Jejak Budaya Suara Nusantara di SMAK Yos Sudarso Batu: Merawat Warisan, Menghidupkan Identitas Bangsa
Batu | Serulingmedia.com – Halaman SMA Katolik (SMAK) Yos Sudarso Batu, Kamis (5/11/2026), berubah menjadi panggung keberagaman Nusantara.
Ratusan siswa tampil mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah, mulai Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga Papua.

Warna-warni busana tradisional itu bukan sekadar menghadirkan kemeriahan, tetapi juga menjadi penanda bahwa Indonesia tumbuh dari keberagaman budaya.
Melalui Gelar Budaya 2026 bertema “Jejak Budaya Suara Nusantara: Yang Mereka Wariskan, Adalah Tugas Kita untuk Menghidupkan”, SMAK Yos Sudarso mengajak generasi muda untuk tidak sekadar mengenal kebudayaan sebagai peninggalan masa lalu, melainkan menjadikannya bagian dari kehidupan masa kini.
Pesan yang diusung terasa kuat. Warisan budaya tidak akan bertahan hanya karena pernah dilahirkan oleh leluhur.
Ia membutuhkan generasi penerus yang bersedia mengenal, mempelajari, merawat, dan menghidupkannya kembali.

Wakil Kepala SMAK Yos Sudarso Batu, Eko Saputro, S.Sn., yang akrab disapa Ki Puput, mengatakan Gelar Budaya merupakan agenda tahunan sekolah yang biasanya diselenggarakan bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober.
Namun, tahun ini kegiatan digeser ke awal November karena sekolah harus menyesuaikan agenda akademik, termasuk pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA). Penyelenggaraannya sekaligus berdekatan dengan Pekan Hari Wayang Nasional.
Menurut Ki Puput, keberagaman latar belakang siswa menjadi alasan utama sekolah terus mengangkat kekayaan budaya berbagai daerah dalam kegiatan tersebut.
SMAK Yos Sudarso tidak hanya dihuni siswa dari suku Jawa, tetapi juga berasal dari berbagai latar budaya Nusantara.
Kondisi itu menjadi ruang pembelajaran yang nyata untuk membangun sikap saling menghargai dan memperkuat kecintaan terhadap tanah air.
“Setiap tahun kami mengangkat suku-suku yang ada di sekolah. Tujuannya menanamkan rasa cinta tanah air melalui kecintaan terhadap budaya sendiri sekaligus memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling bertukar informasi tentang kebudayaan masing-masing,” ungkap Ki Puput.
Budaya Tidak Sekadar Tarian, tetapi Juga Pesan Kehidupan
Ada sesuatu yang berbeda dalam Gelar Budaya tahun ini. Jika penyelenggaraan sebelumnya lebih banyak menampilkan tarian tradisional, kali ini sekolah memasukkan unsur drama sehingga pertunjukan berkembang menjadi sendratari.

Empat kelompok budaya yang ditampilkan berasal dari Jawa, Kalimantan, NTT, dan Papua. Masing-masing mendapatkan ruang untuk memperkenalkan identitas budaya melalui perpaduan tarian dan drama.
Menariknya, pertunjukan tersebut tidak berhenti pada keindahan gerak, musik, dan busana tradisional.
Para siswa juga menyisipkan pesan tentang Pancasila, kepedulian sosial, serta pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
Kebudayaan dengan demikian tidak hanya diposisikan sebagai tontonan, tetapi juga menjadi media pendidikan karakter.
Nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu dihubungkan dengan persoalan kehidupan masyarakat saat ini.
Pesan menjaga lingkungan, misalnya, menjadi pengingat bahwa mencintai tanah air tidak cukup hanya dengan menghafalkan simbol-simbol kebangsaan.
Kecintaan itu harus diwujudkan melalui tindakan nyata menjaga alam dan lingkungan tempat manusia hidup.
Sebanyak 105 siswa terlibat dalam seluruh rangkaian pertunjukan. Mereka menjalani latihan selama satu bulan, termasuk mempersiapkan unsur karawitan yang mengiringi penampilan.
Dalang Muda Hadirkan Harapan Baru
Salah satu penampilan yang mencuri perhatian adalah pertunjukan wayang kulit yang menghadirkan dalang muda bernama Iqbal, siswa asal Pujon yang sebelumnya menempuh pendidikan di SMP Negeri 1 Blitar.

