Forum internasional bertema “Gen Z Against War: Youth Driving Peace in a Divided World” tersebut menjadi wadah diskusi generasi muda lintas negara dalam membahas peran pemuda menghadapi konflik global, intoleransi, hingga perpecahan sosial yang terjadi di berbagai belahan dunia.
Dalam forum tersebut, dua mahasiswa internasional UIN Malang dipercaya menjadi delegasi kampus, yakni Amr Muhammed Mansoor Shalan asal Yaman dan Rahimullah Barai asal Afghanistan. Keduanya berdialog bersama mahasiswa dari berbagai negara seperti Filipina, Thailand, hingga Timor Leste terkait pentingnya membangun toleransi, solidaritas, dan semangat perdamaian di kalangan generasi muda.
Diskusi berlangsung dinamis dengan menyoroti bagaimana generasi Z memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan global. Para peserta sepakat bahwa anak muda tidak hanya menjadi penonton dalam dinamika dunia, tetapi juga harus tampil sebagai penggerak harmoni dan persatuan antarbangsa.
Rektor Universitas Islam Darul ‘Ulum Lamongan, Muhammad Hafidh Nashrullah, S.E., M.M., dalam sambutannya menegaskan pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman budaya, bahasa, dan latar belakang negara. Menurutnya, perbedaan bukan penghalang untuk bersatu, melainkan kekuatan besar dalam membangun perdamaian dunia.
“Perbedaan negara, budaya, dan bahasa jangan menjadi penghalang. Justru keberagaman adalah kekuatan untuk mempererat persaudaraan dan menciptakan perdamaian dunia,” tegasnya di hadapan peserta forum internasional.
Keikutsertaan mahasiswa internasional UIN Malang dalam forum tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa kampus berbasis Islam moderat itu terus mendorong penguatan dialog global dan nilai toleransi di lingkungan akademik internasional.
Melalui forum ini, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menekankan pentingnya peran mahasiswa sebagai duta perdamaian yang mampu menyebarkan pesan persatuan, kemanusiaan, dan solidaritas lintas bangsa di tengah dunia yang semakin terpolarisasi. ( Eno)