68 Persen Prodi Raih Akreditasi Unggul, UIN Malang Kejar 90 Persen Akreditasi Internasional

2112617_11zon

Malang | Serulingmedia.com — UIN Maulana Malik Ibrahim Malang terus memperkuat reputasi akademik dan internasionalisasi kampus. Hingga 2026, sebanyak 68 persen program studi (prodi) telah meraih akreditasi unggul, sementara kampus menargetkan 90 persen prodi terakreditasi internasional pada 2029.

 

Target tersebut disampaikan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Ilfi Nur Diana, MSI, dalam agenda Lustrum XIII UIN Maulana Malik Ibrahim Malang bertema “Refleksi 1 Tahun Mengabdi: Sinergi Mewujudkan UIN Maulana Malik Ibrahim Bereputasi Internasional”, Jumat (2/10/2026).

Ilfi mengatakan capaian akreditasi unggul saat ini belum mencapai 70 persen karena terdapat sejumlah program studi dan fakultas baru yang berdiri pada tahun berjalan.

“Prodi kita sudah 68 persen sudah unggul akreditasinya. Kenapa belum 70 persen? Karena ternyata baru lahir prodi-prodi baru bahkan fakultas baru di tahun ini,” kata Ilfi dalam pemaparannya.

Menurut dia, akreditasi unggul tersebut masih didominasi program studi jenjang sarjana (S1), dengan persentase sekitar 80 persen. Program studi lainnya didorong segera menyelesaikan proses akreditasi untuk meningkatkan mutu akademik kampus.

Akreditasi Internasional Dikebut

Selain akreditasi unggul, UIN Malang menempatkan akreditasi internasional sebagai salah satu prioritas dalam memperkuat reputasi global.

Ilfi menyebut pada 2025 sebanyak 21 persen prodi telah memiliki akreditasi internasional. Pada 2026, angka tersebut ditargetkan meningkat hingga sekitar 64 persen, seiring bertambahnya prodi yang masuk proses pengajuan akreditasi internasional.

“Di tahun 2027, PR kita adalah 82 persen karena ada 10 prodi yang siap untuk lanjut akreditasi internasional,” ujarnya.

Target tersebut kemudian diarahkan terus meningkat hingga 90 persen pada 2029.
“2029 sampai periode selesai ditargetkan 90 persen sudah terakreditasi internasional. Ini mimpi besar Bapak/Ibu semuanya,” kata Ilfi.

Ia menegaskan pencapaian target tersebut tidak hanya bergantung pada kebijakan pimpinan universitas. Keterlibatan fakultas, program studi, dosen, dan tenaga kependidikan dinilai menjadi bagian penting dalam proses internasionalisasi.

Riset Meningkat

Dalam kesempatan yang sama, Ilfi memaparkan perkembangan riset UIN Malang. Jumlah judul penelitian disebut meningkat dari 120 judul pada 2025 menjadi 285 judul pada 2026.

Universitas juga menyediakan skema penelitian mandiri dengan kuota bagi 302 dosen. Namun, Ilfi menyebut belum seluruh dosen yang mendapatkan kuota telah mengajukan judul proposal penelitian.

Selain penelitian mandiri, UIN Malang menjalankan skema riset melalui kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi negeri di Jawa Timur.

 

Program tersebut mencakup 15 judul penelitian dengan anggaran sekitar Rp755 juta dan diarahkan menghasilkan publikasi pada jurnal bereputasi Q1.

Pengembangan riset juga diarahkan pada isu Sustainable Development Goals (SDGs) dan ekoteologi.

Ilfi menyebut penelitian yang berkaitan dengan isu lingkungan masih sekitar 14 persen. Kondisi tersebut menjadi salah satu pekerjaan rumah universitas untuk meningkatkan kontribusi akademik terhadap persoalan lingkungan.

“Ke depan ini PR kami. Kami siap untuk mengawal research, PKM, dan KKN berbasis ekoteologi atau berbasis SDGs yang lebih banyak lagi,” katanya.

Rumah Sakit Pendidikan hingga Edupark

Tidak hanya akademik, UIN Malang juga menyiapkan sejumlah proyek pengembangan infrastruktur kampus.

Salah satu rencana tersebut adalah pembangunan Rumah Sakit Pendidikan di lahan sekitar 6,5 hektare di Kampus 1.

 

Rumah sakit itu direncanakan menggunakan konsep biophilic architecture yang mengintegrasikan unsur alam dalam rancangan bangunan.

UIN Malang juga menyiapkan Kawasan Iqra’ seluas sekitar 15 hektare. Kawasan tersebut dirancang untuk mendukung laboratorium Al-Qur’an, pengembangan bahasa, klinik kesehatan, asrama, serta pusat kajian Al-Qur’an dan tafsir.

Sementara itu, di Kampus 3 disiapkan kawasan Edupark seluas sekitar 20 hektare. Kawasan tersebut direncanakan memiliki bumi perkemahan, pusat olahraga, fasilitas golf, serta masjid berbentuk Ka’bah yang dirancang tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga dilengkapi museum dan Islamic Center.

Ilfi menyebut pembangunan Edupark ditargetkan mulai pada 2027.

591 Prestasi Mahasiswa dan Tiga Rekor MURI
Pada bidang kemahasiswaan, UIN Malang mencatat 591 prestasi mahasiswa pada 2026. Selain itu, sebanyak 129 mahasiswa mendapatkan sertifikasi yang diakui Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) secara gratis.

Ke depan, universitas menargetkan setiap program studi memiliki sedikitnya satu skema sertifikasi yang diakui BNSP maupun lembaga internasional.

Dalam pemaparannya, Ilfi juga menyampaikan tiga rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) yang diperoleh UIN Malang pada 2026.

Ketiganya yakni rekor guru besar Bahasa Arab terbanyak di lingkungan PTKIN, penghafal Al-Qur’an terbanyak di lingkungan PTKIN, serta buku biografi tertebal dengan jumlah halaman lebih dari 1.000 halaman.

Perkuat Pemeringkatan dan Digitalisasi
Ilfi juga menyebut UIN Malang masuk tiga besar dalam sejumlah versi pemeringkatan perguruan tinggi sepanjang 2026.

 

Salah satunya adalah pemeringkatan versi Times Higher Education (THE), yang menempatkan UIN Malang pada posisi kedua.

Menurut Ilfi, peningkatan reputasi universitas harus diikuti dengan penguatan jumlah guru besar, publikasi internasional, sitasi, dan karya ilmiah.

Selain itu, digitalisasi kampus menjadi bagian dari agenda pengembangan universitas. UIN Malang mengembangkan enterprise architecture sebagai salah satu fondasi transformasi digital dalam tata kelola kampus.

Menutup pemaparannya, Ilfi menyebut satu tahun kepemimpinannya merupakan tahap awal untuk mewujudkan berbagai agenda pengembangan UIN Malang.

“Satu tahun ini hanyalah sebuah awal. Angka satu ini adalah pondasi bagi kita semua. Masih banyak mimpi besar kampus ini yang harus kita wujudkan,” ujarnya.

Ia menegaskan UIN Malang akan melanjutkan penguatan akademik, riset, prestasi mahasiswa, digitalisasi, pembangunan infrastruktur, dan internasionalisasi pada tahun-tahun berikutnya.

“Kami tidak memberikan janji, tapi kami ingin memberikan bukti,” pungkasnya.( Eno)