UIN Maliki Malang dan Muslimat NU Perkuat Ketahanan Keluarga, Jaga Nilai Luhur Bantengan
Malang | Serulingmedia.com – Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang berkolaborasi dengan Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Desa Tirtomoyo, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, memperkuat ketahanan keluarga dan pendidikan karakter generasi muda melalui pelestarian kesenian Bantengan.
Kolaborasi melalui program pengabdian masyarakat tersebut bertujuan menjaga Bantengan sebagai identitas budaya Malang Raya agar tetap berkembang sesuai nilai-nilai luhurnya serta memberikan kemaslahatan bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat UIN Maliki Malang, Miftahudin Azmi, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk implementasi tanggung jawab akademisi untuk hadir dan terlibat langsung dalam menyelesaikan persoalan masyarakat.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak cukup hanya menjalankan aktivitas pendidikan dan penelitian di lingkungan kampus. Akademisi juga harus mampu membangun komunikasi, mendengarkan aspirasi, serta membersamai masyarakat dalam mencari solusi atas berbagai persoalan sosial.
“Pengabdian ini merupakan implementasi bahwa akademisi kampus seharusnya bisa membersamai masyarakat, duduk bersama, dan menyelesaikan problem yang ada di tengah masyarakat,” ungkap Miftahudin Azmi.

Ia menjelaskan, salah satu perhatian utama dalam program tersebut adalah menjaga kesenian Bantengan agar tetap berada pada tujuan awal sebagai warisan budaya yang mengandung nilai seni, pencak silat, kebersamaan, dan gotong royong.
“Oleh sebab itu, pengabdian ini bertujuan agar budaya Bantengan sebagai identitas Malang Raya harus sesuai dengan tujuannya dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat, khususnya anak-anak muda,” tegasnya.
Menurut Miftahudin, pelestarian budaya perlu berjalan beriringan dengan pendidikan keluarga, pembentukan karakter, dan perlindungan anak. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya mengenal tradisi, tetapi juga memahami nilai positif yang terkandung di dalamnya.
Muslimat NU Dorong Penguatan Literasi Anak
Sementara itu, Ketua Muslimat NU Desa Tirtomoyo, Amila Idafitrianingsih, menyambut baik program pengabdian masyarakat yang dilaksanakan UIN Maliki Malang.
Ia menilai keterlibatan perguruan tinggi memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh edukasi dan pendampingan dalam menghadapi persoalan sosial, terutama berkaitan dengan pembinaan keluarga dan pelestarian budaya lokal.
Amila juga berharap kolaborasi tersebut dapat berlanjut dengan program pemberdayaan masyarakat lainnya.
Salah satu harapannya adalah tumbuhnya budaya akademik melalui kegiatan literasi bagi anak-anak di lingkungan Desa Tirtomoyo.
“Kami menyambut baik pengabdian dari UIN Malang. Kami bahkan menginginkan adanya budaya akademik berupa kegiatan literasi untuk anak-anak di sekitar desa, sehingga mereka memiliki kebiasaan membaca, wawasan yang lebih luas, dan semangat belajar,” harap Amila.
Harapan tersebut membuka peluang pengembangan kerja sama antara UIN Maliki Malang dan Muslimat NU, tidak hanya dalam pelestarian budaya, tetapi juga peningkatan kualitas pendidikan masyarakat melalui pembiasaan membaca sejak dini.
Bantengan Menghadapi Tantangan Perubahan Zaman
Desa Tirtomoyo, Kecamatan Pakis, merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Malang yang masih mengenal dan melestarikan kesenian Bantengan sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat Malang Raya.
Bantengan merupakan kesenian tradisional khas Malang Raya yang berkembang sejak lama. Sejumlah kajian sejarah mengaitkan akar kesenian tersebut dengan tradisi pencak silat yang berkembang sejak masa Kerajaan Singhasari.
Kesenian ini tidak sekadar menjadi hiburan rakyat, tetapi juga merepresentasikan identitas budaya, kebersamaan, dan semangat gotong royong masyarakat.
Namun, perkembangan zaman memunculkan kekhawatiran sebagian tokoh masyarakat, tokoh agama, dan organisasi perempuan terhadap pergeseran praktik Bantengan di sejumlah tempat.
Pertunjukan yang semula menonjolkan seni, budaya, dan pencak silat terkadang diwarnai atraksi berbahaya, kerumunan yang sulit dikendalikan, serta unsur trance atau kesurupan yang membutuhkan perhatian berbagai pihak.
Kondisi tersebut mendorong perlunya keterlibatan keluarga dalam membimbing anak-anak dan remaja agar mampu mencintai budaya lokal tanpa terjerumus pada perilaku negatif yang berpotensi membahayakan keselamatan maupun perkembangan moral mereka.
Perkuat Pendidikan Keluarga dan Karakter Generasi Muda
Melalui program pengabdian tersebut, Tim UIN Maliki Malang memberikan edukasi melalui seminar, diskusi kelompok, penyuluhan, dan pendampingan masyarakat.
Materi kegiatan mencakup pendidikan keluarga, perlindungan anak, pembentukan karakter generasi muda, serta pelestarian budaya berdasarkan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.
Dalam pelaksanaannya, Muslimat NU Desa Tirtomoyo menjadi mitra strategis yang mengorganisasi peserta, menggerakkan kader hingga tingkat ranting, serta menghubungkan tim pengabdian dengan keluarga-keluarga di lingkungan masyarakat.
Muslimat NU juga memperkuat pembinaan keluarga melalui pengajian rutin, majelis taklim, pendidikan Al-Qur’an, dan penyuluhan mengenai pentingnya menjaga pergaulan remaja.
Para ibu didorong mengambil peran sebagai pendidik pertama bagi anak-anaknya.
Keluarga diharapkan mampu memberikan pemahaman mengenai pentingnya memilih aktivitas budaya yang positif serta menghindari praktik yang berisiko terhadap keselamatan dan perkembangan moral anak.
Selain pembinaan keluarga, kolaborasi tersebut mendorong komunikasi antara tokoh agama, pemerintah desa, kelompok seni Bantengan, pemuda, dan lembaga pendidikan.
Sinergi berbagai unsur masyarakat itu diarahkan untuk merumuskan rekomendasi penyelenggaraan pertunjukan Bantengan yang lebih edukatif dan ramah anak. Unsur seni, pencak silat, gotong royong,
kedisiplinan, serta keselamatan pemain dan penonton menjadi perhatian utama.
Budaya Lestari, Generasi Muda Terlindungi
Kolaborasi UIN Maliki Malang dan Muslimat NU Desa Tirtomoyo bukan bertujuan menghilangkan tradisi Bantengan, melainkan memperkuat kembali nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
Pelestarian budaya diharapkan tidak berhenti pada keberlangsungan pertunjukan, tetapi juga mampu menghadirkan pendidikan karakter, memperkuat ketahanan keluarga, dan membangun kepedulian sosial.
Harapan Muslimat NU terhadap pengembangan literasi anak juga menjadi peluang untuk memperluas manfaat pengabdian perguruan tinggi bagi masyarakat.
Melalui sinergi akademisi, organisasi perempuan, keluarga, tokoh agama, pemerintah desa, dan komunitas seni, tradisi Bantengan diharapkan tetap menjadi kebanggaan Malang Raya.
Dengan demikian, pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan penguatan pendidikan, nilai keagamaan, dan perlindungan generasi muda sehingga warisan budaya tidak hanya bertahan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat.( Eno).
