Menag Nazaruddin Umar Tandai Maliki Pesantren Metric 2026 dengan Tabuh Gong

2114272_11zon

Malang | Serulingmedia.com— Menteri Agama (Menag) Nazaruddin Umar menandai pelaksanaan Maliki Pesantren Metric (MPM) 2026 dengan menabuh gong dalam rangkaian Lustrum ke-13 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Jumat (2/10/2026).

 

MPM merupakan sistem yang dikembangkan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang untuk melakukan pemetaan, pengukuran, rekognisi, pembandingan kinerja, dan pemeringkatan pesantren di Indonesia.

Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Prof. Dr. Ilfi Nur Diana, M.Si. mengatakan MPM memadukan rekognisi sejawat dengan penilaian kinerja kelembagaan berbasis data dan bukti yang dapat diverifikasi.

“MPM bukan akreditasi, mekanisme perizinan, pengganti pendataan resmi Kementerian Agama, ataupun instrumen administratif pemerintah,” kata Ilfi.

Menurutnya, MPM dirancang sebagai instrumen untuk memberikan ruang bagi pesantren melakukan refleksi terhadap pengelolaan kelembagaan sekaligus melihat praktik baik yang telah dijalankan.

Panduan MPM, lanjut Ilfi, disusun sebagai petunjuk praktis bagi pengasuh, pimpinan, pengelola, dan penanggung jawab atau PIC pesantren dalam mengikuti seluruh tahapan program.

Tahapan tersebut meliputi registrasi dan aktivasi akun, pengisian data dan kuesioner, penyampaian bukti, survei rekognisi sejawat, verifikasi, hingga pengumuman hasil.

“Dengan panduan ini, setiap peserta diharapkan dapat mengikuti proses secara tertib, mudah, dan sesuai dengan ketentuan,” ujarnya.

Ilfi mengajak pesantren di seluruh Indonesia berpartisipasi dalam Maliki Pesantren Metric Tahun 2026. Ia menegaskan, MPM tidak semata-mata ditujukan untuk menghasilkan pemeringkatan pesantren.

“Keikutsertaan ini tidak semata-mata ditujukan untuk memperoleh peringkat, tetapi juga menjadi sarana refleksi, dokumentasi praktik baik, penguatan tata kelola, pembelajaran bersama, dan peningkatan mutu secara berkelanjutan,” kata Ilfi.

Ia menyampaikan apresiasi kepada para pengasuh dan pengelola pesantren, akademisi, praktisi, tim penyusun, serta seluruh pihak yang mendukung pengembangan MPM.

“Semoga ikhtiar ini memperkuat mutu, reputasi, kolaborasi, dan kontribusi pesantren bagi agama, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan,” katanya.

Menag: Perguruan Tinggi Harus Melahirkan Ilmuwan

Dalam kesempatan yang sama, Menag Nazaruddin Umar menekankan bahwa keberhasilan perguruan tinggi tidak cukup diukur dari aspek input dan output.

 

Menurutnya, perguruan tinggi juga perlu melihat outcome dan impact dari proses pendidikan.

“Cara mengukur perguruan tinggi adalah lihat input, output, outcome, impact. Apakah anak-anak kita lahir sebagai seorang ilmuwan, intelektual, atau cendekiawan?” ujar Nazaruddin.

Ia mendorong UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menjadi kampus yang tidak hanya unggul dalam capaian akademik, tetapi juga memiliki keberkahan dalam proses pendidikan.

Nazaruddin menyebut konsep tersebut sebagai kampus mubarakah atau kampus yang diberkahi.

Ia menilai UIN Malang memiliki sejumlah modal untuk mewujudkan konsep tersebut, di antaranya keberadaan mahasiswa penghafal Al-Qur’an, pemberian pembiayaan pendidikan, serta beasiswa bagi mahasiswa luar negeri.

“Bagaimana menjadikan kampus ini kampus mubarakah. Tapi saya yakin betul, namanya saja Kampus Ar-Rahman, Kampus Iqra, kampus mana yang lebih berkah dari ini?” katanya.

Menurut Nazaruddin, keberkahan juga berkaitan dengan sinergi. Ia mengutip konsep al-barakatu fil jama’ah untuk menjelaskan bahwa keberkahan dapat lahir dari keberjamaahan dan sinergi.

“Di mana ada sinergi, di situ ada energi,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar lingkungan kampus dijaga sebagai ruang pendidikan yang positif. Sivitas akademika, kata dia, harus menghindari pikiran dan perilaku negatif dalam menjalankan aktivitas akademik.

“Kita masuk di dalam lingkungan UIN Malang ini, jangan ada pikiran negatif, jangan ada pikiran pornografi, jangan ada pikiran negatif macam-macam muncul. Ini adalah kampus mubarakah,” tegasnya.

Dorong UIN Malang Jadi Kampus Cinta
Nazaruddin juga mengajak UIN Malang mengembangkan pendidikan yang berorientasi pada nilai cinta dan kemanusiaan.

Ia menyebut Al-Qur’an memiliki pesan cinta yang luas dan berharap nilai tersebut menjadi bagian dari karakter kampus.

“Jadi, 6.666 ayat itu kalau dipadatkan menjadi hanya satu kata, maka kosakata itu adalah: cinta,” katanya.

Menurutnya, agama tidak seharusnya disampaikan dengan kebencian.

“Kalau ada orang bicara agama tetapi kebencian, itu bukan membicarakan agama, lawan agama yang dibicarakan. Maka dari itu, UIN Malang ini harus menjadi pelopor kampus cinta,” ujar Nazaruddin.

Ia juga menekankan pentingnya penguasaan bahasa dalam memahami kandungan Al-Qur’an. Menurutnya, kekayaan bahasa Arab dalam Al-Qur’an membutuhkan kemampuan kebahasaan yang kuat agar makna yang terkandung di dalamnya dapat dipahami secara mendalam.

Di bagian lain, Nazaruddin menegaskan bahwa keberkahan lembaga pendidikan tidak dapat diukur semata-mata dari kecanggihan fasilitas, teknologi, maupun pencapaian statistik.

“Keberkahan itu tidak berbanding lurus dengan kehebatan statistik, alat canggih, dan sebagainya. Tapi keberkahan itu bisa diperoleh langsung dari Allah SWT,” katanya.

Ia berharap UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dapat berkembang menjadi Al-Buq’atul Mubarakah, sebuah kampus yang memadukan keunggulan ilmu pengetahuan dengan nilai spiritual dan kemanusiaan.

“Kita bermimpi, mudah-mudahan mimpi itu menjadi kenyataan. Ini akan menjadi kampus Al-Buq’atul Mubarakah,” pungkasnya.

Pelaksanaan MPM 2026 menjadi bagian dari rangkaian Lustrum ke-13 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sekaligus menandai upaya kampus tersebut memperluas kontribusi dalam penguatan mutu dan tata kelola pesantren di Indonesia. ( Eno).