konflik global.
Sejumlah akademisi internasional hadir sebagai keynote speakers. Mereka membahas berbagai persoalan psikologi yang semakin relevan dengan kehidupan masyarakat, terutama generasi muda yang tumbuh di tengah lingkungan digital.
Dekan Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Siti Mahmudah, M.Si., mengatakan antusiasme peserta menunjukkan kuatnya relevansi tema konferensi dengan kebutuhan akademik dan perkembangan masyarakat saat ini.
“Kami berharap konferensi ini tidak hanya menjadi ruang untuk mendapatkan pengetahuan baru, tetapi juga menjadi kesempatan untuk bertukar gagasan, memperluas jejaring akademik, dan membangun kolaborasi di antara para akademisi dan praktisi psikologi,” ujar Prof. Mahmudah.
Salah satu pembicara, Dr. Chiedu Eseadi dari University of Johannesburg, Afrika Selatan, membahas Parental Support and Student Mental Health in Online Learning Environments.
Ia menyoroti pentingnya dukungan keluarga, komunikasi, akses teknologi, desain pembelajaran, serta lingkungan pendidikan dalam menjaga kesehatan mental mahasiswa pada pembelajaran daring.
Sementara itu, Professor Madya Dr. Jami’ah Manap dari Universiti Kebangsaan Malaysia mengangkat Family Well-Being Model.
Paparan tersebut membahas sejumlah faktor yang menentukan kesejahteraan keluarga, antara lain kebahagiaan, cinta, komunikasi positif, kualitas personal, rumah yang sejahtera, serta keamanan dan ketahanan pangan.
Dari UIN Malang, Prof. Dr. Ali Ridho, M.Si. turut memberikan perspektif melalui materi “Are Young People Really Flourishing in the Digital Age? Finding Meaning Beyond the Numbers.”
Ali Ridho mengkaji bagaimana flourishing pada generasi muda dipahami dan diukur, termasuk melalui Global Flourishing Study. Ia menekankan pentingnya kehati-hatian dalam membaca hasil pengukuran psikologis.
Menurutnya, sebuah instrumen tidak cukup hanya disebut valid dan reliabel. Interpretasi terhadap skor harus didukung bukti yang sesuai dengan tujuan penggunaannya, mulai dari aspek isi, proses respons, struktur internal, hubungan dengan variabel lain, hingga konsekuensi penggunaan tes.
Kehadiran perspektif akademisi UIN Malang dalam konferensi tersebut sekaligus menunjukkan kontribusi kampus dalam pengembangan kajian psikologi yang tidak hanya berorientasi pada pengukuran, tetapi juga pada pemaknaan kehidupan dan kesejahteraan manusia.
Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Drs. H. Basri, MA, Ph.D., menegaskan bahwa konferensi harus menjadi bagian dari penguatan budaya akademik kampus.
Menurut Basri, forum ilmiah tidak boleh berhenti ketika konferensi berakhir. Gagasan dan temuan yang muncul perlu dilanjutkan melalui diskusi dan kolaborasi secara berkelanjutan.
“Ini adalah budaya yang baik. Konferensi seperti ini jangan hanya berhenti pada pelaksanaan konferensinya. Kita perlu menjaga agar semangat akademiknya terus berjalan,” ujar Basri.
Ia bahkan mendorong agar UIN Malang mengembangkan diskusi akademik bulanan sebagai tindak lanjut konferensi.
Forum tersebut diharapkan menjadi ruang untuk mempertemukan akademisi, membahas hasil penelitian, memperdalam gagasan, dan melahirkan kolaborasi baru.
“Setelah konferensi, perlu ada ruang untuk melanjutkan diskusi, mempertemukan para akademisi, membahas hasil penelitian, dan mengembangkan gagasan-gagasan baru. Karena itu, ke depan kita berharap ada diskusi bulanan yang dapat menjadi bagian dari budaya akademik kita,” katanya.
Melalui PFH Conference 2026, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menegaskan komitmennya membangun budaya akademik yang terbuka, kolaboratif, dan berkelanjutan.
Fakultas Psikologi tidak hanya menjadi ruang pengembangan ilmu psikologi, tetapi juga mengambil bagian dalam merumuskan respons akademik terhadap tantangan kesehatan mental dan kemanusiaan di tengah ketidakpastian digital serta perubahan global.
Konferensi tersebut diharapkan menjadi titik awal bagi lahirnya jejaring, penelitian, dan kolaborasi baru yang memperkuat kontribusi UIN Malang dalam pengembangan ilmu psikologi dan upaya mewujudkan kehidupan manusia yang lebih sehat, bermakna, dan berdaya.( Eno).