Kehadiran Iqbal menjadi warna tersendiri dalam Gelar Budaya 2026. Di tengah tantangan regenerasi pelaku seni tradisional, tampilnya seorang siswa yang memiliki kemampuan mendalang memberikan harapan bahwa kesenian wayang masih memiliki tempat di hati generasi muda.
Ki Puput mengungkapkan, Iqbal merupakan siswa baru yang memiliki potensi dalam seni pedalangan. Ia juga belajar mendalang di Sanggar KML
Penampilan Iqbal di hadapan guru, orang tua, dan teman-teman sekolah menjadi bukti bahwa seni tradisional tidak harus berhenti pada generasi tua.
Dengan ruang belajar dan kesempatan tampil, generasi muda dapat menjadi penerus yang menjaga keberlangsungannya.
Di sinilah makna Gelar Budaya menemukan relevansinya. Wayang, karawitan, tari, dan drama bukan sekadar materi pertunjukan, melainkan bagian dari identitas bangsa yang perlu diwariskan melalui pengalaman langsung.
Apresiasi Pemerintah dan Kebanggaan Alumni
Gelar Budaya SMAK Yos Sudarso juga mendapat apresiasi Pemerintah Kota Batu. Staf Ahli Pemkot Batu, Bangun Yulianto, menilai kegiatan tersebut merupakan langkah positif dalam menjaga, melestarikan, sekaligus mengenalkan kebudayaan Nusantara kepada peserta didik.

Ia juga mengapresiasi keterlibatan sekolah-sekolah pendukung serta para donatur dari luar yang ikut menyukseskan kegiatan.
Menurutnya, dukungan berbagai pihak menunjukkan bahwa pelestarian budaya membutuhkan kebersamaan, bukan hanya tanggung jawab lembaga pendidikan.
“Acara seperti ini sangat baik untuk terus dilanjutkan dan dilestarikan. Bukan hanya di SMA Katolik Yos Sudarso, tetapi juga di sekolah-sekolah lain maupun organisasi-organisasi lain,” ujarnya.
Kebanggaan serupa dirasakan Gaib Sampurno, alumni SMAK Yos Sudarso Batu. Menyaksikan penampilan adik-adik kelasnya membawa kembali kenangan ketika ia pernah menghabiskan tiga tahun masa pendidikan di sekolah tersebut.
“Saya bangga, apalagi menyaksikan penampilan adik-adik dalam Gelar Budaya. Saya juga bisa melihat kembali kelas yang dulu pernah saya tempati selama tiga tahun mengenyam pendidikan di sini, dengan kepala Paul Obah Karbavo dan sister Grasiya serta guru matematika bu Sular ,” ungkap Gaib dengan wajah penuh kenangan.
Bagi seorang alumni, menyaksikan sekolahnya tetap hidup melalui kegiatan positif seperti ini tentu menghadirkan kebanggaan tersendiri.
Sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang yang membentuk karakter, persaudaraan, dan kecintaan terhadap kebudayaan.
Menghidupkan Warisan, Bukan Sekadar Mengenangnya
Gelar Budaya 2026 SMAK Yos Sudarso memberikan pesan penting bahwa keberagaman bukan alasan untuk terpisah, melainkan kekuatan untuk saling mengenal dan menguatkan.

Empat budaya yang ditampilkan, 105 siswa yang terlibat, serta kehadiran dalang muda Iqbal menjadi gambaran bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari lingkungan sekolah.
Di tengah arus modernisasi dan perubahan gaya hidup generasi muda, kebudayaan membutuhkan ruang agar tetap dikenal dan dicintai.
Ruang itu bisa hadir melalui panggung seni, kegiatan sekolah, sanggar, maupun interaksi antargenerasi.
Sebab, warisan budaya tidak cukup hanya disimpan dalam buku sejarah, dipajang di museum, atau dikenang melalui cerita para leluhur.
Budaya harus terus dipraktikkan, dipelajari, dan diberi kehidupan baru tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya.
Apa yang dilakukan SMAK Yos Sudarso Batu menjadi pengingat bahwa menjaga Indonesia dapat dimulai dari hal sederhana: mengenal budaya sendiri, menghormati budaya orang lain, dan menanamkan kebanggaan terhadap keberagaman.
Sebab, seperti pesan yang diusung dalam tema kegiatan tersebut, apa yang diwariskan para pendahulu bukan sekadar peninggalan untuk dikenang, melainkan tanggung jawab generasi sekarang untuk terus dihidupkan.( Eno).
