UIN Malang–Universiti Malaya Bedah Peran Guru di Tengah Gempuran AI
Malang | Serulingmedia.com – Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) mengubah wajah pendidikan.
Namun, teknologi tidak serta-merta menggeser posisi guru. Persoalan itu menjadi salah satu bahasan dalam International Collaborative Class antara Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FTIK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan Universiti Malaya.
Kelas kolaboratif tersebut berlangsung di Gedung Megawati, Kamis (24/9/2026). Sebanyak 44 mahasiswa Universiti Malaya yang mengikuti program outbound mobility di UIN Malang bergabung dalam pembelajaran bersama mahasiswa PAI.
Dosen PAI Faridatun Nikmah mengampu kelas melalui mata kuliah Etika Profesi Guru. Tema “Guru dan Transformasi Digital” menjadi pintu masuk untuk membahas masa depan profesi guru di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat.
Guru Bukan Sekadar Penyampai Materi
Di hadapan mahasiswa UIN Malang dan Universiti Malaya, Faridatun mengajak peserta melihat perubahan teknologi dari perspektif yang lebih luas.

Menurutnya, transformasi digital bukan semata-mata ancaman terhadap profesi guru, tetapi juga peluang untuk mengembangkan kompetensi dan menghadirkan inovasi pembelajaran.
“Transformasi digital bukan berarti menghilangkan peran guru. Justru guru dituntut semakin adaptif, kreatif, dan mampu memanfaatkan teknologi untuk memperkuat proses pembelajaran.” ungkap Faridatun.
Menurut Faridatun, kecanggihan teknologi tidak dapat menggantikan seluruh dimensi pendidikan.
Ada peran manusiawi yang tetap membutuhkan kehadiran guru, terutama dalam membangun karakter, memberikan keteladanan, membangun relasi dengan peserta didik, serta memberikan pendampingan secara personal.
Di tengah hadirnya AI yang mampu memberikan informasi dengan cepat, guru tidak cukup hanya berperan sebagai sumber pengetahuan.
Guru dituntut menjadi pendamping sekaligus pengarah agar peserta didik mampu menggunakan teknologi secara bijak, kritis, dan bertanggung jawab.
“Guru tetap memiliki posisi penting karena pendidikan bukan hanya tentang transfer pengetahuan, tetapi juga tentang karakter, keteladanan, relasi, dan pendampingan yang humanis.” lanjutnya.
Mahasiswa Indonesia-Malaysia Bertukar Perspektif
Suasana kelas berlangsung interaktif. Mahasiswa UIN Malang dan Universiti Malaya aktif menyampaikan pandangan serta pengalaman mengenai tantangan profesi guru di era digital.
Diskusi tidak hanya berkutat pada perkembangan teknologi, tetapi juga menyentuh persoalan bagaimana guru dapat beradaptasi tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan dalam proses pendidikan.
Kehadiran 44 mahasiswa Universiti Malaya dalam kelas tersebut memberikan warna tersendiri. Perbedaan latar belakang akademik dan pengalaman pendidikan menjadi bahan pertukaran perspektif antara mahasiswa Indonesia dan Malaysia.
Bagi PAI FTIK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, kelas kolaboratif ini bukan sekadar aktivitas perkuliahan. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pengalaman akademik mahasiswa dalam lingkungan internasional.
Ketika teknologi terus bergerak dan AI semakin dekat dengan ruang kelas, pertanyaan tentang masa depan guru menjadi semakin relevan.
International Collaborative Class UIN Malang–Universiti Malaya menunjukkan bahwa tantangan tersebut tidak cukup dijawab dengan teknologi, tetapi juga membutuhkan kemampuan manusia untuk mendidik, membimbing, dan membangun karakter.
Melalui kegiatan ini, PAI FTIK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang terus memperkuat internasionalisasi pembelajaran sekaligus membuka ruang kolaborasi akademik yang mempertemukan mahasiswa Indonesia dan mahasiswa internasional dalam suasana belajar yang inklusif dan berorientasi global.( Eno).
