Bukan Sekadar Tarik Tambang, TNI dan Warga Jeneponto Adu Kompak di Jembatan Garuda Merah Putih

1847051_11zon

Jeneponto | Serulingmedia.com — Tali tambang menegang. Dua kelompok saling bertahan. Sorak warga pecah dari tepi arena. Di antara peserta, ada prajurit TNI, mahasiswa, ibu-ibu hingga Lurah Benteng yang ikut mencengkeram tali.

 

Suasana itu mewarnai pertandingan tarik tambang di Area Jembatan Garuda Merah Putih, Kelurahan Benteng, Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto, Minggu (9/8/2026).

Kodim 1425/Jeneponto menggelar pertandingan tersebut sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Permainan tradisional itu berubah menjadi panggung kebersamaan antara TNI dan masyarakat.

Tak ada jarak antara aparat dan warga. Semua peserta berdiri dalam satu barisan, mengerahkan tenaga dan menjaga irama tarikan. Bahkan Lurah Benteng Suharnawan, S.IP., ikut turun ke arena.

Ia tidak memilih berdiri di pinggir lapangan. Suharnawan justru ikut menarik tali bersama peserta lainnya.

Pemandangan itu membuat pertandingan bukan sekadar perlombaan. Pemerintah kelurahan, TNI dan masyarakat melebur dalam suasana perayaan kemerdekaan.

Warga Kelurahan Benteng, Syamsuddin (47), mengatakan kegiatan tersebut memberikan suasana berbeda dalam peringatan HUT Kemerdekaan.

 

Apalagi pertandingan digelar di kawasan Jembatan Garuda Merah Putih yang sedang dibangun melalui TNI.

“Pertandingan tarik tambang ini sangat meriah dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kami senang TNI dan masyarakat bisa bergembira bersama, apalagi di lokasi Jembatan Garuda Merah Putih yang sedang dibangun melalui TNI,” ujarnya.

Ia berharap pembangunan jembatan segera rampung sehingga dapat memberikan kemudahan bagi aktivitas masyarakat.

Koordinator pertandingan, Pasi Ops Kodim 1425/Jeneponto Kapten Inf Muh. Amin, mengatakan tarik tambang dipilih bukan tanpa alasan. Permainan itu membutuhkan kekuatan sekaligus koordinasi.

“Yang menarik hari ini, peserta tidak hanya dari TNI dan masyarakat, tetapi juga ada ibu-ibu dan mahasiswa. Bahkan Lurah Benteng ikut turun langsung dalam pertandingan,” katanya.

Menurut Muh. Amin, keberagaman peserta menunjukkan bahwa peringatan kemerdekaan dapat menjadi ruang untuk membangun kebersamaan tanpa melihat latar belakang.

Lokasi pertandingan juga menjadi bagian penting dari pesan kegiatan. Area Jembatan Garuda Merah Putih yang tengah dibangun menjadi titik pertemuan antara program pembangunan dan aktivitas masyarakat.

Lurah Benteng Suharnawan mengatakan dirinya sengaja ikut bertanding agar dapat merasakan langsung suasana kebersamaan tersebut.

“Ini kegiatan yang sangat positif. Kami sebagai pemerintah kelurahan tentu sangat mendukung, apalagi masyarakat bisa ikut terlibat langsung. Saya juga senang bisa turun bersama masyarakat dan TNI, bukan hanya melihat dari pinggir,” ungkapnya.

Suharnawan berharap kebersamaan yang tercipta tidak berhenti setelah pertandingan berakhir. Menurut dia, semangat gotong royong juga diperlukan untuk menjaga pembangunan dan kemajuan wilayah.

Dandim 1425/Jeneponto Letkol Inf Abdul Muthalib Tallasa mengatakan peringatan kemerdekaan seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Semangat kemerdekaan, kata dia, harus diterjemahkan melalui kegiatan yang memperkuat hubungan TNI dan masyarakat.

“Yang paling penting bukan hanya siapa yang menang, tetapi bagaimana kita bersama-sama memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia,” ujarnya.

Ia mengatakan keterlibatan TNI, masyarakat, ibu-ibu, mahasiswa dan Lurah Benteng menjadi gambaran kebersamaan yang ingin terus dibangun.

“Ini adalah gambaran kebersamaan yang ingin terus kita bangun,” katanya.

Bagi Kodim 1425/Jeneponto, pertandingan di kawasan Jembatan Garuda Merah Putih bukan sekadar hiburan Agustusan.

 

Di balik tali yang ditarik beramai-ramai itu ada pesan sederhana: pembangunan membutuhkan kekuatan yang sama—gotong royong dan di Jeneponto, pesan itu diterjemahkan lewat satu tali yang ditarik banyak tangan.( Yahya Patta/ Buang Supeno).