Khoirul Hidayah: Basmalah, Ruh Spiritualitas dan Fondasi Peradaban UIN Maliki Malang di Usia ke-65

Screenshot_2026-10-31-17-16-37-991_com.canva.editor-edit

Malang | Serulingmedia.com – Memasuki usia ke-65 tahun, Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang tidak cukup hanya membangun keunggulan akademik dan infrastruktur kampus.

Lebih dari itu, perguruan tinggi Islam ini perlu terus memperkuat fondasi moral dan spiritual yang berlandaskan nilai kasih sayang, sebagaimana terkandung dalam kalimat Bismillāhirrahmānirrahīm.

Pandangan tersebut disampaikan Khoirul Hidayah, Dosen Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dalam refleksi perjalanan 65 tahun UIN Malang.

Menurutnya, Basmalah bukan sekadar kalimat pembuka Al-Qur’an atau doa sebelum memulai aktivitas, melainkan harus menjadi landasan filosofis, spiritual, sekaligus arah kebijakan pengembangan perguruan tinggi.

Spirit tersebut memiliki pijakan kuat dalam wahyu pertama Surah Al-Alaq ayat 1:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

Artinya, “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”

Ayat tersebut menegaskan bahwa aktivitas membaca, belajar, meneliti, dan mengembangkan ilmu pengetahuan harus senantiasa terhubung dengan kesadaran ketuhanan.

Merujuk perspektif tafsir K.H. Buya Syakur, Basmalah mengandung makna mendalam, yakni “Atas Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Nilai Ar-Rahman dan Ar-Rahim inilah yang menurut Khoirul Hidayah semestinya menjadi karakter utama seluruh aktivitas akademik dan kelembagaan UIN Malang.

Arsitektur Kampus Mengejawantahkan Nilai Basmalah

Spirit Basmalah tidak hanya berhenti pada tataran pemikiran dan wacana keagamaan. Nilai tersebut juga diwujudkan melalui pembangunan fisik kampus.

Salah satu manifestasinya terlihat dalam masterplan pembangunan Kampus 3 UIN Malang di kawasan Jalan Locari, Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Tata kawasan kampus dirancang secara unik membentuk lafaz Bismillāhirrahmānirrahīm.

Konsep arsitektur tersebut merepresentasikan identitas UIN Malang sebagai perguruan tinggi Islam yang berupaya mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.

Peresmian Gedung Ar-Rahim pada Rabu, 15 Mei 2025, menjadi salah satu penanda konkret pembangunan kawasan kampus tersebut.

“Bismillāhirrahmānirrahīm memberikan makna bahwa UIN Malang sebagai lembaga pendidikan memiliki amanah dari Allah untuk senantiasa menyebarkan kasih sayang kepada seluruh umat manusia dan alam semesta,” demikian pesan reflektif Khoirul Hidayah.

Menurutnya, filosofi tersebut harus menjadi ruh dalam setiap pembangunan. Kemegahan bangunan kampus hendaknya berjalan seiring dengan kemuliaan akhlak, kualitas keilmuan, dan kepedulian terhadap sesama serta lingkungan.

Tridharma Perguruan Tinggi Berlandaskan Kasih Sayang

Lebih jauh, Khoirul Hidayah menegaskan bahwa nilai Basmalah perlu diterjemahkan secara nyata dalam pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, meliputi pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.

Pertama, pengajaran melalui kasih sayang. Proses pendidikan harus didukung dosen berkarakter ulul albab, pelayanan administrasi akademik yang responsif terhadap kebutuhan mahasiswa, serta fasilitas pendidikan yang berkualitas.

Dalam konteks ini, gagasan Kurikulum Cinta yang dicanangkan Menteri Agama dapat menjadi salah satu manifestasi penguatan nilai spiritual dan kemanusiaan dalam dunia pendidikan.

Pendidikan tidak semestinya hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, kedalaman spiritual, dan kepedulian terhadap kehidupan.

Kedua, riset berkelanjutan untuk umat dan alam. Melalui kebijakan green campus, UIN Malang diharapkan semakin memperkuat dukungan terhadap penelitian yang berorientasi pada pelestarian lingkungan.

Riset tersebut mencakup perubahan iklim, pengelolaan limbah, pengembangan energi terbarukan, hingga tata kelola sumber daya alam.

Penelitian perguruan tinggi harus mampu menghadirkan solusi praktis bagi persoalan masyarakat dan lingkungan. Sebab, manusia sebagai khalifah di bumi memiliki tanggung jawab menjaga keseimbangan alam.

Ketiga, pengabdian masyarakat berbasis keberlanjutan. Nilai Ar-Rahman dan Ar-Rahim perlu diwujudkan melalui kolaborasi dosen dan mahasiswa dalam kegiatan penghijauan, pengelolaan sampah, serta edukasi keberlanjutan bagi masyarakat.

Dengan demikian, keberadaan kampus tidak hanya dirasakan oleh sivitas akademika, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di sekitarnya.

Basmalah sebagai Ruh Kebijakan dan Masa Depan Kampus

Dalam refleksinya, Khoirul Hidayah juga mengangkat pesan spiritual yang tertuang dalam manuskrip beraksara Arab Pegon berbahasa Jawa.

Utawi imān iku tulise ati, lan tauhīd iku pancere ati, lan ma‘rifah iku urubing ati.

Maknanya, iman adalah tulisan hati, tauhid merupakan pancaran hati, sedangkan makrifat adalah nyala atau cahaya hati.

Pesan tersebut mengingatkan bahwa pendidikan tinggi Islam tidak boleh kehilangan orientasi batin di tengah pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kompetisi global.

Karena itu, lafaz Bismillāhirrahmānirrahīm hendaknya tidak hanya menjadi zikir harian para akademisi, tetapi juga menjadi ruh dalam setiap keputusan dan kebijakan pimpinan universitas.

Memasuki usia ke-65 tahun, UIN Malang diharapkan terus tumbuh menjadi kampus yang rukun, tenteram, menjunjung tinggi nilai moral dan spiritual, serta mampu menjadi teladan bagi pengembangan pendidikan tinggi Islam di Indonesia.

Reputasi internasional, menurut semangat refleksi tersebut, bukan semata-mata diukur dari capaian akademik, publikasi ilmiah, atau kemegahan infrastruktur.

Lebih dari itu, keberhasilan perguruan tinggi juga tercermin dari kemampuannya menghadirkan ilmu yang bermanfaat, membangun peradaban yang berkeadaban, dan menebarkan kasih sayang kepada seluruh alam.

Pada akhirnya, usia 65 tahun bukan sekadar penanda panjangnya perjalanan UIN Malang, melainkan momentum untuk memperteguh kembali jati diri.

Sebab, kampus yang besar bukan hanya kampus yang unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga kampus yang menjadikan nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan kasih sayang sebagai napas setiap pengabdiannya. ( Eno).