Perempuan Tangguh di ATR/BPN: Dari Ruang Kantor hingga Medan Terjal

IMG-20250422-WA0034

Jakarta | Serulingmedia. com– Kiprah perempuan dalam dunia kerja semakin menonjol di era industri 4.0, tak terkecuali di sektor pemerintahan.

Di Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), perempuan kini memegang peran penting dalam mendukung berbagai program strategis pembangunan nasional.

Pembina Ikatan Istri Karyawan dan Karyawati (IKAWATI) Kementerian ATR/BPN, Dily Nusron Wahid, menyampaikan apresiasinya terhadap kontribusi para pegawai perempuan di kementerian tersebut. Ia menegaskan bahwa sektor pertanahan kini bukan lagi ranah eksklusif laki-laki.

“Saya sangat bangga melihat kiprah para pegawai perempuan di Kementerian ATR/BPN. Banyak dari mereka kini menduduki posisi strategis seperti Kepala Kantor Pertanahan. Dulu mungkin dianggap aneh, sekarang sudah biasa. Ini menunjukkan perubahan besar dalam cara pandang,” ujar Dily dalam keterangannya, Sabtu (19/4/2025).

Menurutnya, perempuan membawa nilai tambah dalam pelayanan publik melalui ketelitian, empati, dan dedikasi. Data mencatat, saat ini terdapat 8.591 pegawai perempuan yang tersebar di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 139 menjabat sebagai Pejabat Administrator, 16 sebagai Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama, dan 2 sebagai Pejabat Pimpinan Tinggi Madya.

“Kesetaraan di Kementerian ATR/BPN bukan sekadar slogan. Perempuan di sini bukan pelengkap. Mereka adalah penggerak. Karya yang dilakukan dengan integritas dan hati akan menjadi inspirasi. Teruslah menjadi agen perubahan,” tegas Dily.

Salah satu sosok inspiratif adalah Cut Putri Ananda (25), Asisten Penata Kadastral Pemula di Kantor Pertanahan Kota Sabang, Aceh. Sejak 2017, ia menjadi satu-satunya petugas ukur di kantornya dan menjalankan tugas survei lapangan, pengukuran, hingga pelaporan data bidang tanah.

“Medannya berat, bisa naik turun gunung atau dekat tebing. Tapi saya tetap semangat karena ini bagian dari tugas saya,” ujar Cut Putri.

Meski sempat diragukan karena gendernya, ia membuktikan bahwa perempuan mampu menjalankan tugas teknis di lapangan. “Banyak yang awalnya ragu, tapi akhirnya kagum. Saya ingin menyemangati teman-teman sesama petugas ukur perempuan: jangan takut turun ke lapangan. Kita bisa!” pungkasnya.(eno)